Penjualan PS5 Anjlok Terburuk dalam 25 Tahun Akibat Harga Meroket

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
ā±ļø6 menit membaca
Bagikan:
Konsol PlayStation 5 dengan harga terbaru yang naik signifikan di Indonesia per Mei 2026
  • Penjualan PS5 anjlok 58% secara tahunan di pasar AS pada Mei 2026, terburuk dalam 25 tahun
  • Sony menaikkan harga PS5 sebesar USD 100-150, dengan PS5 Pro mencapai USD 899
  • Xbox Series S|X mengalami penurunan penjualan unit 12%, namun pendapatan naik 7% karena harga lebih mahal
  • Nintendo Switch 2 menjadi penyelamat pasar dengan penjualan 5,9 juta unit dalam tahun pertama
  • Krisis komponen memori akibat demam AI menjadi biang kerok kenaikan harga konsol
  • Peluncuran GTA 6 diprediksi akan mendorong permintaan konsol pada musim liburan

JBNews.id — Keputusan Sony dan Microsoft menaikkan harga konsol secara agresif berujung pada penurunan volume penjualan PlayStation 5 dan Xbox yang menjadi yang terburuk dalam 25 tahun terakhir di pasar Amerika Serikat. Data firma riset Circana menunjukkan Mei 2026 mencatat rekor penjualan unit PlayStation terendah sejak Mei 2000, beberapa bulan sebelum peluncuran PS2. Kondisi serupa juga dialami lini konsol Xbox yang mencatatkan bulan Mei terburuk sepanjang sejarah pencatatannya.

Ironisnya, di tengah anjloknya jumlah unit yang terjual, total belanja perangkat keras secara keseluruhan di industri game justru meningkat tajam sebesar 38%. Lonjakan ini sebagian besar diselamatkan oleh kenaikan harga itu sendiri serta laris manisnya konsol pendatang baru, Nintendo Switch 2. Fenomena anomali ini menunjukkan bahwa meski konsumen membeli lebih sedikit unit, pengeluaran mereka justru membengkak karena harga yang jauh lebih mahal.

Menurut laporan analis Circana, Mat Piscatella, penyebab utama lesunya pasar adalah kebijakan harga baru yang sangat agresif dari kedua raksasa konsol. Pada Maret lalu, Sony menaikkan harga lini PS5 secara global sebesar USD 100 hingga USD 150. Harga standar kini menjadi USD 549, sementara versi PS5 Pro menyentuh angka fantastis USD 899. Imbasnya, penjualan unit di bulan Mei anjlok 58% secara tahunan (Year-over-Year) dan total pendapatan dolar turun 43%.

Sementara itu, konsol Microsoft, Xbox Series S|X, telah mengalami dua kali kenaikan harga tahun lalu yang membuatnya nyaris setara dengan harga PS5. Parahnya lagi, Xbox diperkirakan akan menghadapi kenaikan harga ketiga pada Agustus mendatang, yang diprediksi menjadi kenaikan paling curam dengan tambahan USD 100 hingga USD 150. Kebijakan ini diperkirakan akan semakin memperburuk performa penjualan Xbox di kuartal-kuartal mendatang.

Meski volume penjualan unit Xbox menurun 12% secara tahunan, harga konsol yang jauh lebih mahal justru membuat total pengeluaran pelanggan untuk merek tersebut naik sebesar 7%. Artinya, konsumen yang tetap membeli Xbox harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan konsol yang sama. Situasi ini mencerminkan dinamika pasar yang tidak biasa di mana penurunan volume tidak selalu berarti penurunan pendapatan.

Biang Kerok: Demam AI Bikin Komponen Mahal

Tren kenaikan harga perangkat keras konsumen ini tidak terjadi tanpa alasan. Pembangunan fasilitas pusat data Kecerdasan Buatan (AI) yang masif di seluruh dunia telah menyedot dan mengganggu rantai pasok pasar penyimpanan dan RAM. Para pakar memprediksi bahwa situasi kelangkaan dan mahalnya komponen memori ini tidak akan membaik sebelum tahun 2028.

Bahkan, produsen memori terkemuka seperti Micron baru-baru ini memutuskan untuk membekukan harga kontrak mereka untuk lima tahun ke depan. Keputusan ini menunjukkan betapa parahnya tekanan pada rantai pasok komponen semikonduktor yang disebabkan oleh permintaan besar dari industri AI. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri game, tetapi juga oleh berbagai sektor elektronik konsumen lainnya.

Fenomena serupa juga terjadi di industri teknologi lainnya. Apple Naikkan Harga produk mereka karena tekanan biaya komponen yang dipicu oleh demam AI. Konsumen pun terbebani dengan harga yang semakin mahal untuk perangkat elektronik yang mereka butuhkan sehari-hari. Bahkan, Saham Apple Anjlok akibat kebijakan kenaikan harga MacBook dan iPad yang membuat konsumen menahan diri untuk membeli.

Anomali Pasar dan Kejayaan Switch 2

Ada fenomena anomali yang unik pada laporan bulan Mei 2026. Meski volume penjualan unit Xbox menurun 12% secara tahunan, harga konsol yang jauh lebih mahal justru membuat total pengeluaran pelanggan untuk merek tersebut naik sebesar 7%. Secara keseluruhan, total belanja hardware di pasar AS meroket hingga 38%. Sang penyelamat di balik angka hijau ini adalah Nintendo Switch 2.

Konsol portabel ini dengan cerdik menunda kenaikan harga USD 50-nya hingga September nanti, sehingga sukses menjadi opsi paling menarik bagi konsumen dan menutupi kelemahan para pesaingnya. Bulan Mei 2026 juga sekaligus menutup tahun pertama kiprah Nintendo Switch 2 di pasaran dengan total perkiraan penjualan mencapai 5,9 juta unit. Angka tersebut menobatkannya sebagai konsol portabel dengan rekor penjualan tercepat kedua dalam sejarah AS sejak pencatatan dimulai pada 1995, hanya kalah tipis dari sang legenda Game Boy Advance yang mencatatkan 6,5 juta unit.

Ke depannya, Piscatella memprediksi bahwa bulan Mei 2026 mungkin akan menjadi penanda tren kenaikan tahunan terakhir untuk belanja hardware dalam beberapa waktu ke depan. Ancaman harga yang terus mencekik kemungkinan besar akan membuat konsumen menahan diri untuk membeli konsol, setidaknya hingga musim liburan tiba ketika peluncuran Grand Theft Auto VI diprediksi akan meledakkan permintaan dan menguras pasokan pasar.

Menarik untuk dicermati bahwa Microsoft Naikkan Harga Xbox Series menjelang perilisan GTA 6. Langkah ini diambil di saat yang sama ketika para penggemar game justru menanti-nantikan peluncuran game paling dinanti tersebut. Keputusan ini tentu menimbulkan pertanyaan tentang strategi harga Microsoft di tengah pasar yang sedang tertekan.

Kenaikan harga yang terjadi di segmen konsol game ini menjadi cerminan dari tekanan inflasi yang meluas di industri teknologi. Krisis komponen yang dipicu oleh demam AI telah menciptakan efek domino yang sulit dihindari oleh para produsen. Konsumen pun harus merelakan budget lebih besar untuk mendapatkan perangkat gaming impian mereka.

Data dari Circana menunjukkan bahwa penurunan penjualan unit PlayStation 5 sebesar 58% secara tahunan merupakan angka yang sangat signifikan. Ini menunjukkan bahwa elastisitas harga di pasar konsol game sangat tinggi. Ketika harga naik terlalu tajam, konsumen cenderung menunda pembelian atau beralih ke opsi yang lebih terjangkau seperti Nintendo Switch 2.

Sementara itu, Xbox yang sudah mengalami dua kali kenaikan harga kini harus bersiap menghadapi kenaikan ketiga yang diprediksi menjadi yang paling curam. Jika kenaikan USD 100 hingga USD 150 benar-benar terjadi pada Agustus mendatang, harga Xbox Series X bisa mendekati atau bahkan melampaui harga PS5 Pro. Hal ini tentu akan semakin mempersulit posisi Microsoft di pasar konsol yang sudah sangat kompetitif.

Di sisi lain, Nintendo Switch 2 berhasil memanfaatkan celah di pasar dengan menunda kenaikan harga. Strategi ini terbukti efektif karena konsol tersebut mampu mencatatkan penjualan yang impresif. Dengan total 5,9 juta unit terjual dalam tahun pertama, Nintendo Switch 2 menjadi bukti bahwa konsumen masih memiliki minat besar terhadap konsol game, asalkan harganya masih terjangkau.

Krisis komponen memori yang dipicu oleh demam AI diperkirakan akan berlangsung hingga tahun 2028. Ini berarti tekanan pada harga konsol game tidak akan mereda dalam waktu dekat. Produsen seperti Sony dan Microsoft harus mencari cara untuk mengelola biaya produksi tanpa harus membebani konsumen dengan kenaikan harga yang terlalu drastis.

Keputusan Micron untuk membekukan harga kontrak selama lima tahun ke depan menunjukkan bahwa produsen memori juga merasakan tekanan yang luar biasa. Langkah ini diambil untuk memberikan kepastian bagi para pelanggan industri, termasuk Sony dan Microsoft, namun belum tentu cukup untuk menstabilkan harga di pasar ritel.

Peluncuran Grand Theft Auto VI yang dinanti-nantikan diperkirakan akan menjadi katalis yang mampu menggerakkan kembali pasar konsol game. Namun, jika harga konsol terus meroket, efek positif dari peluncuran game blockbuster ini mungkin tidak akan sebesar yang diharapkan. Konsumen mungkin akan lebih memilih untuk menunggu diskon atau promo sebelum memutuskan untuk membeli konsol baru.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa industri game sedang menghadapi tantangan struktural yang serius. Kenaikan harga komponen yang dipicu oleh demam AI tidak hanya mempengaruhi konsol game, tetapi juga seluruh ekosistem perangkat elektronik konsumen. Konsumen harus siap menghadapi era di mana harga perangkat teknologi akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Bagi para penggemar game yang ingin tetap mendapatkan pengalaman bermain terbaik tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam, opsi seperti Nintendo Switch 2 atau menunggu momen promosi mungkin menjadi pilihan yang paling bijak. Sementara itu, para analis akan terus memantau perkembangan pasar untuk melihat apakah tren penurunan penjualan ini akan berlanjut atau justru berbalik arah setelah musim liburan tiba.