Qualcomm Naikkan Harga Prosesor per September 2026

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Grafik penurunan pendapatan bisnis ponsel Qualcomm tahun 2026
  • Qualcomm naikkan harga semua prosesor mulai 1 September 2026
  • Kenaikan harga dipicu oleh lonjakan harga memori dan kendala pasokan
  • Pendapatan bisnis ponsel Qualcomm turun 20% year-over-year
  • Perusahaan diversifikasi ke bisnis pusat data dan otomotif
  • Target pendapatan dari ponsel hanya 50% dalam waktu dekat
  • Qualcomm jalin kemitraan 10 tahun dengan BMW
  • OEM mulai gunakan chip generasi sebelumnya untuk tekan biaya
  • Dampak langsung pada harga ponsel flagship di pasaran

JBNews.id — Qualcomm secara resmi mengumumkan akan menaikkan harga semua prosesornya mulai 1 September 2026. Kenaikan harga ini terjadi di tengah penurunan pendapatan bisnis ponsel perusahaan sebesar 20 persen year-over-year, yang merupakan angka terendah sejak 2021.

CEO Qualcomm Cristiano Amon menyatakan pada hari Rabu bahwa “harga akan naik” pada produk-produk perusahaan. CNBC melaporkan bahwa kenaikan harga ini diperkirakan mencapai “persentase dua digit,” memperkuat rumor yang beredar pekan lalu.

Dalam laporan pendapatan kuartal terbarunya, Qualcomm mengaitkan penurunan pendapatan ini dengan “kenaikan harga memori yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kendala pasokan.” Kondisi ini telah mendorong kenaikan harga berbagai produk elektronik, mulai dari konsol game, laptop, hingga papan Raspberry Pi, tanpa tanda-tanda akan segera berhenti.

Alih-alih mengurangi margin keuntungan, Qualcomm memilih untuk mengompensasi tekanan biaya ini dengan menaikkan harga jual produknya. Langkah ini dipastikan akan berdampak langsung pada harga ponsel pintar dan perangkat lain yang menggunakan chip Qualcomm di pasaran.

Penurunan pendapatan dari bisnis ponsel ini mendorong Qualcomm untuk mempercepat diversifikasi bisnisnya. Perusahaan menargetkan bahwa dalam waktu dekat, hanya setengah dari total pendapatannya yang akan berasal dari ponsel. Pada tahun 2029, proporsi itu diperkirakan turun menjadi hanya sepertiga, seiring pertumbuhan bisnis pusat data dan otomotif.

Qualcomm juga mengumumkan kesepakatan jangka panjang selama satu dekade untuk memasok chip bagi BMW. Langkah ini menegaskan ambisi perusahaan di sektor otomotif yang terus berkembang. Sebelumnya, Akuisisi Modular senilai hampir $4 miliar juga menunjukkan keseriusan Qualcomm dalam memperkuat portofolio bisnisnya.

Selain itu, Qualcomm memperkirakan akan terjadi “akselerasi” penurunan pendapatan dari produk Apple. Perusahaan menyebutkan bahwa “pangsa modem untuk peluncuran iPhone mendatang diperkirakan akan jauh lebih rendah.” Dalam panggilan pendapatan, Qualcomm dua kali menekankan bahwa bisnis lainnya akan menutupi kekurangan tersebut.

EVP, CFO, dan COO Qualcomm Akash Palkhiwala juga mengungkapkan bahwa beberapa OEM mulai menggunakan chip Qualcomm “generasi sebelumnya” pada perangkat mereka sebagai respons terhadap kenaikan biaya komponen. Strategi ini menunjukkan bahwa produsen perangkat berusaha menekan biaya produksi di tengah tekanan harga dari hulu.

Kenaikan harga prosesor Qualcomm ini menjadi kabar buruk bagi konsumen yang sudah dihadapkan pada kenaikan harga komponen memori atau yang dikenal sebagai “RAMageddon.” Kombinasi kedua faktor ini dipastikan akan membuat harga ponsel pintar generasi mendatang melonjak signifikan.

Di sisi lain, Qualcomm terus mengembangkan lini bisnis barunya. Perusahaan baru-baru ini meluncurkan platform untuk kacamata AI dan juga menghadapi persaingan ketat dari MediaTek yang menyiapkan chip terbaru untuk menantang dominasi Snapdragon.

Bagi konsumen, implikasinya jelas: harga ponsel flagship dan perangkat elektronik lainnya diperkirakan akan naik dalam waktu dekat. Produsen ponsel kemungkinan akan meneruskan kenaikan biaya ini ke konsumen, atau mencari alternatif dengan menggunakan chip generasi lama atau beralih ke pemasok lain.

Dengan strategi tripod bisnis yang mencakup ponsel, pusat data, dan otomotif, Qualcomm berusaha mengurangi ketergantungannya pada pasar ponsel yang semakin jenuh. Namun, dalam jangka pendek, konsumenlah yang akan merasakan dampak langsung dari keputusan kenaikan harga ini.