JBNews.id — Sebuah startup kecerdasan buatan bernama Micro AGI mengirim para lulusan perguruan tinggi Silicon Valley untuk membersihkan apartemen kumuh di New York secara gratis, demi mengumpulkan data pelatihan bagi robot humanoid. Inisiatif yang disebut Shift ini menawarkan jasa kebersihan gratis dengan imbalan ribuan jam rekaman video dari kamera yang dipasang di topi petugas kebersihan.
Data Pelatihan Jadi Komoditas Berharga
Fenomena ini mencerminkan bagaimana data telah menjadi “mata uang baru” di era kecerdasan buatan. Perusahaan AI berlomba-lomba mengumpulkan data sebanyak mungkin dengan keyakinan bahwa semakin banyak data, model AI akan semakin canggih. Shift menjadi contoh ekstrem dari praktik tersebut, di mana startup bersedia melakukan pekerjaan kasar demi mendapatkan rekaman interaksi manusia dengan lingkungan nyata.
Menurut laporan BBC, dua lulusan perguruan tinggi berusia dua puluhan tahun yang pernah bekerja di dunia startup mendatangi apartemen Archie Mitchell di Upper East Side, New York. Mereka membersihkan sekitar lima apartemen per hari, lima hari seminggu. Kamera yang menempel di depan topi baseball mereka merekam setiap aktivitas, data yang kelak bisa mengajari robot cara melakukan pekerjaan yang sama.
Praktik ini menunjukkan betapa startup AI berjuang keras untuk tetap relevan di tengah persaingan bisnis yang ketat. Alih-alih pekerjaan kantor yang nyaman, para pengusaha muda kini harus membersihkan toilet dan mencuci piring di tengah pasar kerja yang sulit.
Founder Shift, Bercan Kilic, mengatakan kepada BBC bahwa inisiatif ini bertujuan untuk “memajukan umat manusia.” Tantangan teknis utama justru terletak pada pencahayaan. “Di dunia nyata, setiap objek berbeda, pencahayaan berbeda, dan tidak ada yang sama seperti beberapa jam sebelumnya,” ujar Kilic. “Model perlu belajar bagaimana tangan, kamera, dan lingkungan bekerja sama.”
Baca Juga:
Ekspansi ke Berbagai Sektor
Kilic juga mengungkapkan bahwa Shift bisa meluas ke layanan gratis atau diskon lainnya. Perusahaan saat ini sudah mengumpulkan rekaman montir mobil yang memperbaiki kendaraan di Turki. Dalam sebuah unggahan LinkedIn, Kilic berjanji: “Hari ini, membersihkan di New York. Segera, tukang serba bisa, perbaikan, dan tugas-tugas di seluruh dunia.”
Inisiatif ini menjadi pengingat bahwa industri AI dan robotika pada dasarnya bertujuan menggantikan pekerja manusia. Namun, Shift enggan menyoroti realitas tersebut. Sebaliknya, perusahaan lebih fokus pada narasi “memajukan umat manusia” yang sering digunakan startup AI untuk membingkai dampak teknologi mereka.
Pengumpulan data pelatihan yang sensitif ini telah berkembang menjadi industri tersendiri, sebuah pasar data di mana perusahaan saling berlomba. Fenomena serupa juga terlihat di berbagai sektor, termasuk akses pendanaan dan pasar global untuk startup yang semakin kompetitif.
Kekhawatiran Privasi
Gagasan mengundang orang asing ke rumah untuk membersihkan gratis memicu kekhawatiran privasi yang serius. Kelompok advokasi memperingatkan bahwa data yang dikumpulkan bisa disalahgunakan di masa depan.
Rory Mir, direktur akses terbuka dan keterlibatan komunitas teknologi Electronic Frontier Foundation, mengatakan kepada BBC: “Meskipun ada imbalan uang atau layanan di muka, data yang Anda bagikan bisa kembali menghantui Anda. Bahkan jika Anda mempercayai bisnis yang mengumpulkannya, selalu ada risiko mereka membagikan informasi tersebut dengan bisnis atau pemerintah lain.”
Calli Schroeder, direktur Electronic Privacy Information Center, menambahkan: “Saya pikir orang-orang secara drastis meremehkan tingkat informasi sensitif yang bisa terekam oleh rekaman di dalam rumah.”
Kekhawatiran ini muncul di tengah maraknya insiden serupa di industri robotika, termasuk upaya startup AI menciptakan insinyur buatan yang juga memicu perdebatan etis.

Implikasi dari praktik ini sangat luas. Data rekaman rumah tangga bisa mengungkap kebiasaan pribadi, jadwal harian, bahkan informasi medis dan keuangan. Jika data ini bocor atau disalahgunakan, dampaknya bisa sangat serius bagi individu yang terlibat.
Bagi pembaca, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah: apakah layanan gratis sepadan dengan risiko privasi jangka panjang? Di era di mana data menjadi komoditas paling berharga, keputusan untuk memberikan akses ke ruang pribadi harus dipertimbangkan dengan hati-hati.
Fenomena Shift juga menunjukkan bagaimana tekanan untuk mengumpulkan data mendorong startup mengambil langkah ekstrem. Di tengah persaingan global, perusahaan AI rela melakukan apa pun untuk mendapatkan keunggulan kompetitif, termasuk membersihkan apartemen kumuh di New York.




