Musk Kehilangan Status Triliuner Usai Saham SpaceX Anjlok

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
Elon Musk bereaksi saat konferensi pers bersama Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington DC, AS, 30 Mei 2025. Foto: REUTERS/Nathan Howard
  • Elon Musk kehilangan status triliuner setelah kekayaannya turun ke USD 957 miliar
  • Saham SpaceX anjlok lebih dari 30% dari puncak intraday USD 225 ke level USD 156
  • IPO SpaceX sempat mendorong valuasi perusahaan melampaui USD 2 triliun
  • SpaceX membukukan kerugian USD 4,9 miliar sepanjang 2025
  • Divisi AI SpaceX menghabiskan belanja modal USD 12,7 miliar
  • Periode lockup IPO akan berakhir, berpotensi menambah tekanan jual
  • Musk masih menjadi orang terkaya dunia dengan jarak USD 660 miliar dari Larry Page
  • Kepemilikan saham SpaceX bernilai USD 744 miliar, hampir 80% dari total kekayaan

JBNews.id — Gelar triliuner pertama di dunia yang diraih Elon Musk awal Juni 2026 hanya bertahan singkat. Kekayaan pendiri Tesla dan SpaceX itu kini kembali berada di bawah angka USD 1 triliun setelah harga saham SpaceX mengalami penurunan drastis lebih dari 30 persen dari puncaknya.

Berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index, kekayaan Musk saat ini tercatat sekitar USD 957 miliar atau setara Rp 15.600 triliun (kurs Rp 16.300 per dolar AS). Angka tersebut anjlok setelah saham SpaceX terperosok dalam aksi jual besar-besaran yang melanda sektor teknologi global.

Awal bulan ini, Musk sempat mencatatkan sejarah sebagai manusia pertama dengan kekayaan di atas USD 1 triliun. Pencapaian itu terjadi setelah IPO SpaceX yang sukses besar, mendorong valuasi perusahaan melampaui USD 2 triliun. Investor ritel berbondong-bondong membeli saham perusahaan roket tersebut, didorong optimisme terhadap berbagai proyek futuristis, mulai dari pusat data di luar angkasa hingga ambisi mengirim manusia ke Mars.

Namun euforia itu kini mulai mereda. Saham SpaceX ditutup di level sekitar USD 156 pada perdagangan Selasa (23/6/2026), turun lebih dari 30 persen dibandingkan puncak intraday USD 225 yang tercapai pada 16 Juni lalu. Meski demikian, harga tersebut masih sedikit lebih tinggi dibandingkan harga debut IPO di level USD 150 per saham.

Penurunan ini terjadi di tengah koreksi yang melanda sektor teknologi. Kekhawatiran terhadap potensi gelembung (bubble) industri kecerdasan buatan (AI) serta prospek kenaikan suku bunga membuat investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham-saham teknologi dengan valuasi tinggi. Sejumlah analis juga mulai mempertanyakan valuasi fantastis SpaceX yang dianggap terlalu tinggi dibandingkan kondisi fundamental perusahaan saat ini.

Sorotan semakin besar setelah dokumen IPO mengungkapkan bahwa SpaceX membukukan kerugian sebesar USD 4,9 miliar sepanjang 2025. Tak hanya itu, divisi AI milik SpaceX disebut menghabiskan belanja modal hingga USD 12,7 miliar, sehingga memicu kekhawatiran soal kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek.

Dalam konteks ini, kritik terhadap proyek AI Musk juga semakin mengemuka. Sebelumnya, Bapak AI Sindir xAI yang dinilai gagal memenuhi ekspektasi pasar, menambah tekanan pada portofolio teknologi Musk secara keseluruhan.

Tantangan berikutnya datang dari berakhirnya periode lockup IPO dalam beberapa bulan mendatang. Momen tersebut akan memungkinkan investor awal dan karyawan menjual saham mereka ke pasar, yang berpotensi menambah tekanan terhadap harga saham.

Meski demikian, SpaceX masih menjadi aset terbesar Musk. Kepemilikan sahamnya di perusahaan tersebut diperkirakan bernilai sekitar USD 744 miliar atau hampir 80 persen dari total kekayaannya. Sementara kepemilikannya di Tesla juga ikut tergerus koreksi pasar dan kini bernilai sekitar USD 158 miliar.

Dalam sejarah bisnisnya, tantangan finansial bukanlah hal baru bagi Musk. Sebuah analisis sebelumnya mengungkapkan bahwa tanpa bantuan pemerintah AS, Musk kemungkinan besar sudah bangkrut di masa lalu, menunjukkan betapa besarnya ketergantungan perusahaannya pada kebijakan dan kontrak negara.

Walau kehilangan status triliuner, posisi Musk sebagai orang terkaya di dunia masih sangat aman. Jarak kekayaannya dengan pesaing terdekat, Larry Page, masih mencapai sekitar USD 660 miliar. Sebagai gambaran, selisih tersebut bahkan lebih besar dari dua kali total kekayaan Jeff Bezos.

Dengan kata lain, meski turun dari level triliuner, Musk masih berada jauh di depan para miliarder lainnya dalam daftar orang terkaya dunia.

Koreksi ini juga menjadi pengingat akan volatilitas tinggi yang melekat pada saham perusahaan dengan valuasi besar. Prospek kenaikan suku bunga dan potensi bursting bubble di sektor AI menjadi faktor utama yang terus dipantau investor dalam beberapa pekan ke depan.

Di sisi lain, visi jangka panjang Musk, termasuk ambisi kolonialisasi Mars dan proyek Starlink, masih menjadi daya tarik utama bagi investor yang percaya pada potensi disruptif perusahaan. Namun, fundamental bisnis yang masih merugi menjadi beban yang tak bisa diabaikan.

Untuk pembaca yang ingin memahami lebih dalam tentang pandangan ekonomi Musk, artikel tentang ramalan Elon Musk mengenai masa depan uang memberikan perspektif menarik tentang bagaimana ia memandang nilai dan aset di era teknologi.