Ilmuwan Usul Meredupkan Matahari untuk Redam El Nino

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi bumi, bulan, dan matahari di luar angkasa sebagai representasi konsep meredupkan matahari
  • Ilmuwan dari University of California San Diego mengusulkan teknik meredupkan matahari untuk meredam El Nino
  • Metode yang digunakan adalah marine cloud brightening dengan menyemprotkan partikel ke atmosfer
  • Inspirasi berasal dari kebakaran hutan Australia 2019-2020 yang membuat awan lebih cerah secara alami
  • Simulasi pada El Nino 1997 dan 2015 menunjukkan potensi reduksi intensitas hingga 40%
  • NOAA memperkirakan 81% peluang El Nino sangat kuat pada Desember 2026
  • Risiko geoengineering masih diperdebatkan, termasuk dampak tak terduga pada pola cuaca global

JBNews.id — Meredupkan cahaya Matahari terdengar seperti cerita fiksi ilmiah. Namun, sekelompok ilmuwan kini benar-benar mengusulkan ide tersebut sebagai salah satu cara untuk mengurangi dampak El Nino, fenomena iklim yang dapat memicu kekeringan, gelombang panas, hingga hujan ekstrem di berbagai belahan dunia.

Gagasan itu dipaparkan dalam studi terbaru yang terbit di jurnal Science Advances. Peneliti dari University of California San Diego menilai teknik solar geoengineering dapat dimanfaatkan secara lebih spesifik untuk melemahkan El Nino, bukan sekadar mendinginkan Bumi secara keseluruhan.

Meredupkan Matahari yang dimaksud bukan berarti mengurangi energi Matahari secara langsung. Para ilmuwan mengusulkan metode marine cloud brightening, yakni menyemprotkan partikel air laut atau aerosol ke atmosfer agar awan di atas lautan menjadi lebih cerah dan mampu memantulkan lebih banyak sinar Matahari kembali ke luar angkasa. Akibatnya, permukaan laut di bawahnya menjadi lebih dingin.

Ilustrasi bumi, bulan, dan matahari di luar angkasa

Dalam makalahnya, tim peneliti menjelaskan bahwa teknik tersebut secara teori dapat digunakan untuk meredam kejadian iklim ekstrem seperti El Nino. “Geoengineering surya secara teoritis dapat dimanfaatkan untuk mengurangi kejadian ekstrem dengan menargetkan fenomena musiman hingga beberapa tahun seperti El Nino,” tulis tim peneliti yang dipimpin ilmuwan iklim UC San Diego, Kate Ricke, dikutip dari The New York Post, Minggu (19/7/2026).

Inspirasi dari Kebakaran Hutan Australia

Ide ini bukan muncul begitu saja. Peneliti terinspirasi dari peristiwa kebakaran hutan besar di Australia pada 2019-2020. Saat itu, asap dalam jumlah sangat besar masuk ke atmosfer dan tanpa sengaja membuat awan di atas Samudra Pasifik menjadi lebih cerah. Kondisi tersebut memantulkan lebih banyak radiasi Matahari dan membantu mendinginkan permukaan laut. Fenomena alam ini kemudian menjadi dasar simulasi yang dilakukan para peneliti.

Peneliti kemudian mensimulasikan apakah efek serupa dapat dilakukan secara sengaja untuk melemahkan El Nino. Mereka menguji skenario tersebut pada dua El Nino besar, yakni pada 1997 dan 2015. Hasil simulasi menunjukkan teknik itu berpotensi meningkatkan efek pendinginan dan pengeringan hingga sekitar 40%, sehingga intensitas El Nino dapat berkurang secara signifikan.

Penelitian ini muncul ketika NOAA Climate Prediction Center memperkirakan peluang 81% bahwa El Nino akan mencapai kategori sangat kuat pada Desember 2026. Jika itu terjadi, berbagai wilayah dunia dapat menghadapi cuaca ekstrem, mulai dari kekeringan, banjir, hingga gelombang panas yang menimbulkan kerugian ekonomi hingga triliunan dolar. Ancaman ini mendorong para ilmuwan untuk mencari solusi alternatif di luar upaya mitigasi konvensional.

Risiko dan Kontroversi Geoengineering

Kate Ricke mengatakan pendekatan tersebut layak dipelajari sebagai pelengkap upaya mitigasi perubahan iklim. “Masih banyak yang harus dipahami. Namun jika ada cara untuk menggunakan pendekatan ini sebagai tambahan terhadap berbagai upaya pengurangan risiko guna mengurangi dampak El Nino, mengapa kita tidak mempertimbangkannya?” ujarnya.

Meski hasil simulasi menjanjikan, banyak ilmuwan mengingatkan bahwa geoengineering menyimpan risiko besar. Salah satunya adalah kemungkinan munculnya dampak yang tidak diperkirakan sebelumnya terhadap pola cuaca global. Selain itu, sebagian peneliti khawatir teknologi semacam ini justru mengalihkan perhatian dari solusi utama, yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Profesor ilmu atmosfer dari Texas A&M University, Andrew Dessler, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengingatkan bahwa model iklim belum mampu memprediksi seluruh konsekuensinya. “Model-model ini tidak sempurna. Selalu ada kemungkinan muncul masalah tak terduga yang justru lebih buruk daripada persoalan yang ingin kita atasi,” ujarnya.

Hingga kini belum ada rencana nyata untuk menguji teknik ‘meredupkan Matahari’ tersebut di dunia nyata. Namun, studi ini membuka diskusi baru mengenai berbagai opsi yang mungkin digunakan manusia untuk menghadapi ancaman cuaca ekstrem di masa depan. Para ilmuwan sepakat bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya potensi dan risiko dari pendekatan ini.

Implikasinya bagi masyarakat luas cukup jelas: meskipun geoengineering menawarkan harapan baru dalam mitigasi bencana iklim, teknologi ini masih berada pada tahap konseptual dan memerlukan kajian mendalam sebelum dapat diimplementasikan. Sementara itu, upaya pengurangan emisi gas rumah kaca tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan. Perdebatan mengenai solusi iklim radikal seperti ini diperkirakan akan semakin memanas seiring dengan meningkatnya frekuensi fenomena cuaca ekstrem di seluruh dunia. Untuk memahami lebih lanjut tentang inovasi teknologi terkini, Anda dapat membaca artikel tentang Atmosfer Planet LHS 1140 b yang juga menjadi sorotan di dunia sains.