Studi Ungkap Aktivitas Warga AS di Polymarket Capai Rp400 Triliun

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi antarmuka platform prediksi pasar kripto Polymarket dengan grafik perdagangan dan peta dunia
  • Studi Rutgers University mengestimasi warga AS menyalurkan USD 10,6-26,7 miliar ke Polymarket dalam setahun
  • Metodologi menggunakan proksi perilaku karena pengguna AS menggunakan VPN untuk menyembunyikan lokasi
  • Polymarket dilarang di AS sejak 2022 karena beroperasi sebagai platform derivatif tidak terdaftar
  • Platform berlisensi AS (Polymarket US) hanya mencapai USD 1,6 miliar vs platform utama USD 9 miliar
  • CFTC memiliki kewenangan terbatas atas platform lepas pantai namun bisa menggunakan yurisdiksi ekstrateritorial
  • Proyeksi volume perdagangan berbasis AS bisa mencapai USD 133 miliar pada 2030

JBNews.id — Sebuah studi dari Rutgers University mengungkap bahwa warga Amerika Serikat diduga telah menyalurkan dana antara USD 10,6 miliar hingga USD 26,7 miliar melalui platform prediksi pasar kripto Polymarket dalam periode satu tahun terakhir. Temuan ini menjadi estimasi pertama yang secara spesifik mengukur besarnya partisipasi pengguna AS di platform yang sebenarnya telah dilarang beroperasi di negara tersebut sejak 2022.

Studi yang dilakukan oleh ahli statistik Rutgers University, Harry Crane, menganalisis aktivitas perdagangan yang tampak berasal dari pengguna AS di platform prediksi pasar lepas pantai antara Mei 2025 hingga akhir April 2026. Crane menemukan bahwa banyak pasar dengan volume tertinggi di Polymarket bersifat sangat Amerika-sentris, termasuk pasar yang mencakup pemilu AS dan acara olahraga domestik.

Metodologi dan Temuan Utama

Untuk mengukur aktivitas ini, Crane mengembangkan metodologi yang mengidentifikasi perilaku khas pedagang AS dibandingkan pedagang internasional. Indikator yang digunakan meliputi waktu perdagangan dan jenis pasar yang diminati. Misalnya, pedagang AS cenderung lebih tertarik pada acara olahraga dalam negeri dibandingkan rekan global mereka.

“Sudah diketahui bahwa ada individu di sana, tapi yang belum diketahui adalah sejauh mana partisipasinya, apakah satu atau sepuluh orang, atau benar-benar sebagian besar,” ujar Crane yang juga anggota Commodity Futures Trading Commission (CFTC) Innovation Advisory Committee. Studi ini menunjukkan bahwa pedagang AS menyumbang sekitar setengah dari aktivitas di pasar olahraga Polymarket.

Penting untuk dicatat bahwa studi ini didanai oleh Coalition for Prediction Markets, sebuah kelompok lobi yang mewakili industri prediksi pasar. Anggota koalisi ini mencakup Kalshi, Coinbase, Crypto.com, dan pemain besar lainnya, namun Polymarket sendiri bukan anggota. Meski demikian, Crane menegaskan bahwa ia mempertahankan kendali editorial penuh atas studi tersebut.

Larangan dan Celah Regulasi

Polymarket dilarang beroperasi di AS sejak 2022 setelah regulator federal menemukan bahwa platform tersebut beroperasi sebagai platform perdagangan derivatif yang tidak terdaftar. Sejak Desember 2025, Polymarket mengoperasikan aplikasi seluler berlisensi AS bernama Polymarket US. Menurut laporan Pew Research, volume perdagangan Polymarket US pada April 2026 mencapai sekitar USD 1,6 miliar, sementara platform kripto utama Polymarket mencapai USD 9 miliar pada periode yang sama.

Untuk mengakses platform utama yang diblokir, pedagang AS diduga menggunakan VPN untuk menyembunyikan lokasi asal mereka, meskipun ketentuan layanan Polymarket melarang penggunaan VPN. CFTC sendiri tidak memiliki kewenangan normal atas pasar prediksi lepas pantai, namun Ketua CFTC Michael Selig menyatakan kesediaannya menggunakan yurisdiksi ekstrateritorial untuk menindak pelaku kejahatan secara kasus per kasus.

Dalam konteks regulasi teknologi yang lebih luas, perkembangan ini menarik untuk dicermati seiring dengan kebijakan AI Voluntary Framework yang baru-baru ini diteken oleh Presiden Trump. Kerangka kerja sukarela untuk kecerdasan buatan ini menunjukkan bagaimana pemerintah AS berupaya menyeimbangkan inovasi dengan pengawasan regulasi di berbagai sektor teknologi.

Kasus High-Profile dan Proyeksi Masa Depan

Pada April 2026, terjadi contoh paling menonjol terkait aktivitas warga AS di Polymarket. Departemen Kehakiman AS mendakwa seorang tentara pasukan khusus karena diduga menggunakan informasi rahasia tentang penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro untuk meraup keuntungan sekitar USD 400.000 dari perdagangan Polymarket.

Studi Crane memperkirakan bahwa aktivitas berbasis AS akan terus berkembang di platform tersebut jika platform kripto Polymarket mempertahankan pangsa pasarnya. Proyeksi menunjukkan volume perdagangan berbasis AS bisa mencapai USD 133 miliar pada tahun 2030.

University of Toronto Scarborough associate professor of finance Charles Martineau, yang telah mempelajari perilaku perdagangan Polymarket, menilai metodologi yang digunakan Crane cukup masuk akal. “Ini tidak sempurna, tapi saya pikir ini memberikan estimasi yang wajar tentang fraksi volume yang dapat diatribusikan pada perdagangan lepas pantai. Menggunakan proksi tidak langsung seperti ini adalah hal yang umum dalam riset keuangan,” ujarnya.

Polymarket menolak berkomentar mengenai studi ini, sementara CFTC tidak menanggapi permintaan komentar. Ketidakjelasan ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah regulator akan menindak pedagang AS yang menggunakan VPN untuk menghindari larangan namun tetap mematuhi hukum secara umum.

Di sisi lain, perkembangan industri prediksi pasar di Indonesia juga menarik untuk dicermati. Kompetisi komunitas seperti UniPin Series Road to FFNS 2026 Fall menunjukkan bagaimana ekosistem digital dan kompetisi berbasis komunitas terus berkembang di Tanah Air, meskipun dalam ranah yang berbeda dari prediksi pasar.

Implikasi dari temuan studi ini sangat luas. Bagi regulator seperti CFTC, data ini memberikan gambaran tentang seberapa besar aktivitas yang luput dari pengawasan. Bagi pelaku industri, angka ini menunjukkan potensi pasar yang sangat besar jika regulasi dapat diadaptasi. Sementara bagi pengguna biasa, temuan ini mengingatkan bahwa penggunaan VPN untuk mengakses platform yang diblokir tetap memiliki risiko hukum yang belum sepenuhnya jelas.

Dengan proyeksi volume perdagangan mencapai USD 133 miliar pada 2030, jelas bahwa prediksi pasar berbasis kripto akan terus menjadi isu regulasi yang signifikan di tahun-tahun mendatang, terutama terkait yurisdiksi lintas batas dan penegakan hukum di era digital.