Drone Phantom Twist Tembus Pandang dengan Trik Sederhana

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
Drone Phantom Twist dari Northwestern University
  • Drone Phantom Twist dari Northwestern University hampir tidak terlihat oleh mata manusia
  • Bodi drone berputar 15-25 kali per detik, menciptakan efek motion blur
  • Hanya menggunakan satu motor dan satu baling-baling dengan putaran berlawanan
  • AI digunakan untuk mengoptimalkan 20.000 konfigurasi desain
  • 10 kali lebih sulit dilihat dibandingkan quadcopter ukuran serupa
  • Masih bergantung pada sistem pelacakan optik eksternal
  • Potensi aplikasi: mengamati satwa liar, survei lahan basah, periksa infrastruktur

JBNews.id — Para insinyur dari Northwestern University berhasil menciptakan prototipe drone yang hampir tidak terlihat oleh mata manusia. Bernama Phantom Twist, drone ini memanfaatkan putaran ekstrem pada bodinya untuk menciptakan ilusi optik, bukan menggunakan material canggih atau kamuflase.

Dengan baling-baling yang berputar dan bodi yang sering kali besar, drone konvensional biasanya sangat mudah terlihat. Namun, Phantom Twist menggunakan pendekatan yang berbeda. Bodi drone ini berputar antara 15 hingga 25 kali per detik, memaksa mata manusia untuk merata-ratakan bagian yang bergerak dengan latar belakang di belakangnya. Pada kecepatan maksimum, pesawat nirawak ini hanya tampak sebagai noda samar di udara.

Berbeda dengan quadcopter konvensional yang memiliki empat rotor mengelilingi bodi statis, Phantom Twist menggunakan desain yang sama sekali berbeda. Drone ini hanya menggunakan satu motor dan satu baling-baling. Baling-baling berputar ke satu arah, sementara bagian pesawat lainnya berputar ke arah berlawanan. Desain ini hampir tidak menyisakan komponen statis yang bisa dikunci oleh fokus mata manusia.

Menciptakan perangkat yang bisa tetap stabil saat terbang sekaligus sulit dilihat membutuhkan lebih dari sekadar menempelkan komponen ke rangka yang berputar. Tim peneliti memulai prosesnya dengan model komputasi yang menghasilkan sekitar 20.000 konfigurasi yang memungkinkan. Algoritma AI dan optimisasi kemudian menata ulang posisi motor, baterai, papan sirkuit, penyeimbang, dan bagian lainnya untuk menemukan desain yang menyeimbangkan performa penerbangan dengan tingkat visibilitas terendah.

Kandidat desain yang paling menjanjikan kemudian disimulasikan saat berputar dan ditumpangkan pada 100 latar belakang dunia nyata. Sebuah model persepsi yang dirancang untuk meniru penglihatan manusia memberikan skor seberapa mencolok masing-masing desain tersebut. Tim peneliti mempertahankan 500 desain yang paling tidak terlihat dan terus menyesuaikan tata letaknya hingga mencapai versi final.

Komponen-komponennya ditempatkan berjauhan pada ketinggian dan sudut yang berbeda, dengan banyak ruang kosong di antaranya. Hal ini mencegah bagian-bagian padat saling tumpang tindih saat berputar dan membentuk siluet gelap yang mudah dikenali. Menurut metrik visibilitas peneliti, Phantom Twist sekitar 10 kali lebih sulit untuk dilihat dibandingkan quadcopter dengan ukuran serupa.

Meski mengesankan, prototipe saat ini masih memiliki beberapa kelemahan yang harus disempurnakan. Drone ini masih bergantung pada sistem pelacakan optik eksternal, sehingga penggunaannya terbatas pada lingkungan yang terkendali. Kabel yang terbuka dan batang penyangga dari serat karbon masih terlihat sebagian. Yang terpenting, perangkat ini masih bersuara layaknya drone pada umumnya. Jadi, siapa pun yang gagal melihat wujud buramnya kemungkinan besar masih bisa mendengarnya. Versi masa depan diharapkan dapat menggunakan sistem propulsi yang lebih senyap dan material yang lebih transparan.

Potensi aplikasi drone ini sangat luas, mulai dari mengamati satwa liar tanpa mengubah perilaku alami hewan, menyurvei lahan basah, hingga memeriksa infrastruktur dengan gangguan visual yang minim. Kamera yang dipasang pada bodi yang berputar juga berpotensi menangkap pandangan 360 derajat penuh untuk keperluan navigasi.

Inovasi ini menjadi bagian dari tren pengembangan drone yang semakin canggih. Sebagai perbandingan, Korsel Siapkan 500.000 Prajurit Drone untuk menghadapi ancaman dari Korea Utara, menunjukkan betapa pentingnya teknologi drone dalam strategi pertahanan modern. Sementara itu, 300 Drone Dilumpuhkan di area Piala Dunia 2026, menggambarkan tantangan keamanan yang ditimbulkan oleh maraknya penggunaan drone.

Dengan pendekatan sederhana namun efektif, Phantom Twist membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus rumit. Trik memanfaatkan keterbatasan penglihatan manusia ini membuka jalan bagi pengembangan drone yang lebih sulit dideteksi di masa depan.