JBNews.id — Industri teknologi Silicon Valley telah menghabiskan miliaran dolar untuk mengembangkan AI agent, namun data menunjukkan produk tersebut belum menarik minat masyarakat umum. Josh Miller, CEO The Browser Company, menyoroti kesenjangan besar antara antusiasme industri dan adopsi nyata di lapangan melalui unggahan viral di platform X pekan ini.
Dalam unggahannya, Miller menulis bahwa secara teori teknologi AI agent sudah siap mengubah cara kerja dan kehidupan manusia, tetapi publik umum tidak peduli. Pernyataan ini mendapat resonansi luas di kalangan Silicon Valley yang bingung mengapa obsesi terbaru mereka tidak direspons oleh masyarakat.
Data Adopsi AI Agent Masih Minim
Angka adopsi AI agent menunjukkan gambaran yang kontras dengan besarnya investasi industri. OpenAI melaporkan bahwa produk Codex dan ChatGPT Work mereka secara kolektif memiliki sekitar 10 juta pengguna mingguan. Sementara itu, sumber internal Anthropic mengungkapkan bahwa Claude Code dan Cowork mengalami tingkat adopsi serupa.
Angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan chatbot konvensional. ChatGPT dan Gemini masing-masing memiliki sekitar satu miliar pengguna aktif bulanan. Dengan perbandingan tersebut, jumlah pengguna AI agent praktis hanya “pembulatan kesalahan” atau rounding error.
Kondisi ini menjadi masalah serius bagi laboratorium AI. Mayoritas konsumen saat ini menggunakan generative AI untuk tugas-tugas sederhana seperti mencari informasi dan mengobrol. Padahal, Silicon Valley telah menginvestasikan miliaran dolar untuk melatih model yang mampu melakukan tugas jauh lebih kompleks. AI agent seharusnya menjadi cara untuk mengkapitalisasi investasi tersebut, tetapi hanya jika masyarakat benar-benar menggunakannya.
Kritik Terhadap Pendekatan Industri
Miller menegaskan bahwa ia belum pernah mendengar satu pun orang di luar komunitas teknologi membicarakan AI agent yang mereka gunakan. Ia mengaku menulis unggahan tersebut saat setengah tertidur dalam perjalanan keluarga di Eropa, namun ia berdiri di belakang pernyataannya.
“Saya belum pernah mendengar satu orang pun di luar komunitas teknologi membicarakan agent yang mereka gunakan,” kata Miller dalam wawancara pada Rabu. “Sesemangat dan seoptimis apa pun kita sebagai industri terhadap perbatasan dan perbaikan diri yang rekursif, ada baiknya berhenti sejenak dan berkata, ‘Hah, apa?'”
Argumen Miller bukan sekadar soal AI agent yang belum populer. Ia berpendapat bahwa AI agent lebih merupakan teknologi daripada produk mandiri. “Tidak ada yang menginginkan AI agent, karena AI agent bukanlah sebuah benda. Itu adalah kerangka yang diciptakan oleh industri kita untuk merujuk pada sesuatu secara kolektif,” ujarnya.
Miller menyarankan pendekatan yang berbeda: fokus pada pembuatan produk yang membuat pengguna tenang, fokus, dan masuk dalam alur kerja saat membuka laptop. Fakta bahwa hal itu dimungkinkan oleh teknologi bernama “harness” yang memanggil berbagai alat seharusnya tidak perlu diketahui pengguna.
Pengalaman Langsung The Browser Company
Miller memiliki pengalaman langsung untuk mendukung klaimnya. Fitur paling populer yang pernah dibuat The Browser Company adalah briefing pagi yang dipersonalisasi untuk pengguna browser bertenaga AI mereka, Dia. Saat pengguna membuka laptop, mereka menerima halaman beranda dengan sapaan, daftar tugas harian yang diisi dari kalender dan email, serta berbagai informasi acak yang dirancang untuk memicu kegembiraan seperti karya seni.
Secara teknis, fitur tersebut hanya dapat diwujudkan berkat AI agent. Namun, pengguna tidak perlu mengetahui hal itu. Pendekatan ini menunjukkan bahwa teknologi canggih harus menjadi fondasi yang tak terlihat, bukan produk yang dipamerkan.
Argumen Miller memang datang dari seseorang yang menjual browser web bertenaga AI, sehingga ada kepentingan bisnis di baliknya. Namun, analisisnya tentang produk agentic saat ini patut diperhatikan. Perusahaan teknologi cenderung mengirimkan kemampuan paling mengesankan dari model mereka, seperti menavigasi situs web atau menulis kode, daripada menciptakan produk yang disesuaikan dengan keinginan pelanggan.
Kemampuan tersebut mungkin akan menjadi fitur hebat suatu hari nanti, tetapi saat ini terasa lebih seperti demo daripada solusi nyata. Miller menyalahkan masalah ini pada groupthink di industri AI. Banyak orang yang membangun teknologi ini sangat terobsesi dengannya dan sering memiliki visi fiksi ilmiah tertentu tentang bagaimana produk seharusnya tampak dan terasa.
Visi yang Terlalu Seragam
Musim panas lalu, ketika The Browser Company sedang menjajaki akuisisi, Miller mengaku bertemu dengan banyak pemimpin laboratorium AI terkemuka. Pengalaman itu memberinya wawasan menarik tentang cara berpikir industri.
“Sungguh mengejutkan bagi saya. Saya pikir setiap laboratorium kecuali satu menyebut film Her sebagai cara mereka mengartikulasikan visi mereka,” kata Miller merujuk pada film tahun 2013 karya Spike Jonze. “Saya sangat menghormati siapa pun yang berkata, ‘Hei, ini arah yang menurut saya harus dituju dunia, dan saya akan ke sana.’ Tetapi menurut saya ada kekurangan keragaman pendapat dan keyakinan.”
Tren terbaru AI agent adalah memberi orang kekuatan untuk membangun perangkat lunak pribadi guna mengotomatisasi sebagian kehidupan mereka, seperti membuat pitch deck, mengorganisasi dataset, dan tugas-tugas lainnya. Namun, jumlah orang yang tertarik membangun alat produktivitas sendiri sangat terbatas. Industri membutuhkan ide-ide yang lebih besar jika ingin mencapai adopsi arus utama.
Miller berharap pesannya menjangkau lebih dari sekadar OpenAI dan Anthropic, dan beresonansi dengan para pendiri serta pembangun produk secara luas. Tujuannya adalah mendorong orang untuk berpikir di luar kotak tentang bagaimana produk AI agent seharusnya terlihat, kemudian mewujudkan visi tersebut.
“Mari kita tidak menerima narasi AI agent ini begitu saja dan benar-benar mempertanyakan produk dan alat apa yang baik, menyenangkan, berguna, dan mudah didekati,” kata Miller. “Siapa yang peduli jika itu terlihat seperti AI agent? Tidak ada yang menggunakan AI agent.”
Pernyataan Miller muncul di tengah kekhawatiran yang lebih luas di kalangan insider AI bahwa meskipun sumber daya besar telah dikucurkan untuk membangun AI agent, belum ada yang menciptakan produk konsumen yang benar-benar memikat. Pertanyaan besarnya kini: kapan, jika memang akan terjadi, momen ChatGPT untuk AI agent tiba?
Kesenjangan antara investasi industri dan adopsi publik ini memiliki implikasi nyata. Bagi konsumen, tidak adanya produk AI agent yang menarik berarti mereka belum merasakan manfaat dari teknologi yang telah menelan biaya triliunan rupiah. Bagi industri, ini berarti model bisnis yang dibangun di atas asumsi adopsi massal AI agent perlu dievaluasi ulang.
Karier Miller memberikan kredibilitas pada argumennya. Startup terbarunya, Arc, adalah browser web dengan pengikut setia yang diakuisisi Atlassian tahun lalu senilai 610 juta dolar AS. Perusahaan pertamanya, Branch, dibeli Facebook pada 2014. Miller juga pernah menjabat sebagai direktur produk pertama Gedung Putih di bawah Presiden Obama.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa Miller memahami cara membangun produk yang disukai orang, bukan sekadar teknologi yang mengesankan. Pesannya sederhana: industri harus berhenti menjual teknologi dan mulai menjual solusi yang membuat hidup orang lebih baik.
Bagi pengguna umum, kondisi ini berarti belum ada alasan kuat untuk beralih ke AI agent. Seperti yang diungkapkan Miller, orang tidak peduli apakah produk mereka ditenagai AI agent atau teknologi lain selama produk tersebut bermanfaat. Pertanyaannya adalah kapan industri akan mendengarkan.
Perjalanan AI agent dari sekadar teknologi menuju produk yang benar-benar digunakan publik masih panjang. Industri mungkin perlu belajar dari pendekatan The Browser Company: sembunyikan kompleksitas teknologi, fokus pada pengalaman pengguna, dan biarkan hasilnya berbicara. Sampai saat itu tiba, AI agent akan tetap menjadi obsesi Silicon Valley yang belum dirasakan manfaatnya oleh kebanyakan orang.




