JBNews.id — Seorang penulis lepas asal Stockholm, Ben Touati, mengalami pemecatan dari perusahaan media ClickOut Media pada awal 2026. Namun, yang lebih mengejutkan, namanya terus digunakan untuk menerbitkan artikel-artikel baru yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) tanpa sepengetahuannya.
Menurut laporan dari Press Gazette, Touati mendapati bahwa lima artikel berkualitas rendah muncul di bawah namanya hanya beberapa hari setelah ia dipecat. Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai sebuah “tamparan di wajah” dan menegaskan bahwa artikel-artikel itu jelas bukan hasil kerja manusia. “Lima artikel itu malas, jelas-jelas slop, jelas tidak ada orang sungguhan di baliknya,” ujar Touati dengan nada kesal.
ClickOut Media, perusahaan yang menaungi situs-situs seperti Techopedia, iGaming, dan Esports Insider, tidak secara langsung menjawab mengapa mereka menggunakan identitas mantan karyawan untuk konten AI. Dalam pernyataan resminya kepada Press Gazette, perusahaan itu hanya mengatakan, “Kami menggunakan konten berbantuan AI yang sesuai, berbarengan dengan pemeriksaan dan suntingan manusia. Kami terus mengembangkan agen AI kami agar lebih akurat dan meningkatkan proses editorial manusia kami.”
Kasus Touati ini bukanlah yang pertama bagi ClickOut Media. Sebelumnya, perusahaan itu menjadi pusat kontroversi setelah sebuah artikel di situs Videogamer ternyata ditulis oleh jurnalis AI palsu. Lebih jauh lagi, banyak artikel di situs-situs lain yang diakuisisi perusahaan tersebut juga menggunakan penulis fiktif, beberapa di antaranya bahkan dilengkapi dengan foto profil buatan AI. Praktik ini menunjukkan betapa agresifnya perusahaan-perusahaan penerbit online dalam mengadopsi AI, seringkali secara menipu.
Touati mulai bekerja dengan ClickOut Media pada awal tahun 2024. Selama masa kerjanya, ia dipindahkan di antara berbagai situs milik perusahaan, termasuk Techopedia, iGaming, dan Esports Insider. Ia mengaku sering mendapat tekanan dari manajer untuk menggunakan AI dalam menulis artikel. “Hampir mustahil untuk bertahan tanpa AI akhir-akhir ini,” begitu kata para manajer kepadanya. Bahkan, para karyawan diperlihatkan sebuah video tentang cara membuat dan “memanusiakan” artikel yang ditulis oleh AI. Touati memilih untuk tidak mengindahkan video tersebut, dengan mengatakan, “Saya hanya membiarkan video itu berjalan dan tidak memperhatikannya.”
Keputusan untuk memberhentikan Touati datang pada awal 2026. Manajernya mengatakan bahwa banyak pekerja lepas yang dipecat karena tidak ada cukup pekerjaan. Semua orang, menurut mereka, telah “meningkatkan” produktivitas mereka dengan AI. Touati kemudian diberitahu bahwa ia dipecat karena situs Esports Insider telah dide-indeks oleh Google. Namun, tak lama setelah itu, pada akhir Mei 2026, ia menemukan bahwa situs tersebut masih menerbitkan artikel atas namanya.
Untuk mengatasi masalah ini, Touati menggunakan Regulasi Perlindungan Data Umum (GDPR) Uni Eropa untuk mengajukan klaim terhadap ClickOut Media atas penyalahgunaan informasi pribadinya. Upayanya membuahkan hasil; perusahaan tersebut kemudian menghapus nama Touati dari artikel-artikel itu. Kini, artikel-artikel tersebut muncul dengan nama penulis yang berbeda.
Kasus ini menyoroti risiko besar dari penggunaan AI yang tidak etis di industri media, di mana identitas dan reputasi profesional seseorang dapat dieksploitasi tanpa izin. Perusahaan seperti ClickOut Media, yang terus “mengembangkan agen AI” mereka, menunjukkan bahwa tekanan untuk memproduksi konten secara massal seringkali mengabaikan standar etika dan hak-hak pekerja.
Bagi para pekerja lepas dan jurnalis, insiden ini menjadi pengingat keras akan perlunya perlindungan hukum yang kuat, seperti GDPR, untuk melindungi data dan nama baik mereka. Sementara itu, bagi industri secara keseluruhan, pertanyaan tentang akuntabilitas dan transparansi dalam penggunaan AI menjadi semakin mendesak untuk dijawab.
Perkembangan ini juga bertepatan dengan kekhawatiran yang lebih luas di industri teknologi, di mana beberapa perusahaan besar mulai kehilangan arah dalam inovasi AI. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Scott Hanselman mengungkapkan bahwa Microsoft kehilangan mojo AI, menunjukkan bahwa bahkan raksasa teknologi pun tidak luput dari tantangan dalam mengelola revolusi kecerdasan buatan.
Kasus Ben Touati bukanlah insiden yang terisolasi. Fenomena perusahaan yang menggunakan AI untuk menggantikan jurnalis manusia, bahkan memalsukan identitas mereka, menjadi tren yang mengkhawatirkan. ClickOut Media, dengan sejarah kontroversinya, menjadi contoh nyata bagaimana tekanan untuk memangkas biaya dan meningkatkan output dapat mendorong praktik-praktik yang merugikan dan tidak etis.
Praktik “pemanusiaan” artikel AI yang diajarkan kepada karyawan juga menjadi sorotan. Ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menyembunyikan asal-usul konten buatan AI dari pembaca. Tindakan ini tidak hanya menipu audiens tetapi juga merusak kredibilitas jurnalisme secara keseluruhan.
Langkah Touati untuk menggunakan GDPR sebagai alat hukum adalah sebuah terobosan. Regulasi tersebut, yang dirancang untuk melindungi data pribadi warga Uni Eropa, terbukti efektif dalam memaksa perusahaan untuk menghapus konten yang melanggar hak cipta dan identitas seseorang. Ini memberikan preseden hukum yang penting bagi pekerja lain yang mungkin mengalami situasi serupa.
Ke depannya, transparansi menjadi kunci. Pembaca berhak mengetahui apakah konten yang mereka konsumsi ditulis oleh manusia atau mesin. Perusahaan media yang gagal memberikan transparansi ini berisiko kehilangan kepercayaan publik, yang merupakan aset paling berharga dalam industri berita.
Selain itu, kasus ini juga membuka diskusi tentang masa depan pekerjaan di era AI. Ketika AI dapat menghasilkan konten dengan cepat dan murah, apa yang akan terjadi pada jurnalis dan penulis profesional? Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga pada nilai, etika, dan kualitas.
Bagi para pembaca, kejadian ini adalah pengingat untuk selalu waspada dan kritis terhadap sumber informasi. Verifikasi fakta dan mencari sumber-sumber yang terpercaya menjadi semakin penting di tengah banjirnya konten yang dihasilkan oleh AI. Dengan demikian, kasus Touati bukan hanya tentang seorang penulis yang kehilangan pekerjaannya, tetapi juga tentang krisis kepercayaan yang lebih besar di era digital.
Seperti yang diungkapkan oleh Touati, pengalamannya adalah sebuah “tamparan di wajah” bagi dunia jurnalisme. Tamparan ini, semoga, dapat membangunkan industri untuk bergerak menuju praktik yang lebih bertanggung jawab dan etis dalam penggunaan teknologi.
Baca Juga:




