BAKTI Komdigi: Semangat 3T, Misi Konektivitas Digital Indonesia

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
BTS Bakti di wilayah terpencil Indonesia
  • Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadilah Mathar, ungkap kultur kerja 3T di lembaganya
  • Semangat 3T (terdepan, terluar, tertinggal) menjadi identitas bersama seluruh pegawai BAKTI
  • Perbandingan dengan SpaceX yang memiliki visi ke Mars menunjukkan pentingnya tujuan besar organisasi
  • BAKTI bangun BTS 4G, akses internet gratis, dan manfaatkan SATRIA-1 untuk daerah terpencil
  • Lebih dari 31 ribu titik layanan publik (sekolah, puskesmas, kantor desa) telah terhubung
  • Lembaga ini jadi ujung tombak pemerintah untuk wilayah yang tidak menarik secara bisnis bagi swasta

JBNews.id — Direktur Utama BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Fadilah Mathar, menyatakan bahwa seluruh karyawan di lembaganya memiliki semangat yang sama: siap bertugas ke wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Hal ini diungkapkannya dalam pertemuan dengan sejumlah jurnalis di Berau, Kalimantan Timur.

Pernyataan tersebut muncul setelah Fadilah bercerita tentang kunjungannya ke perusahaan antariksa milik miliarder teknologi Elon Musk, SpaceX. Saat itu, ia bertanya kepada salah seorang petinggi perusahaan mengenai budaya kerja yang dianut organisasi tersebut. “Saya pernah bertanya waktu itu ke setingkat direktur, apa corporate culture di SpaceX? Mereka bilang semua yang kerja di sini pasti mau ke Mars,” kata Fadilah.

Perbandingan itu menjadi ilustrasi tentang pentingnya tujuan besar sebagai identitas bersama sebuah organisasi. Jika SpaceX memiliki visi menaklukkan Mars, BAKTI memiliki misi yang tak kalah ambisius: menghadirkan konektivitas digital hingga ke pelosok negeri. “Semua rekan-rekan di BAKTI ketika bapak ibu tanya culture-nya apa sih di BAKTI, mereka pasti akan bilang 3T. Mereka pasti akan siap-siap pergi ke wilayah 3T,” sebutnya.

Peran Strategis BAKTI

Tugas BAKTI menjadi krusial karena lembaga ini merupakan ujung tombak pemerintah dalam menyediakan akses internet dan telekomunikasi di lokasi-lokasi yang belum menarik secara bisnis bagi operator swasta. “BAKTI ini khusus untuk menyelenggarakan dan membangun akses internet atau konektivitas digital atau sinyal di wilayah-wilayah yang tidak dibangun oleh pihak swasta. Karena kalau pemerintah tidak mengurus maka sampai kapan pun akses tidak akan diterima oleh masyarakat,” jelas Fadilah.

Saat ini, BAKTI mengelola berbagai program konektivitas nasional, mulai dari pembangunan BTS 4G, penyediaan akses internet gratis untuk sekolah dan fasilitas kesehatan, hingga pemanfaatan Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1) untuk menjangkau daerah terpencil. Hingga kini, lebih dari 31 ribu titik layanan publik telah terhubung melalui jaringan yang dibangun BAKTI. Infrastruktur tersebut tersebar di sekolah, puskesmas, kantor desa, fasilitas keamanan, dan berbagai layanan publik lainnya di seluruh Indonesia.

BTS Bakti

Dalam era digital seperti sekarang, konektivitas bukan lagi sekadar kebutuhan sekunder, melainkan infrastruktur dasar yang setara dengan listrik dan air bersih. Wilayah 3T yang selama ini menghadapi tantangan keterisolasian dan keterbatasan infrastruktur telekomunikasi menjadi prioritas utama BAKTI. Semangat untuk melayani wilayah-wilayah tersebut telah menjadi kultur kerja yang dibangun di lembaga tersebut.

Dampak dan Implikasi

Upaya BAKTI dalam menghadirkan konektivitas digital hingga ke wilayah 3T memiliki dampak luas. Akses internet yang merata dapat membuka peluang ekonomi baru, meningkatkan kualitas pendidikan melalui akses informasi, serta memperkuat layanan kesehatan di daerah terpencil. Bagi masyarakat di wilayah perbatasan, konektivitas juga menjadi instrumen penting dalam menjaga kedaulatan dan memperkuat identitas nasional.

Fadilah Mathar menekankan bahwa setiap organisasi membutuhkan tujuan besar yang menjadi identitas bersama. Di BAKTI, tujuan tersebut diwujudkan dalam komitmen melayani wilayah 3T. Hal ini selaras dengan program prioritas pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur digital di seluruh Indonesia.

Meski memiliki kemiripan semangat dengan perusahaan antariksa global, tantangan yang dihadapi BAKTI berbeda secara fundamental. Jika SpaceX berhadapan dengan gravitasi bumi dan ruang angkasa, BAKTI berhadapan dengan kondisi geografis Indonesia yang menantang, mulai dari pegunungan, hutan lebat, hingga pulau-pulau terpencil. Namun, semangat untuk melayani dan menghubungkan masyarakat Indonesia tetap menjadi pendorong utama.

Ke depan, BAKTI akan terus mengembangkan program-program konektivitas untuk memastikan tidak ada lagi wilayah di Indonesia yang terisolasi secara digital. Dengan semangat 3T yang telah menjadi budaya kerja, lembaga ini optimistis dapat mewujudkan visi Indonesia Digital yang inklusif dan merata.

Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan teknologi dan keamanan digital, penting juga untuk waspada terhadap berbagai modus penipuan online yang semakin canggih, seperti yang dibahas dalam artikel tentang Love Scam. Selain itu, perkembangan platform media sosial seperti Bluesky yang siap meluncurkan fitur komunitas baru juga patut diikuti.

Dengan semangat yang sama seperti karyawan SpaceX yang bermimpi ke Mars, para pegawai BAKTI siap berangkat ke wilayah 3T kapan pun dibutuhkan. Ini adalah bukti nyata bahwa misi besar dapat menyatukan dan menggerakkan sebuah organisasi untuk mencapai tujuan yang tampaknya mustahil.