JBNews.id — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa diperparah oleh keberadaan pusat data terbesar di benua tersebut yang berlokasi di Slough, Inggris. Warga sekitar melaporkan sensasi panas yang membakar kulit akibat pembuangan panas dari fasilitas tersebut, dengan suhu mencapai hampir 100 derajat Fahrenheit atau sekitar 37,8 derajat Celcius di area sekitarnya.
Berdasarkan laporan The Guardian yang dikutip JBNews.id, data stasiun cuaca mengonfirmasi bahwa suhu di dekat fasilitas tersebut beberapa derajat lebih tinggi dibandingkan area sekitarnya selama sepekan terakhir. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan warga yang tinggal di dekat pusat data tersebut.
Pusat data di Slough, yang berjarak sekitar 16 kilometer dari Bandara Heathrow London, menyediakan daya komputasi bagi beberapa perusahaan teknologi terbesar dunia, termasuk Amazon, Google, dan Microsoft. Untuk menjaga suhu server tetap dingin, fasilitas ini membutuhkan peralatan pendingin yang sangat boros energi, yang kemudian membuang panas ke lingkungan sekitar.
“Slough hampir seperti sebuah eksperimen tersendiri dalam arti bahwa investasi baru di pusat data menghidupkan generasi baru pusat data,” ujar Andrea Marinoni, associate professor dari Cambridge yang turut meneliti fenomena ini, kepada The Guardian.
Penelitian mengenai dampak pusat data terhadap lingkungan sekitarnya masih dalam tahap awal. Sebuah makalah yang belum melalui proses peer-review oleh peneliti dari Cambridge menemukan bahwa pusat data dapat meningkatkan suhu hingga 16 derajat Fahrenheit (sekitar 8,9 derajat Celcius) di area terdekatnya, dengan rata-rata peningkatan mencapai 3,6 derajat Fahrenheit (sekitar 2 derajat Celcius).
Fenomena ini disebut sebagai “efek pulau panas data” atau data heat island effect, yang mirip dengan efek pulau panas perkotaan di mana area terbangun mengalami suhu lebih tinggi akibat penggantian vegetasi alami dengan material penyerap panas seperti aspal dan beton. Pusat data yang mengeluarkan panas dapat memperburuk kondisi ini.
“Hasil kami menunjukkan bahwa efek pulau panas data dapat memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap komunitas dan kesejahteraan regional di masa depan, sehingga menjadi bagian dari percakapan seputar AI yang berkelanjutan secara lingkungan di seluruh dunia,” tulis para peneliti dalam makalah mereka, memperkirakan lebih dari 340 juta orang bisa terdampak.
Dalam konteks gelombang panas musim panas yang memecahkan rekor, fenomena ini menjadi pahit bagi publik yang sudah sangat waspada terhadap kemunculan pusat data di lingkungan mereka. Kritik terhadap tren ini semakin meningkat, dengan warga menyebutkan lonjakan harga listrik, tekanan air rendah, dan kebisingan sebagai alasan penolakan.
Pemerintah sebelumnya bahkan pernah menyarankan penggunaan panas berlebih dari pusat data untuk memanaskan ribuan rumah di musim dingin. Namun, dalam situasi gelombang panas ekstrem, solusi tersebut justru menjadi bumerang.
Marinoni menambahkan bahwa apa yang diukur saat ini adalah generasi pertama pusat data yang dibangun dalam 20 tahun terakhir. “Slough adalah konteks yang berbeda untuk peningkatan skala pusat data, dan ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.
Industri teknologi saat ini menginvestasikan ratusan miliar dolar untuk pembangunan pusat data baru di seluruh dunia. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang dampak lingkungan jangka panjang, terutama di tengah krisis iklim yang semakin parah.
Laporan PBB sebelumnya memperkirakan bahwa AI akan mengonsumsi air sebanyak satu miliar orang pada tahun 2030, menunjukkan betapa besarnya sumber daya yang dibutuhkan oleh infrastruktur digital modern.
Fenomena di Slough ini menjadi peringatan dini bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang juga mulai membangun pusat data dalam skala besar. Dampak terhadap komunitas lokal harus menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan pembangunan infrastruktur digital.
Baca Juga:
Para ahli memperingatkan bahwa tanpa regulasi yang tepat, pembangunan pusat data dapat menciptakan ketidakadilan lingkungan di mana komunitas sekitar harus menanggung beban panas berlebih sementara manfaatnya dinikmati oleh perusahaan teknologi besar.
Warga Slough menggambarkan pengalaman mereka tinggal di dekat pusat data sebagai sesuatu yang “mencubit tubuh dan membakar kulit,” menunjukkan betapa seriusnya dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sementara itu, perusahaan teknologi seperti Amazon, Google, dan Microsoft terus memperluas infrastruktur pusat data mereka untuk memenuhi permintaan komputasi awan dan AI yang terus meningkat. Namun, pendekatan saat ini dalam hal pendinginan dan pembuangan panas masih jauh dari sempurna.
Dalam konteks ini, desain data center yang lebih efisien menjadi krusial. Inovasi seperti yang dipamerkan Nvidia dengan konsumsi air nyaris nol bisa menjadi solusi untuk mengurangi dampak lingkungan.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap dampak pusat data juga memicu gerakan internal di perusahaan teknologi. Amazon misalnya, dilaporkan menginvestigasi karyawan yang mendukung moratorium pembangunan pusat data, menunjukkan sensitivitas isu ini di kalangan internal perusahaan.
Fenomena efek pulau panas data ini menjadi pengingat bahwa revolusi digital memiliki konsekuensi fisik yang nyata. Semakin besar ketergantungan kita pada komputasi awan dan AI, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi dalam mengelola dampak lingkungannya.
Bagi warga yang tinggal di sekitar pusat data, seperti di Slough, kenyataan pahit ini harus mereka hadapi setiap hari. Suhu yang lebih tinggi, tagihan listrik yang membengkak, dan kualitas hidup yang menurun menjadi harga yang harus dibayar untuk infrastruktur digital modern.
Para peneliti Cambridge menekankan bahwa temuan mereka hanyalah puncak gunung es. Dengan investasi triliunan dolar yang mengalir ke sektor ini, dampak sebenarnya mungkin baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.
“Yang kami ukur adalah apa yang bisa kami sebut sebagai generasi pertama pusat data yang diimplementasikan dalam 20 tahun terakhir,” kata Marinoni. “Slough adalah konteks yang berbeda untuk peningkatan skala pusat data, dan ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Implikasi dari temuan ini sangat jelas: pembangunan pusat data di masa depan harus mempertimbangkan dampak termal terhadap komunitas sekitar. Tanpa perencanaan yang matang, kita berisiko menciptakan kantong-kantong panas perkotaan baru yang merugikan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Bagi pembaca di Jawa Barat dan Banten, fenomena ini relevan mengingat semakin banyaknya investasi pusat data di wilayah tersebut. Regulasi yang ketat dan perencanaan tata ruang yang baik menjadi kunci untuk menghindari masalah serupa di masa depan.




