Microsoft Quantum Dihadang Skeptisisme Ilmuwan

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi komputer kuantum Microsoft dengan partikel Majorana dan qubit
  • Microsoft klaim temukan partikel Majorana untuk komputer kuantum, direspons skeptis oleh ilmuwan karena data dianggap tidak meyakinkan
  • Zulfi Alam, VP quantum Microsoft, menolak membagikan data mentah dengan alasan sensitivitas komersial dan proses publikasi terlalu lambat
  • Microsoft pernah menarik makalah dari Nature pada 2021 setelah masalah analisis data ditemukan fisikawan independen
  • Perusahaan targetkan komputer kuantum berguna secara komersial pada 2029
  • Trevor Lanting dari D-Wave menilai penolakan tinjauan sejawat menandakan hasil riset tidak kuat
  • Alam berencana membuktikan teknologi lewat mesin yang berfungsi, bukan publikasi ilmiah

JBNews.id — Microsoft kembali menjadi pusat perdebatan di dunia sains setelah klaim perusahaan soal penemuan partikel Majorana untuk komputer kuantum mendapat skeptisisme luas dari para ilmuwan. Zulfi Alam, corporate vice president quantum Microsoft, menegaskan pihaknya tidak terganggu oleh keraguan tersebut dan memilih fokus pada target membangun komputer kuantum yang berguna pada 2029.

Klaim yang dibuat tahun lalu oleh tim Alam soal berhasil membelah elektron menjadi apa yang disebut quasiparticles Majorana mendapat respons dingin dari komunitas ilmiah. Para peneliti menilai data dalam makalah riset Microsoft tidak meyakinkan dan banyak hasil yang belum melalui tinjauan sejawat (peer-review). Namun Alam menanggapi dengan santai, “Saya tidak terlalu peduli.”

Microsoft merupakan salah satu raksasa teknologi yang berlomba membangun komputer kuantum komersial bersama sejumlah perusahaan rintisan. Tujuannya menciptakan mesin yang mampu memecahkan masalah yang mustahil dikerjakan komputer klasik, mulai dari pengembangan obat hingga pertahanan. Teknologi ini memanfaatkan mekanika kuantum untuk memproses unit informasi—dikenal sebagai bit—dengan cara yang fundamental berbeda. Ada pula kekhawatiran komputer kuantum akan digunakan untuk memecahkan enkripsi.

Berbagai perusahaan mengambil pendekatan berbeda untuk membangun qubit—singkatan dari quantum bits—termasuk menggunakan atom netral, atom bermuatan, dan cahaya. Pendekatan Microsoft secara teoretis menjanjikan, tetapi partikel Majorana yang pertama kali dihipotesiskan hampir 90 tahun lalu terbukti sulit ditemukan. Proyek riset terlama Microsoft ini juga dihantui kontroversi.

Kronologi Kontroversi dan Skeptisisme

Pengumuman terobosan tahun lalu langsung disambut kecurigaan intens dari para ilmuwan. Mereka tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa fenomena fisika lain yang mendorong sinyal yang digunakan Microsoft untuk menarik kesimpulan tersebut. Ini bukan pertama kalinya Microsoft menghadapi masalah serupa.

Pada 2021, Microsoft menarik makalah riset komputer kuantum dari jurnal Nature yang mengklaim menemukan bukti partikel Majorana setelah fisikawan independen menunjukkan masalah dalam analisis data. Pada Juni lalu, perusahaan perangkat lunak ini mengumumkan telah memproduksi qubit yang 1.000 kali lebih andal dibanding pendahulunya, menggunakan agen AI penemuan ilmiah Microsoft. Namun para ilmuwan masih mempertanyakan pekerjaan Majorana yang mendasari terobosan tersebut karena Microsoft menolak membagikan data mentah di balik hasil risetnya.

“Kenapa saya harus?” tanya Alam secara retoris. Ia menunjuk pada sensitivitas komersial pekerjaannya yang menurutnya membuat tim tidak bisa mempublikasikan data granular yang diminta para ilmuwan. Alam juga mengeluh proses publikasi terlalu lambat, menunjuk makalah yang diterbitkan Nature pada Juni berdasarkan pekerjaan yang dilakukan dua tahun sebelumnya.

“Dunia telah berubah dalam dua tahun, jadi gagasan tentang tinjauan sejawat dan publikasi tidak berfungsi di dunia yang bergerak cepat saat ini,” kata Alam, sambil mencatat ia percaya tidak ada cukup ahli untuk mempercepat proses tersebut. “Itulah mengapa urusan makalah ini agak membosankan sekarang.”

Para ilmuwan tidak puas dengan penjelasan itu. “Bidang ini sedang berkembang, ada banyak ahli di luar perusahaan-perusahaan ini yang mampu menilai klaim dan karya ilmiah secara andal,” ujar fisikawan Trevor Lanting, chief development officer di D-Wave Quantum yang terdaftar di Nasdaq, yang juga pernah menghadapi tuduhan melebih-lebihkan klaim.

Evaluasi klaim oleh sains merupakan “bagian dari proses sehat untuk benar-benar membangun fondasi ilmiah dan teknis teknologi,” tambah Lanting. “Jadi ketika perusahaan atau kelompok mengatakan tidak punya waktu, saya membacanya sebagai ‘hasil kami tidak cukup kuat untuk bertahan terhadap pengawasan itu’.”

Strategi Microsoft dan Dampaknya

Alam tetap tidak merasa perlu membuktikan pekerjaannya—yang ia sempat gambar diagramnya di buku catatan pewawancara—kepada siapa pun. Sebaliknya, ia berencana memenangkan hati akademisi dengan mesin yang berfungsi. Microsoft telah menyatakan mampu menciptakan komputer kuantum yang berguna pada 2029.

Umpan balik dari komunitas ilmiah justru “memotivasi kami untuk bergerak lebih cepat,” kata Alam, “karena misi kami hitam-putih: Bangun mesin ini dan biarkan mesin bekerja.”

Perdebatan ini menyoroti ketegangan antara kecepatan inovasi industri dan standar verifikasi ilmiah. Di satu sisi, perusahaan teknologi berlomba mencapai tonggak komputasi kuantum yang bisa mengubah lanskap industri. Di sisi lain, komunitas ilmiah menuntut transparansi data untuk memastikan klaim besar tidak keliru.

Bagi industri, hasil riset ini menentukan arah investasi miliaran dolar. Bagi akademisi, ini soal integritas fondasi ilmiah teknologi masa depan. Sementara Microsoft memilih jalur pembuktian lewat produk jadi, para ilmuwan mengingatkan bahwa sains yang sehat membutuhkan pengawasan independen.

Ketegangan antara Microsoft dan komunitas ilmiah ini juga terjadi di tengah berbagai langkah strategis perusahaan. Raksasa teknologi ini terus mengembangkan ekosistem produknya, termasuk rencana Super App AI yang menggabungkan Copilot dan GitHub. Di sisi lain, Microsoft juga menghadapi tantangan di lini bisnis lain seperti pendapatan Xbox yang anjlok dan masalah akses game disk pada konsolnya.

Keputusan Microsoft untuk tidak membagikan data mentah riset kuantumnya menciptakan preseden menarik. Perusahaan mengutip sensitivitas komersial dan kecepatan inovasi sebagai alasan. Namun para kritikus melihatnya sebagai kelemahan hasil riset yang tidak mampu bertahan di bawah pengawasan ketat.

Komputer kuantum yang berguna secara komersial diprediksi akan mengubah banyak industri. Kemampuan memproses informasi secara paralel dalam skala kuantum bisa mempercepat penemuan obat, optimasi logistik, hingga simulasi material baru. Ini menjelaskan mengapa taruhan Microsoft sangat tinggi dan mengapa komunitas ilmiah begitu ketat dalam mengevaluasi klaimnya.

Posisi Microsoft yang menolak tinjauan sejawat juga berimplikasi pada standar industri. Jika perusahaan sebesar Microsoft berhasil membuktikan teknologinya tanpa publikasi ilmiah konvensional, ini bisa mengubah cara riset teknologi dinilai. Sebaliknya, jika gagal, ini akan menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya transparansi ilmiah.

Para pengamat industri mencatat bahwa pendekatan Microsoft berbeda dari pesaingnya. Beberapa perusahaan memilih bekerja sama erat dengan akademisi dan mempublikasikan hasil riset secara terbuka. Microsoft justru memilih jalur tertutup dengan alasan kecepatan dan keunggulan kompetitif.

Keputusan Microsoft untuk membuktikan diri lewat produk jadi pada 2029 akan menjadi ujian besar. Jika berhasil, skeptisisme para ilmuwan akan terbukti keliru. Jika gagal, ini akan menjadi salah satu kasus paling kontroversial dalam sejarah riset teknologi. Terlepas dari hasilnya, perdebatan ini telah menyoroti pertanyaan mendasar: seberapa besar kepercayaan yang layak diberikan pada klaim perusahaan teknologi tanpa verifikasi independen?

Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan Microsoft, isu ini menarik karena menyangkut kredibilitas perusahaan di bidang teknologi masa depan. Sebelumnya, CEO Microsoft juga sempat memperingatkan risiko AI yang bisa menghancurkan perusahaan. Kini, pendekatan kontroversial di bidang kuantum menambah daftar tantangan yang dihadapi raksasa teknologi ini.

Pada akhirnya, pertaruhan Microsoft pada komputasi kuantum bukan hanya soal teknologi. Ini tentang kepercayaan—antara perusahaan dan komunitas ilmiah, antara inovasi dan verifikasi, antara kecepatan dan ketelitian. Alam dan timnya telah memilih jalur mereka. Dunia akan menilai hasilnya pada 2029.