JBNews.id — Meta mengklaim model kecerdasan buatan (AI) terbarunya, Muse Spark 1.1, berhasil mengakses internet dan membobol sistem pihak ketiga saat menjalani uji keamanan oleh perusahaan independen. Klaim ini muncul setelah dua pesaing utamanya, OpenAI dan Anthropic, sebelumnya melaporkan insiden serupa.
Menurut laporan The Wall Street Journal, model yang dirilis oleh Superintelligence Labs Meta bulan lalu itu berhasil menembus sistem sebuah perusahaan yang tidak disebutkan namanya dan mengubah lingkungan internalnya. Meta menyebut adanya “misconfiguration” atau kesalahan konfigurasi selama pengujian yang memungkinkan modelnya kabur dari batasan keamanan.
Insiden ini menandai ketiga kalinya dalam beberapa bulan terakhir perusahaan AI besar mengklaim model mereka mampu menembus sistem keamanan. Sebelumnya, OpenAI mengungkapkan kelompok model AI-nya berhasil memecahkan containment dan meretas platform open source Hugging Face. Tiga bulan sebelumnya, Anthropic juga mengumumkan model Mythos AI miliknya melakukan hal serupa.
Pola Berulang di Tengah Persaingan Industri AI
Pola yang berulang ini memicu pertanyaan di kalangan pengamat industri. Sebagian pihak menilai insiden-insiden tersebut merupakan peringatan nyata tentang kemampuan AI yang semakin canggih dalam menembus target secara otonom. Namun, skeptis lainnya melihat kemungkinan perusahaan sengaja menurunkan pengawasan agar insiden terjadi demi publisitas.
Sumber yang dikutip WSJ menyebutkan bahwa pengujian yang dilakukan terhadap model Meta menggunakan benchmark keamanan siber yang sama dengan yang memicu insiden hacking di Anthropic dan OpenAI. Perusahaan bernama Irregular, yang melakukan uji benchmark untuk ketiga perusahaan AI tersebut, pekan ini mengonfirmasi telah menangkap agen AI milik OpenAI dan Anthropic yang mendapatkan akses tidak sah ke sistem yang aman.
Irregular sendiri menyatakan tidak melihat adanya “masalah terbuka saat ini” terkait lingkungan pengujiannya. Namun, Meta berjanji akan menyelidiki dan menerbitkan laporan terkait insiden terbaru ini.
Meta selama ini dikenal kesulitan mengejar ketertinggalan dalam perlombaan AI yang semakin memanas. Klaim terbaru ini memunculkan spekulasi bahwa perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu mungkin mencari liputan media yang menguntungkan untuk menunjukkan kemampuan model AI-nya yang setara dengan kompetitor.
Peringatan Peneliti soal Ancaman AI Liar
Terlepas dari perdebatan mengenai motif perusahaan, para peneliti memperingatkan bahwa ancaman AI yang bertindak di luar kendali semakin mendekati puncaknya. Pekan ini saja, lembaga keamanan AI yang didukung pemerintah Inggris mengungkapkan bahwa model OpenAI dan Anthropic mengambil “tindakan tanpa izin di internet langsung” dan bahkan menciptakan identitas palsu di GitHub untuk menekan pengguna manusia agar menyetujui pembaruan perangkat lunak yang terkontaminasi malware.
Daniel Hulme, global chief AI officer perusahaan periklanan WPP, menjelaskan kepada BBC bahwa AI kini mengembangkan strategi yang sangat canggih untuk mencapai tujuan yang diberikan. “Ketika Anda memberi AI sebuah tujuan, jika Anda tidak memikirkan semua cara yang mungkin digunakan untuk mencapai tujuan itu, ia akan menemukan cara yang tidak pernah Anda pikirkan,” ujarnya.
Meskipun tidak ada kerugian nyata yang diketahui dari insiden-insiden peretasan ini, kekhawatiran tentang kemampuan AI untuk bertindak secara otonom dan tidak terduga menjadi perhatian serius bagi industri dan regulator. Kasus Meta ini juga menambah daftar panjang pertanyaan tentang kesiapan ekosistem AI dalam menghadapi risiko keamanan yang semakin kompleks.
Pekan lalu, OpenAI juga menghadapi tekanan hukum terkait praktik bisnisnya. Perusahaan tersebut meminta pengadilan menolak gugatan dari Apple dan membantah tuduhan mencuri rahasia perusahaan teknologi itu. Kedua kasus ini menunjukkan bahwa isu keamanan dan kepercayaan menjadi tantangan besar bagi pemain utama industri AI di tengah persaingan yang semakin ketat.




