Infrastruktur NASA Picu Kekhawatiran Misi Artemis ke Bulan

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Konsep awal varian kargo sistem pendaratan manusia di Bulan dari penyedia NASA, SpaceX
  • Laporan OIG NASA mengungkap infrastruktur peluncuran sudah usang dan kurang kapasitas
  • Permintaan kendaraan peluncur super berat meningkat, namun lokasi landasan baru terbatas
  • Distribusi listrik dan infrastruktur bahan bakar perlu ditingkatkan untuk mencegah penundaan
  • SpaceX butuh 15 peluncuran Starship dalam 8 hari untuk misi Artemis 4 pada 2028
  • Blue Origin juga butuh kapasitas peluncuran untuk roksat New Glenn
  • Kondisi ini mengancam jadwal pendaratan astronot di Bulan sejak 1972

JBNews.id — Kantor Inspektur Jenderal (OIG) NASA melaporkan bahwa infrastruktur peluncuran badan antariksa tersebut sudah usang dan tidak mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat, mengancam jadwal misi Artemis 4 yang direncanakan mendaratkan astronot di Bulan pada 2028.

Temuan ini muncul di tengah persiapan SpaceX untuk meluncurkan roksat Starship guna mendukung program Artemis. Menurut laporan OIG, pertumbuhan jumlah peluncuran komersial telah memberikan tekanan besar pada landasan peluncuran di Kennedy Space Center, Florida, dan Wallops Flight Facility, Virginia.

“Infrastruktur peluncuran NASA sudah usang dan kurang kapasitas untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat dari badan antariksa dan mitra pemerintah maupun komersial,” demikian bunyi laporan OIG yang dikutip dari Futurism.

Permintaan Peluncuran Super Berat Meningkat

Laporan tersebut menyoroti bahwa “permintaan untuk kendaraan peluncur super berat” mendorong kebutuhan akan landasan peluncuran baru yang dapat mengakomodasi kendaraan tersebut. Namun, lokasi untuk landasan baru sangat terbatas dan membutuhkan waktu serta sumber daya yang ekstensif untuk dikembangkan.

Selain itu, distribusi tenaga listrik di fasilitas NASA “digunakan di luar umur desainnya dan perlu ditingkatkan.” Infrastruktur untuk komponen bahan bakar, seperti nitrogen dan helium, juga berpotensi “menyebabkan penundaan.” Bahkan, jalan-jalan di sekitar Kennedy “tidak dirancang untuk menampung volume, frekuensi, dan berat operasi transportasi berat modern.”

Anggaran yang menurun untuk pemeliharaan dan konstruksi semakin memperparah kondisi infrastruktur yang sudah tertinggal ini.

Untuk misi Artemis 4, SpaceX membutuhkan setidaknya 15 peluncuran Starship dalam waktu delapan hari untuk mengisi depot bahan bakar di orbit rendah Bumi. Bahan bakar itu kemudian harus ditransfer ke varian Human Landing System (HLS) Starship yang akan membawa astronot turun ke permukaan Bulan.

Ini adalah tantangan besar mengingat SpaceX belum pernah meluncurkan dan mendaratkan Starship dengan selamat secara penuh. Perusahaan Elon Musk itu baru mendapat persetujuan dari Federal Aviation Administration (FAA) untuk meluncurkan Starship dari kompleks 39A, tempat misi Apollo dan Space Shuttle diluncurkan sejak 1960-an.

Persaingan dengan Blue Origin

Kompleksitas bertambah dengan kehadiran Blue Origin milik Jeff Bezos, yang juga terpilih oleh NASA untuk mengembangkan pesawat ruang angkasa Human Landing System yang bersaing. Blue Origin membutuhkan banyak ruang dan kapasitas untuk meluncurkan roksat New Glenn yang kuat, semakin mempersulit situasi.

OIG mencatat dalam laporannya bahwa NASA dan mitra komersialnya perlu melakukan perubahan besar untuk memastikan program Artemis tetap berjalan sesuai rencana. Hal ini menjadi kekhawatiran serius mengingat pengembangan New Glenn dan Starship sudah mengalami banyak penundaan dan kegagalan uji coba peluncuran.

Kondisi infrastruktur yang sudah menua ini juga berdampak pada kemampuan NASA untuk mendukung misi-misi sains lainnya. Sebagai contoh, misi penyelamatan Teleskop Swift yang hampir jatuh menunjukkan betapa rapuhnya sistem pendukung misi antariksa saat ini.

Implikasi untuk Masa Depan Eksplorasi Bulan

Laporan OIG ini memberikan gambaran suram tentang kesiapan infrastruktur NASA dalam mendukung ambisi eksplorasi Bulan jangka panjang. Tanpa perbaikan signifikan pada landasan peluncuran, distribusi listrik, dan infrastruktur pendukung lainnya, jadwal Artemis 4 pada 2028 terancam mengalami penundaan lebih lanjut.

Para pengamat industri antariksa menilai bahwa masalah infrastruktur ini bisa menjadi hambatan yang lebih besar daripada tantangan teknis pengembangan roksat itu sendiri. “Kita berbicara tentang puluhan miliar dolar untuk program Artemis, tetapi infrastruktur dasarnya seperti jalan dan jaringan listrik justru diabaikan,” ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya.

SpaceX berencana memperluas kompleks 39A secara signifikan untuk roksat Starship-nya, termasuk penambahan struktur-struktur penting di atas landasan peluncuran seperti menara dan tangki bahan bakar. Namun, perluasan ini membutuhkan waktu dan investasi yang tidak sedikit.

Sementara itu, prestasi Perseverance yang menyelesaikan maraton di Mars menunjukkan bahwa NASA masih mampu mencapai hal-hal besar, namun infrastruktur di Bumi justru menjadi titik lemah yang perlu segera diatasi.

Bagi pembaca, artinya adalah bahwa eksplorasi Bulan yang ambisius ini mungkin akan memakan waktu lebih lama dan biaya lebih besar dari yang diperkirakan. Keterbatasan infrastruktur menjadi pengingat bahwa bahkan badan antariksa terbesar di dunia pun menghadapi tantangan logistik yang nyata di Bumi.

Dampak dari penghancuran ISS yang direncanakan NASA juga akan menambah beban pada infrastruktur yang sudah terbatas ini, karena sumber daya harus dialokasikan untuk berbagai proyek besar secara bersamaan.

Pada akhirnya, keberhasilan misi Artemis untuk mengembalikan manusia ke Bulan tidak hanya bergantung pada teknologi roksat canggih, tetapi juga pada fondasi infrastruktur yang kokoh di Bumi. Tanpa perbaikan signifikan, ambisi untuk kembali ke Bulan bisa tertunda lebih lama dari yang dibayangkan.

Konsep awal varian kargo sistem pendaratan manusia di Bulan dari penyedia NASA, SpaceX