JBNews.id — OpenAI secara resmi mengarahkan ChatGPT untuk menolak permintaan meniru gaya penulisan spesifik seorang penulis, memicu kemarahan di kalangan pengguna yang selama ini mengandalkan fitur tersebut untuk menghasilkan konten. Keputusan ini diambil setelah tiga setengah tahun sejak chatbot tersebut diluncurkan.
Laporan dari Ars Technica mengungkapkan bahwa perubahan kebijakan ini menyebabkan kegemparan di forum r/WritingWithAI di Reddit. Seorang pengguna yang mengaku menggunakan ChatGPT untuk menulis novel utuh mengeluhkan bahwa chatbot kini menolak menghasilkan konten dalam gaya penulis tertentu. “Sekarang Ms. GPT bilang dia tidak bisa menghasilkan konten dalam gaya penulis tertentu,” tulis pengguna tersebut. “Prompt saya sangat spesifik dan saya mendapatkan persis apa yang saya inginkan. Contohnya, ‘tulis ulang dalam gaya sastra ‘penulis di sini’ dengan dialog berlimpah dan detail menghindari prosa staccato.'”
Pengguna itu menambahkan bahwa ia tidak tahu cara mengakali perubahan ini, kecuali mungkin dengan memasukkan prosa yang sudah diedit sendiri. Thread yang diunggah pekan lalu ini telah menghasilkan lebih dari seratus komentar, dengan banyak balasan yang dihapus oleh moderator karena dianggap tidak konstruktif.
Reaksi Beragam dari Komunitas Penulis AI
Beberapa pengguna berbagi cara mereka mengakali penolakan ChatGPT, termasuk beralih ke model AI lain seperti Claude atau Gemini. Namun, tidak semua pengguna mendukung praktik meniru gaya penulis terkenal. Seorang anggota forum menulis, “Tapi kenapa harus meniru satu penulis? Atau sekelompok penulis? Kenapa tidak memahami prosa yang ingin kamu capai dan gunakan itu?” Komentar lain yang berbunyi “Cobalah menulis kata-katamu sendiri” mendapat banyak downvote tetapi selamat dari sanksi moderator.
Fenomena ini menunjukkan perdebatan sengit di kalangan pengguna AI terkait etika penggunaan teknologi untuk meniru kreativitas manusia. Praktik meniru gaya penulis sudah menjadi kontroversi sejak lama, terutama karena model AI dilatih menggunakan jutaan buku tanpa izin dari pemegang hak cipta.
Baca Juga:
Kasus serupa pernah terjadi tahun lalu ketika novelis roman Lena McDonald memicu gelombang kritik setelah pembaca menemukan ia secara tidak sengaja meninggalkan perintah AI yang memintanya meniru gaya J. Bree, seorang penulis populer di genre yang sama. Insiden ini memperkuat kekhawatiran tentang penggunaan AI untuk meniru kreativitas tanpa izin.
Implikasi Hukum dan Hak Cipta
Menurut laporan Ars Technica, ChatGPT kini menolak permintaan gaya untuk penulis yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sebagai gantinya, AI menyarankan pengguna untuk menangkap “perasaan” seorang penulis dengan mengintegrasikan beberapa ciri khas cerita mereka. Perubahan ini terjadi di tengah gugatan hukum yang dihadapi OpenAI terkait pelatihan model AI menggunakan materi berhak cipta.
Saat ini, hukum hak cipta belum secara eksplisit melindungi “gaya” seorang seniman, yang bersifat kabur dan sulit didefinisikan. Namun, keluaran AI yang dihasilkan dengan niat eksplisit meniru gaya berpotensi melanggar garis etika dan hukum. Setidaknya satu rancangan undang-undang telah diajukan untuk membuat gaya seorang seniman dapat dilindungi hak cipta, secara khusus untuk melindungi mereka dari penggunaan AI.
Keputusan OpenAI ini juga terkait dengan isu keamanan AI yang lebih luas. Perubahan kebijakan menunjukkan bahwa perusahaan mulai mengambil langkah untuk mengurangi risiko penyalahgunaan teknologi, meskipun menghadapi resistensi dari pengguna setia.
Para ahli hukum mencatat bahwa meskipun gaya penulisan sulit dilindungi secara legal, penggunaan AI untuk meniru secara persis bisa dianggap sebagai pelanggaran etika. Beberapa perusahaan AI besar lainnya juga mulai menerapkan kebijakan serupa untuk menghindari potensi tuntutan hukum di masa depan.
Bagi para penulis profesional, perubahan ini bisa menjadi angin segar karena mengurangi persaingan tidak sehat dari konten yang dihasilkan AI. Namun, bagi pengguna yang mengandalkan ChatGPT untuk menghasilkan karya dalam jumlah besar, kebijakan baru ini menjadi hambatan signifikan dalam alur kerja mereka.
Komunitas AI writing kini mencari solusi alternatif, termasuk menggunakan model AI lain yang belum menerapkan pembatasan serupa. Beberapa pengguna juga mulai mengembangkan teknik prompt yang lebih canggih untuk mengelabui sistem deteksi OpenAI.
Ke depannya, perkembangan ini kemungkinan akan mempengaruhi kebijakan platform AI lainnya. Jika tren ini berlanjut, pengguna mungkin perlu menyesuaikan strategi mereka dalam memanfaatkan AI untuk keperluan kreatif. Sementara itu, perdebatan tentang etika dan legalitas penggunaan AI untuk meniru karya manusia kemungkinan akan terus berlanjut.
Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan AI dan keamanan siber, pembaca dapat menyimak artikel tentang kompetisi keamanan siber yang digelar oleh Telkom University dan Kaspersky.




