JBNews.id — Pendapatan divisi Xbox kembali mencatatkan penurunan signifikan pada kuartal keempat tahun fiskal Microsoft. Pendapatan dari konten dan layanan, termasuk langganan Game Pass, turun 10 persen dalam beberapa bulan terakhir. Di saat yang sama, penjualan perangkat keras Xbox juga merosot 13 persen.
Angka tersebut terungkap dalam laporan laba rugi Microsoft yang dirilis pada Rabu lalu. Penurunan ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi divisi gaming raksasa teknologi tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Kabar ini muncul hanya beberapa pekan setelah Kepala Xbox, Asha Sharma, mengumumkan rencana “reset” untuk Xbox. Rencana tersebut mencakup gelombang PHK massal dan pemisahan empat studio game, termasuk pengembang South of Midnight, Compulsion Games, serta kreator Psychonauts, Double Fine Productions.
Sharma juga telah membuat sejumlah perubahan besar lainnya pada Xbox. Beberapa di antaranya adalah menurunkan harga Game Pass, menguji coba cloud gaming gratis yang didukung iklan, serta menjadikan Gears of War: E-Day dan Clockwork Revolution sebagai eksklusif Xbox.
Tak hanya itu, Xbox berencana menaikkan harga konsolnya sebesar 100 dolar AS atau lebih mulai 1 Agustus mendatang. Langkah ini tentu menjadi pukulan tambahan bagi para penggemar setia yang sudah terbebani dengan harga perangkat yang relatif tinggi.
Pernyataan Resmi Microsoft
“Dalam hal Xbox, kami mengambil keputusan yang diperlukan di seluruh portofolio konten, platform, dan operasi kami untuk mereset bisnis ini demi pertumbuhan jangka panjang,” ujar CEO Microsoft, Satya Nadella, dalam panggilan pendapatan perusahaan.
Nadella menambahkan bahwa Microsoft berharap “dapat mengembalikan bisnis ini ke pertumbuhan pada tahun fiskal 2027.” Pernyataan ini memberikan sedikit harapan bagi para pemangku kepentingan yang khawatir dengan masa depan divisi gaming Microsoft.
Baca Juga:
Sementara Microsoft meningkatkan upayanya di bidang kecerdasan buatan, bisnis cloud-nya telah mendorong pendapatan keseluruhan perusahaan menjadi 90 miliar dolar AS. Pendapatan Microsoft Cloud melonjak 27 persen menjadi 59,3 miliar dolar AS dalam beberapa bulan terakhir.
Pendapatan dari bisnis produktivitas, yang mencakup layanan seperti Microsoft 365 dan LinkedIn, melonjak 14 persen menjadi 37,8 miliar dolar AS. Microsoft 365 Copilot juga mencapai lebih dari 30 juta kursi berbayar, sementara pendapatan Azure menembus 100 miliar dolar AS untuk pertama kalinya.
Namun, Xbox bukan satu-satunya segmen Microsoft yang mengalami penurunan. Segmen Windows OEM dan perangkat perusahaan turun 7 persen yang “didorong oleh permintaan pasar PC yang lebih rendah.”
Microsoft telah meluncurkan perangkat Surface baru dengan prosesor RTX Spark, prosesor berbasis Arm buatan Nvidia, pada bulan Juni lalu. Perusahaan juga mulai melakukan perubahan kualitas hidup pada Windows 11 untuk mendapatkan kembali kepercayaan pengguna.
Dampak bagi Industri Game
Penurunan pendapatan Xbox ini menjadi sinyal kuat bahwa industri game sedang menghadapi tantangan berat. Persaingan ketat dari layanan berlangganan lain, perubahan perilaku konsumen, dan tekanan ekonomi global menjadi faktor utama yang mempengaruhi kinerja Xbox.
Sebelumnya, Bethesda Konfirmasi Fallout 5 yang menjadi salah satu andalan Xbox di masa depan. Namun, langkah damage control yang dilakukan Xbox menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi cukup serius.
Di sisi lain, ada pandangan optimistis dari kalangan industri. Seorang mantan bos Sony buka jalan keluar untuk Xbox yang terpuruk, memberikan perspektif baru tentang bagaimana Xbox bisa bangkit kembali.
Langkah-langkah seperti uji coba streaming game gratis dengan iklan dan penurunan harga Game Pass menunjukkan bahwa Xbox sedang mencari cara inovatif untuk menarik kembali pengguna. Keputusan untuk menjadikan game-game besar sebagai eksklusif juga menjadi strategi untuk memperkuat ekosistem Xbox.
Bagi para pengguna setia Xbox, situasi ini tentu menimbulkan kekhawatiran. Namun, komitmen Microsoft untuk terus berinvestasi di divisi gaming, meskipun sedang mengalami penurunan, memberikan secercah harapan.
Dengan rencana reset yang sudah diumumkan, para pengamat industri akan terus memantau langkah-langkah selanjutnya dari Xbox. Apakah strategi baru ini akan berhasil mengembalikan kejayaan Xbox? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Yang jelas, persaingan di industri game semakin ketat. Xbox harus bergerak cepat dan tepat untuk bisa bersaing dengan para kompetitornya, terutama di tengah perubahan preferensi konsumen yang semakin cepat.




