Bahaya AI Workslop: Perusahaan Terjebak Knowledge Decay Akibat AI

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi robot rusak dan tergeletak di lantai, menggambarkan dampak negatif penggunaan AI berlebihan di perusahaan
  • Perusahaan yang terlalu bergantung AI alami masalah workslop dan knowledge decay
  • Knowledge decay adalah penurunan kualitas pengetahuan organisasi karena pekerja kehilangan keterampilan
  • Karyawan dipaksa menggunakan AI, memicu pemberontakan dan sabotase
  • Proses perekrutan menjadi sulit karena AI menenggelamkan kepercayaan
  • Solusi: AI hanya digunakan pada tugas yang benar-benar memberikan nilai tambah

JBNews.id — Perusahaan yang terlalu bergantung pada kecerdasan buatan (AI) generatif kini menghadapi masalah serius yang disebut workslop, di mana kualitas pengetahuan organisasi menurun drastis akibat penggunaan AI yang tidak terkendali. Fenomena ini, yang dikenal sebagai knowledge decay, mengancam kemampuan perusahaan dalam mengambil keputusan strategis.

Dalam mengejar produktivitas dan pengurangan ketergantungan pada tenaga kerja manusia, banyak perusahaan memaksa karyawan menggunakan AI. Namun, seperti yang dijelaskan Harvard Business Review, praktik ini justru merusak pengetahuan organisasi yang kritis. “Knowledge decay” menggambarkan kemerosotan informasi seiring waktu, di mana pekerja kehilangan keterampilan dan organisasi bergantung pada proses yang usang.

Masalah ini dimulai ketika pekerja menggunakan AI untuk menghasilkan karya berkualitas rendah. Karya tersebut menyia-nyiakan waktu rekan kerja, mengikis kepercayaan, dan secara perlahan mengubah pengetahuan organisasi menjadi tidak bernilai. Jika dibiarkan merambah ke seluruh departemen, output bisnis mulai runtuh. Fenomena ini sudah terlihat sejak awal era AI, di mana karyawan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memperbaiki kesalahan AI daripada bekerja tanpa teknologi tersebut.

“Kesalahan bertambah dan menumpuk,” tulis Harvard Business Review. “Kepercayaan pada informasi terkikis. Orang menghabiskan lebih banyak waktu untuk memverifikasi fakta atau mengambil risiko kesalahan yang mahal dan berbahaya. Pada akhirnya, orang mulai kehilangan kepercayaan pada proses yang mereka andalkan untuk melakukan pekerjaan mereka.”

Ilustrasi robot rusak dan tergeletak di lantai, menggambarkan dampak negatif penggunaan AI berlebihan

Para pekerja yang dipaksa menggunakan AI melawan kehendak mereka kini menyaksikan pasar tenaga kerja memburuk. Paksaan ini memicu pemberontakan massal, dengan pekerja yang mengalami demoralisasi rendah dan bahkan menyabotase teknologi AI di tempat kerja. Proses perekrutan karyawan baru juga menjadi rumit, karena AI membuat pencarian kandidat berkualitas menjadi sangat sulit.

“Dampak keseluruhan dari AI yang ‘memperkuat’ setiap langkah adalah menenggelamkan kepercayaan pada proses ke titik terendah sepanjang masa, baik bagi pencari kerja maupun perekrut,” jelas Harvard Business Review.

Untuk menghentikan slopification pekerjaan dan knowledge decay, para pemimpin bisnis kini dipaksa memastikan informasi diverifikasi secara cermat dan dibersihkan dari halusinasi atau kesalahan AI. Proses padat karya ini menyita waktu karyawan manusia yang sebenarnya.

Ke depan, diperlukan perubahan: pengusaha harus mencari cara memastikan AI hanya digunakan ketika benar-benar masuk akal dan memberikan nilai tambah. “Untuk banyak tugas, menggunakan LLM publik sering kali menambah sedikit atau tidak ada nilai nyata,” tulis Harvard Business Review. “Ini menghasilkan prosa generik yang sering mengandung kesalahan. Namun, penggunaan model kepemilikan dan/atau memanfaatkan data kepemilikan mungkin akan menambah nilai.”

Sekarang, setelah banyak hype awal tentang AI yang mengarah pada revolusi produktivitas dan membuat tenaga kerja manusia menjadi masa lalu telah terkikis, perusahaan yang merangkul AI dipaksa untuk memungut pecahan atau berisiko mengalami kemunduran hingga tidak relevan. Ini adalah AI hangover yang bisa menghantui mereka selama bertahun-tahun mendatang.

Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini mengingatkan pada Huasun Energy yang justru berhasil memanfaatkan teknologi secara bijak. Sementara itu, Microsoft juga mengalami tantangan serupa dalam mempertahankan relevansi AI-nya.

Implikasinya jelas: perusahaan harus segera mengevaluasi strategi AI mereka. Mengandalkan AI secara berlebihan tanpa verifikasi manusia yang ketat hanya akan mempercepat kerusakan pengetahuan organisasi. Solusinya bukan meninggalkan AI sepenuhnya, tetapi menggunakannya secara selektif pada tugas-tugas yang benar-benar memberikan nilai tambah.