JBNews.id — Elon Musk kembali memicu kontroversi setelah menyamakan perusahaannya, SpaceX, dengan Union Pacific, perusahaan kereta api raksasa abad ke-19. Dalam sebuah presentasi investor, Musk dengan bangga menyebut, “kami seperti Union Pacific.” Namun, perbandingan ini justru menuai kritik tajam dari sejarawan karena mengabaikan sejarah kelam perusahaan tersebut, termasuk skandal korupsi besar dan ketergantungan pada dana publik.
Musk, yang memiliki kekayaan bersih di atas satu triliun dolar AS, kerap dibandingkan dengan para “robber barons” di Zaman Emas Amerika. Perbandingan itu seolah ia akui sendiri dengan menyebut Union Pacific sebagai model bisnis. Union Pacific adalah perusahaan yang membangun jalur kereta api transkontinental pertama yang menghubungkan Pantai Timur dan Barat AS pada tahun 1860-an. Logika Musk, sebagaimana Union Pacific membangun rel untuk industri dan migrasi, SpaceX menciptakan roket untuk membuka potensi pasar luar angkasa.
Namun, apa yang tampaknya tidak disadari Musk adalah fakta bahwa Union Pacific tidak akan mampu membangun satu mil pun rel tanpa bantuan dana besar dari pembayar pajak. Perusahaan itu justru didirikan sebagai bentuk pelayanan publik yang sangat ia benci. Union Pacific didirikan sebagai korporasi swasta oleh pemerintah AS pada tahun 1862 dengan tujuan menyelesaikan jalur kereta api transkontinental. Perusahaan ini menerima jutaan dolar dalam bentuk obligasi, jutaan hektar lahan gratis, serta bantuan militer AS untuk memindahkan secara paksa ribuan penduduk asli Amerika dari jalur kereta api.
Meskipun secara teknis beroperasi sebagai perusahaan untuk mencari untung, Union Pacific lebih berfungsi seperti monopoli yang didukung pemerintah. Dalam arti sempit, perbandingan Musk dengan SpaceX memang tepat, tetapi dengan implikasi yang sangat berbeda dari yang ia maksudkan. Musk juga dengan mudah melewatkan satu peristiwa penting pada tahun 1872, yang dikenal sebagai skandal Crédit Mobilier.
Skandal ini terungkap ketika sejumlah jurnalis investigasi menemukan bahwa para taipan yang mengendalikan Union Pacific telah secara dramatis membesar-besarkan biaya proyek. Mereka pada dasarnya mengeruk uang pembayar pajak AS sambil menyuap anggota kongres agar skema ini terus berjalan. Ketika skema itu terbongkar, petinggi Union Pacific telah mengantongi 44 juta dolar AS uang pembayar pajak, atau setara dengan sekitar 1,2 miliar dolar AS saat ini.
Membandingkan SpaceX dengan Union Pacific sama saja dengan mengatakan bahwa seluruh proyek itu “terlalu besar untuk gagal”—sebuah skema cepat kaya yang dikemas sebagai proyek infrastruktur bersejarah, yang disubsidi oleh publik. Richard White, profesor emeritus sejarah Amerika di Universitas Stanford, dalam wawancara dengan Bloomberg, menggambarkan Union Pacific sebagai “kekacauan transaksi pribadi dan korupsi.”
“Menggunakan itu sebagai model perusahaan Anda, bermain pada ketidaktahuan yang luar biasa tentang sejarah negara ini, pasar keuangan, dan kebanyakan orang Amerika,” kata White. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa Union Pacific Railroad Company akhirnya benar-benar membangun jalur kereta api tersebut—meskipun dengan konsekuensi yang menghancurkan bagi penduduk asli Amerika dan pekerja imigran yang benar-benar membangun jalur itu.
Baca Juga:
Perbandingan ini memunculkan pertanyaan penting: apakah SpaceX milik Musk mampu membuka era baru dalam pembangunan negara yang setara dengan zaman kereta api, ataukah semuanya akan runtuh dan terbakar? Sejarawan White menegaskan bahwa analogi Musk tidak hanya salah secara historis, tetapi juga berbahaya karena menutupi fakta bahwa kesuksesan perusahaan besar seringkali bergantung pada dukungan publik dan regulasi yang ketat.
SpaceX, seperti Union Pacific, juga telah menerima kontrak miliaran dolar dari NASA dan pemerintah AS. Tanpa suntikan dana publik tersebut, kecil kemungkinan SpaceX dapat mencapai tahap pengembangan seperti sekarang. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa bantuan pemerintah, model bisnis ambisius seperti milik Musk mungkin tidak akan bertahan.
Lebih dari itu, kritik juga datang dari berbagai pihak yang menilai bahwa gaya kepemimpinan Musk yang kontroversial dan pernyataan-pernyataannya yang sering tidak akurat justru merusak kredibilitas perusahaannya. Dalam sebuah kesempatan, ramalan Elon Musk tentang masa depan seringkali terdengar visioner, namun realitas di lapangan seringkali berbeda.
Skandal Crédit Mobilier pada tahun 1872 menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana proyek infrastruktur besar bisa disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Para taipan Union Pacific tidak hanya mengantongi keuntungan besar, tetapi juga menyuap anggota kongres untuk menutupi praktik curang mereka. Kasus ini menjadi salah satu skandal korupsi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat pada abad ke-19.
Perbandingan Musk dengan Union Pacific juga mengabaikan dampak sosial yang ditimbulkan. Pembangunan jalur kereta api transkontinental mengakibatkan pemindahan paksa ribuan penduduk asli Amerika dari tanah leluhur mereka. Ribuan pekerja imigran, terutama dari Tiongkok, bekerja dalam kondisi yang sangat berbahaya dan upah rendah untuk membangun rel tersebut. Banyak dari mereka tewas dalam kecelakaan kerja atau karena penyakit.
Di sisi lain, SpaceX juga menghadapi kritik terkait kondisi kerja karyawannya. Beberapa laporan menyebutkan bahwa karyawan SpaceX seringkali bekerja lembur tanpa kompensasi yang layak dan menghadapi tekanan tinggi untuk memenuhi target ambisius Musk. Hal ini menunjukkan bahwa pola eksploitasi tenaga kerja mungkin masih berlanjut, meskipun dalam bentuk yang berbeda.
Pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah SpaceX benar-benar akan membawa manfaat bagi umat manusia, atau hanya akan menjadi alat untuk memperkaya segelintir orang? Sejarawan White menekankan pentingnya memahami sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. “Menggunakan Union Pacific sebagai model adalah bukti ketidaktahuan yang mendalam,” tegasnya.
Dalam konteks yang lebih luas, perbandingan ini juga menyoroti hubungan erat antara perusahaan teknologi besar dan pemerintah AS. Banyak perusahaan rintisan di Silicon Valley yang menerima pendanaan awal dari program pemerintah, baik melalui hibah penelitian, kontrak pertahanan, atau insentif pajak. Tanpa dukungan publik tersebut, inovasi-inovasi besar mungkin tidak akan pernah terwujud.
Namun, Musk tampaknya enggan mengakui ketergantungan ini. Dalam berbagai kesempatan, ia kerap mengkritik regulasi pemerintah dan menyerukan pengurangan campur tangan negara dalam bisnis. Pernyataan terbarunya tentang Union Pacific menunjukkan bahwa ia mungkin tidak sepenuhnya memahami bagaimana perusahaan-perusahaan besar benar-benar dibangun.
Kritik terhadap Musk juga datang dari dalam industri teknologi. Beberapa tokoh terkemuka, termasuk yang disebut sebagai “bapak AI,” telah menyindir kegagalan proyek-proyek Musk. Dalam sebuah kesempatan, bapak AI sindir xAI yang dianggap gagal memenuhi ekspektasi.
Terlepas dari kontroversi ini, SpaceX tetap menjadi salah satu perusahaan antariksa paling sukses di dunia. Perusahaan ini berhasil mengembangkan roket yang dapat digunakan kembali, mengurangi biaya peluncuran secara signifikan, dan mendapatkan kontrak besar dari NASA untuk misi ke Bulan dan Mars. Namun, kesuksesan ini tidak terlepas dari dukungan publik yang terus mengalir.
Perbandingan dengan Union Pacific justru membuka mata publik tentang bagaimana proyek-proyek besar seringkali membutuhkan investasi awal yang masif dari pemerintah. Tanpa dukungan tersebut, mustahil bagi perusahaan swasta untuk mengambil risiko sebesar yang dilakukan SpaceX. Hal ini menjadi ironi mengingat kritik keras Musk terhadap intervensi pemerintah dalam ekonomi.
Ke depan, publik akan terus mengawasi apakah SpaceX dapat memenuhi janji-janjinya untuk membawa manusia ke Mars dan membuka era baru eksplorasi antariksa. Atau, seperti Union Pacific, apakah proyek ini akan diwarnai oleh skandal dan penyalahgunaan dana publik? Hanya waktu yang akan menjawab.
Yang jelas, pernyataan Musk ini telah memicu diskusi penting tentang peran pemerintah dalam mendukung inovasi, serta perlunya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana publik. Sejarah Union Pacific mengajarkan bahwa proyek infrastruktur besar harus diawasi secara ketat untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi.
Bagi para pengamat industri, kasus ini juga menjadi pengingat bahwa kesuksesan seorang pengusaha tidak boleh diukur hanya dari kekayaan atau pencapaian teknologinya, tetapi juga dari dampak sosial dan etika bisnis yang dijalankannya. Musk, dengan segala kontroversinya, masih harus membuktikan bahwa ia dapat belajar dari sejarah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Pada akhirnya, pertanyaan mendasar yang diajukan oleh perbandingan ini adalah: apakah inovasi besar harus selalu dibangun di atas penderitaan dan eksploitasi? Atau adakah cara yang lebih adil dan berkelanjutan untuk mencapai kemajuan? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan masa depan tidak hanya SpaceX, tetapi juga seluruh ekosistem inovasi global.




