Astronom Pecahkan Misteri Planet Pink GJ504b Berlapis Awan Garam

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi Planet Pink GJ504b dengan atmosfer berlapis awan garam di luar angkasa
  • Astronom berhasil memecahkan misteri Planet Pink GJ504b setelah 13 tahun menggunakan data Teleskop James Webb
  • Planet Pink memiliki atmosfer yang diselimuti awan yang terbuat dari garam, yang menyebabkan warnanya yang unik
  • GJ504b berjarak 57 tahun cahaya dari Bumi dan memiliki suhu sekitar 290 derajat Celsius
  • Objek ini secara teknis adalah 'pendamping bermassa planet', bisa berupa eksoplanet raksasa atau katai coklat
  • Tim astronom dari Universitas Northwestern memimpin penelitian yang dipublikasikan di The Astronomical Journal
  • Suhu dingin GJ504b disebabkan oleh usianya yang diperkirakan antara 2,5-4 miliar tahun
  • Atmosfernya mengandung uap air, metana, karbondioksida, dan amonia
  • Masih ada pertanyaan apakah GJ504b lahir sebagai planet raksasa atau bintang kecil

JBNews.id — Setelah lebih dari satu dekade membingungkan para ilmuwan, misteri di balik penampakan unik Planet Pink akhirnya terpecahkan. Tim astronom yang dipimpin Universitas Northwestern, menggunakan data dari Teleskop Luar Angkasa James Webb, mengungkapkan bahwa objek antariksa eksentrik ini diselimuti atmosfer yang dipenuhi awan yang terbuat dari garam.

Temuan ini dipublikasikan di jurnal The Astronomical Journal dan menjawab pertanyaan yang telah menggelayuti komunitas sains sejak planet tersebut pertama kali terdeteksi pada tahun 2013. Planet Pink, yang memiliki nama resmi GJ504b, bukanlah planet dalam pengertian klasik. Objek ini secara teknis diklasifikasikan sebagai ‘pendamping bermassa planet’, yang bisa berupa eksoplanet raksasa atau katai coklat kecil yang mengorbit sebuah bintang.

GJ504b terletak sekitar 57 tahun cahaya dari Bumi. Observasi awal menggunakan teleskop berbasis darat menunjukkan suhu permukaan objek ini sekitar 290 derajat Celsius. Suhu tersebut tergolong sangat dingin untuk objek sebesar itu, menjadikannya teka-teki tersendiri bagi para astronom. Kondisi inilah yang selama ini menyulitkan penelitian lebih lanjut.

Peran Krusial Teleskop James Webb

Keterbatasan observasi dari Bumi membuat Planet Pink sulit diteliti. Namun, kehadiran Teleskop Luar Angkasa James Webb membawa angin segar. Dengan sensitivitas inframerahnya yang superior, peneliti hanya membutuhkan waktu dua jam untuk melakukan observasi yang berhasil memecahkan misteri tersebut.

Tim astronom mempelajari GJ504b dengan mengukur emisi radiasi elektromagnetiknya yang sangat lemah. Mereka harus menyaring cahaya terang dari bintang induknya untuk bisa fokus pada pendamping planet ini. Proses ini memungkinkan mereka untuk menangkap ‘sidik jari’ cahaya atau spektrum dari atmosfer GJ504b.

“Ketika kami akhirnya mendapatkan spektrumnya, itu langsung terlihat menarik. Namun, begitu kami mulai menggali datanya lebih dalam, kami menyadari bahwa GJ504b tidak seperti apapun yang pernah kami analisis sebelumnya,” kata Aneesh Baburaj, ketua tim astronom dari Universitas Northwestern, seperti dikutip dari Space.com.

Komposisi Atmosfer dan Misteri Suhu

Analisis spektrum cahaya mengungkapkan elemen dan molekul yang ada di atmosfer Planet Pink. Para astronom mendeteksi keberadaan uap air, metana, karbondioksida, amonia, dan molekul lainnya. Namun, puncak pencerahan terjadi ketika mereka memasukkan unsur awan garam ke dalam model komputasi mereka.

Model tersebut menunjukkan bahwa partikel garam di atmosfer secara signifikan mempengaruhi cahaya yang dipantulkan dan dideteksi oleh teleskop. Inilah yang menjelaskan penampakan unik berwarna pink pada GJ504b. Awan garam tersebut menyerap dan menyebarkan panjang gelombang cahaya tertentu, menciptakan ilusi warna yang selama ini membingungkan para ilmuwan.

Selain komposisi awan, penelitian ini juga mengungkap alasan di balik suhu dingin GJ504b. Relatif dinginnya planet ini ternyata disebabkan oleh usianya. Planet raksasa gas dan katai coklat lahir dengan suhu yang sangat panas dan kemudian mendingin seiring bertambahnya usia. Penelitian terbaru ini memperkirakan GJ504b berusia antara 2,5 hingga 4 miliar tahun.

Penemuan ini membuka wawasan baru tentang bagaimana planet dan objek antariksa lainnya berkembang. Data dari James Webb memberikan konfirmasi bahwa proses pendinginan planet raksasa gas bisa berlangsung selama miliaran tahun, menghasilkan komposisi atmosfer yang unik. Fenomena serupa mungkin juga terjadi pada objek lain di alam semesta, seperti yang dibahas dalam artikel tentang sumber hidrokarbon di Titan.

Implikasi dan Pertanyaan yang Tersisa

Meskipun misteri awan garam telah terpecahkan, masih ada banyak pertanyaan mendasar tentang GJ504b yang belum terjawab. Salah satu pertanyaan terbesar adalah mengenai asal-usulnya. Para astronom belum dapat memastikan apakah Planet Pink lahir seperti planet raksasa atau seperti bintang kecil (katai coklat).

Perbedaan ini penting karena akan menentukan klasifikasi dan pemahaman kita tentang pembentukan objek antariksa. Jika GJ504b lahir seperti planet, ia akan memberikan petunjuk tentang proses akresi gas di piringan protoplanet. Sebaliknya, jika ia lahir seperti bintang, ia akan menjadi contoh katai coklat yang sangat dingin dan redup.

Penelitian lebih lanjut dengan teleskop yang lebih canggih di masa depan diperlukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. GJ504b tetap menjadi objek studi yang menarik karena posisinya di perbatasan antara planet raksasa dan katai coklat. Setiap data baru dari observasi lanjutan akan membantu astronom memahami spektrum objek antariksa di galaksi kita.

Penemuan ini juga menunjukkan betapa pentingnya teknologi observasi modern seperti James Webb. Tanpa kemampuannya untuk menangkap cahaya redup dari objek jauh, misteri seperti Planet Pink mungkin akan tetap tersembunyi. Keberhasilan ini sejalan dengan berbagai penelitian ilmiah lain yang mengandalkan data akurat.

Bagi komunitas astronomi, GJ504b kini menjadi laboratorium alami untuk mempelajari evolusi atmosfer planet. Keberadaan awan garam menunjukkan bahwa proses kimia di atmosfer planet bisa menghasilkan fenomena yang tidak terduga. Hal ini membuka kemungkinan adanya planet-planet serupa dengan komposisi unik di luar Tata Surya kita.

Implikasi dari temuan ini sangat luas. Dengan memahami bagaimana awan garam mempengaruhi suhu dan penampakan planet, ilmuwan dapat menyempurnakan model atmosfer untuk eksoplanet lain. Data ini juga berguna untuk misi luar angkasa masa depan yang bertujuan mempelajari objek antariksa di luar Tata Surya.

Penemuan tentang Planet Pink GJ504b adalah pengingat bahwa alam semesta masih menyimpan banyak misteri. Dengan alat yang tepat dan ketekunan, satu per satu misteri tersebut dapat terpecahkan, memperkaya pemahaman kita tentang kosmos.