OpenAI: Developer Masa Depan Tak Cukup Jago Ngoding

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi coding developer masa depan di era kecerdasan buatan
  • OpenAI menyatakan kemampuan coding saja tidak cukup bagi developer masa depan
  • Peran developer bergeser dari penulis kode menjadi perumus masalah dan pengarah AI
  • Hubungan developer-AI berkembang dari copilot menjadi collaborator
  • AI bukan pengganti developer, fondasi teknis tetap penting
  • Developer Indonesia didorong menjadi builder, bukan sekadar pengguna teknologi
  • Codex OpenAI mengalami ledakan pengguna di Indonesia, separuhnya bukan programmer
  • 7 karyawan OpenAI donasi ke PAC pro-regulasi AI

JBNews.id — Kemampuan menulis kode (coding) saja dinilai tidak lagi cukup bagi developer di era kecerdasan buatan (AI). OpenAI memprediksi peran software engineer akan bergeser dari sekadar membuat kode menjadi mampu merumuskan masalah, mengarahkan AI, hingga memastikan hasilnya aman dan siap digunakan.

Menurut Gabriel Chua, DX Engineer OpenAI, perkembangan AI kini telah memasuki fase baru. Jika sebelumnya AI lebih banyak berfungsi sebagai alat pelengkap penulisan kode (autocomplete), kini teknologi tersebut mulai mampu menerima tugas yang lebih kompleks dan menyelesaikannya secara mandiri.

“Pergeseran ini sebenarnya sudah berlangsung. Kita sedang beralih dari AI sebagai sekadar pengisi teks otomatis (autocomplete), menuju era AI yang mampu menerima tugas spesifik dan menuntaskannya,” ujar Gabriel kepada detikINET, Minggu (19/7/2026).

Perubahan tersebut, lanjutnya, turut menggeser nilai utama seorang developer. Ke depan, kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan akan menjadi pembeda, bukan sekadar seberapa cepat menulis kode. Gabriel menjelaskan, ketika agen AI semakin canggih, developer akan lebih banyak berperan dalam merumuskan masalah, menetapkan batasan, mengevaluasi berbagai konsekuensi (trade-off), serta memastikan aspek pengujian, keamanan, dan arsitektur perangkat lunak berjalan dengan baik.

“Developer yang andal tidak menerima hasil kerja AI begitu saja. Mereka tahu apa yang harus diminta, bagaimana memecah alur kerja, apa yang layak dibangun, dan kapan hasilnya siap diluncurkan,” katanya.

Gabriel Chua, DX Engineer, OpenAI

Ia melihat hubungan antara developer dan AI juga akan berubah. Jika sebelumnya AI berperan sebagai copilot yang membantu proses coding, ke depan AI akan menjadi collaborator atau rekan kerja yang mampu menangani sebagian pekerjaan teknis, tetapi tetap berada di bawah kendali manusia.

“Oleh karena itu, saya melihat hubungan ini pun berkembang: dari copilot, menjadi collaborator, tetapi tetap berada di bawah kendali penuh manusia,” ujarnya.

AI Tak Menggantikan Developer

Meski AI semakin mampu menghasilkan kode, OpenAI menegaskan teknologi tersebut bukan pengganti software engineer. Menurut Gabriel, developer tetap bertanggung jawab meninjau, menguji, serta memahami konsekuensi dari kode yang dihasilkan AI. Karena itu, fondasi teknis seperti memahami sistem, debugging, keamanan, data, dan arsitektur perangkat lunak masih menjadi keterampilan penting.

Di saat yang sama, developer juga dituntut mampu memberikan konteks kepada AI, mengevaluasi hasil pekerjaannya, serta menentukan kapan sebuah produk siap dirilis.

“Fondasi teknis tetap penting: memahami sistem, debugging, keamanan, data, arsitektur, dan cara kerja perangkat lunak. Namun, developer juga perlu mampu merumuskan masalah dengan jelas, memberikan konteks kepada agen AI, mengevaluasi hasil kerja teknologi tersebut, serta menentukan kapan produk siap diluncurkan,” jelas Gabriel.

Sekolah Coding Hacktiv8

Pesan untuk Developer Indonesia

Gabriel juga memberikan pesan kepada generasi developer Indonesia yang memulai karier di era AI. Ia mendorong mereka untuk menjadi builder, bukan sekadar pengguna teknologi. Menurutnya, cara terbaik mempersiapkan diri menghadapi era AI adalah dengan langsung membangun sesuatu menggunakan teknologi tersebut.

Ketika menemui hambatan, developer dapat memanfaatkan AI untuk membantu mengurai masalah dan menemukan langkah berikutnya.

“Bagi generasi developer Indonesia berikutnya, jadilah builder, bukan sekadar pengguna. Gunakan AI untuk membangun hal-hal kecil, menguji berbagai ide, dan tetaplah kreatif. Cara terbaik untuk bersiap menghadapi era AI adalah dengan ‘learning by doing’ dan langsung membangun sesuatu dengan teknologi ini,” pungkasnya.

Fenomena ini sejalan dengan pertumbuhan Codex OpenAI di Indonesia yang mengalami ledakan pengguna, di mana separuh penggunanya bukan programmer. Hal ini menunjukkan bahwa alat bantu AI kini digunakan oleh kalangan yang lebih luas, tidak terbatas pada pengembang perangkat lunak profesional.

Di sisi lain, isu regulasi AI juga semakin relevan. Sebanyak 7 karyawan OpenAI diketahui melakukan donasi ke PAC yang pro-regulasi AI, menandakan bahwa diskusi tentang tata kelola teknologi ini semakin mendesak di kalangan internal perusahaan.

Bagi developer Indonesia, pesan Gabriel Chua sangat jelas: era di mana hanya mengandalkan kemampuan coding sudah berakhir. Masa depan milik mereka yang mampu memadukan keterampilan teknis dengan pemikiran kritis, kreativitas, dan kemampuan mengarahkan AI untuk menghasilkan solusi yang bernilai.