Pertarungan Robot Humanoid Real Steel Jadi Kenyataan di China

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Acara tarung robot humanoid di Shenzhen China dengan robot T800 buatan EngineAI dalam ajang Ultimate Robot Knock-out Legend URKL
  • China sukses menggelar pertarungan robot humanoid di ring ala film Real Steel
  • Ajang bernama Ultimate Robot Knock-out Legend (URKL) digelar di Shenzhen
  • Robot EngineAI T800 setinggi 1,73 meter digunakan oleh semua peserta
  • 32 tim dari seluruh dunia berpartisipasi dalam kompetisi ini
  • Penilaian meliputi serangan efektif, stabilitas tubuh, kemampuan bertahan, dan durabilitas
  • CEO EngineAI Zhao Tongyang ingin mempromosikan tarung robot secara komersial
  • Aktor Donnie Yen hadir dan memberikan sambutan di acara tersebut

JBNews.id — Pertarungan robot humanoid di atas ring yang selama ini hanya ada dalam film fiksi ilmiah kini menjadi kenyataan. China sukses menggelar ajang tarung robot sungguhan yang meniru konsep film Real Steel (2011), menandai lompatan besar dalam industri robotika global.

Acara bertajuk Ultimate Robot Knock-out Legend (URKL) ini digelar di Shenzhen Nanshan Cultural and Sports Center pada Kamis malam pekan lalu. Diselenggarakan oleh EngineAI, perusahaan robotika asal Shenzhen, kompetisi ini mempertemukan berbagai robot humanoid dalam pertarungan sengit di atas ring.

Dalam pertarungan pembuka, dua robot humanoid—White Eagle (putih) dan Matador (hitam)—saling berhadapan. Suasana baku hantam berlangsung seru dan mendapat sorak sorai penonton. Robot putih keluar sebagai pemenang setelah kepala robot hitam putus akibat pukulan keras.

Robot T800: Petarung Andal dengan Teknologi Canggih

Semua robot dalam kompetisi URKL menggunakan tipe yang sama, yaitu EngineAI T800. Robot ini memiliki tinggi 1,73 meter dan mampu melakukan berbagai gerakan tempur seperti uppercut, tendangan putar, hingga bangkit kembali setelah jatuh. EngineAI mengklaim robot mereka memiliki kendali postur tubuh, persepsi dinamis, dan kemampuan menyerap benturan untuk bertarung dengan intensitas tinggi.

Kehadiran robot-robot ini menunjukkan kemajuan pesat teknologi robotika China. Sepuluh tahun lalu, pertarungan semacam ini masih dianggap sebagai imajinasi belaka dari film Real Steel yang dibintangi Hugh Jackman. Kini, 15 tahun setelah film tersebut dirilis, pertarungan robot di ring sudah menjadi kenyataan.

Aktor film Ip Man, Donnie Yen, yang hadir memberikan sambutan, mengaku kagum dengan pertunjukan tersebut. “Hari ini pertama kali saya menonton robot sungguhan bertarung. Menyaksikan langsung terobosan bersejarah, sungguh beda rasanya. Mesin dan gerakan yang presisi sangat luar biasa,” ujar Yen.

Kompetisi Global untuk Dorong Riset Robotika

CEO EngineAI, Zhao Tongyang, mengatakan bahwa acara ini bertujuan untuk mempromosikan tarung robot secara komersial sekaligus mendorong riset dan industrialisasi robotika. “Kami ingin memakai kompetisi ini untuk mendorong riset dan pengembangan industri. Acara ini jadi masukan untuk teknologi, dan teknologi akan menyetir industri,” kata Tongyang.

Sebanyak 32 tim dari seluruh dunia berpartisipasi dalam kompetisi ini. Semua tim menggunakan robot T800 yang identik, sehingga penilaian berfokus pada kemampuan pengendalian dan strategi. URKL menilai robot dari empat kategori: serangan efektif, stabilitas tubuh, kemampuan bertahan dan menghindar, serta durabilitas keseluruhan.

Kehadiran ajang URKL menandai babak baru dalam pengembangan robot humanoid. Tidak hanya sebagai demonstrasi teknologi, kompetisi ini juga membuka peluang komersialisasi robotika yang lebih luas. Dengan format pertarungan yang menghibur, URKL berpotensi menarik minat publik dan investor terhadap industri robotika.

Indonesia sendiri mulai menunjukkan ketertarikan pada perkembangan ini. Beberapa pihak menilai bahwa teknologi robot humanoid bisa diadopsi untuk berbagai keperluan, mulai dari industri hingga hiburan. Namun, regulasi dan kesiapan infrastruktur masih menjadi tantangan utama.

Perkembangan robotika yang pesat juga mendorong regulasi AI ketat di berbagai negara. Kekhawatiran akan dampak teknologi terhadap tenaga kerja dan keamanan menjadi isu yang terus dibahas. Beberapa perusahaan teknologi besar seperti Apple bahkan memberi peringatan ke mantan karyawan terkait kebocoran informasi.

Dengan semakin canggihnya robot humanoid, pertanyaan tentang etika dan regulasi penggunaan teknologi ini menjadi semakin relevan. URKL menjadi contoh bagaimana teknologi bisa dikembangkan secara terbuka dan kompetitif, namun tetap memerlukan pengawasan yang ketat.

Ke depannya, ajang seperti URKL diperkirakan akan semakin sering digelar. Potensi komersial dari pertarungan robot sangat besar, mengingat minat publik yang tinggi terhadap teknologi futuristik. China sebagai tuan rumah menunjukkan keseriusannya dalam memimpin industri robotika global.

Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa investasi di bidang riset dan pengembangan teknologi sangat penting. Tanpa dukungan yang memadai, Indonesia berpotensi tertinggal dalam persaingan global di sektor robotika dan kecerdasan buatan.

URKL membuktikan bahwa imajinasi manusia bisa menjadi kenyataan dalam waktu singkat. Dari film Real Steel yang dirilis 15 tahun lalu, kini pertarungan robot humanoid sudah bisa dinikmati secara langsung. Pertanyaannya, apa lagi yang akan terwujud dalam satu dekade ke depan?