ASSI: Indonesia Harus Jadi Pemain Industri Satelit Global

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Pameran 50 Tahun Satelit Indonesia menampilkan sejarah dan masa depan industri satelit nasional.
  • Industri satelit global berubah dari dominasi GEO ke LEO, MEO, VLEO
  • ASSI minta Indonesia ambil peluang jadi pemain, bukan hanya pasar
  • Peran satelit berkembang dari komunikasi ke penggerak ekonomi, kedaulatan, daya saing
  • Era VHTS, NGSO, D2D, dan Earth Observation ubah pemanfaatan satelit
  • Kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, riset diperlukan
  • ASSI dorong peta biru persatelitan nasional dan talenta muda
  • Peringatan 50 tahun Satelit Indonesia jadi momentum pengingat

JBNews.id — Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), Risdianto Yuli Hermansyah, mendesak Indonesia untuk segera mengambil peran sebagai pemain aktif dalam industri satelit global yang tengah berubah drastis. Pergeseran dari dominasi satelit geostasioner (GEO) ke berbagai orbit seperti Low Earth Orbit (LEO), Medium Earth Orbit (MEO), hingga Very Low Earth Orbit (VLEO) membuka peluang baru bagi Indonesia untuk membangun kemandirian di sektor antariksa.

Pernyataan itu disampaikan Risdianto dalam peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (8/7/2026). Menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat saat ini telah mengubah lanskap industri secara menyeluruh. Indonesia, kata dia, harus memanfaatkan momentum tersebut dengan memperkuat industri satelit dalam negeri melalui riset, regulasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

“Perkembangan regulasi, pengelolaan slot orbit dan spektrum frekuensi yang semakin padat secara internasional, serta kebutuhan meningkatkan tingkat komponen dalam negeri dan riset domestik harus dimanfaatkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi pemain dunia,” ujar Risdianto.

Dalam lima dekade terakhir, peran satelit telah berkembang jauh melampaui fungsi awalnya sebagai sarana komunikasi. Saat Satelit Palapa pertama kali diluncurkan pada 1976, teknologi satelit berfungsi menghubungkan wilayah Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Kini, satelit menjadi infrastruktur penting yang menopang transformasi digital di berbagai sektor, mulai dari mitigasi bencana, pemantauan wilayah, pengelolaan sumber daya alam, pertahanan dan keamanan, hingga mendukung layanan keuangan digital.

“Satelit telah bertransformasi dari media komunikasi menjadi penggerak ekonomi, penjaga kedaulatan, dan pendorong daya saing bangsa,” kata Risdianto.

Era Baru Teknologi Satelit

Industri satelit kini memasuki era Very High Throughput Satellite (VHTS) yang mampu menyediakan kapasitas internet jauh lebih besar dan semakin terintegrasi dengan jaringan terestrial. Kemunculan megakonstelasi satelit non-geostasioner (NGSO), teknologi Direct-to-Device (D2D) yang memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit, hingga pemanfaatan satelit Earth Observation berbasis analitik telah mengubah cara satelit dimanfaatkan di berbagai sektor.

Perubahan ini, menurut Risdianto, bukan sekadar tantangan tetapi juga peluang besar bagi Indonesia. Ia menilai Indonesia memiliki pasar yang besar sekaligus kebutuhan konektivitas yang tinggi sebagai negara kepulauan. Kondisi itu dapat menjadi modal untuk memperkuat ekosistem satelit nasional apabila didukung kebijakan yang tepat. Transformasi digital yang didorong oleh sektor ini juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi digital nasional.

“Satelit menjadi fondasi konektivitas, memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dari arus digital,” ujarnya.

Kolaborasi untuk Kemandirian

Risdianto menegaskan, pembangunan industri satelit tidak bisa hanya mengandalkan operator satelit. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga riset agar Indonesia mampu memanfaatkan peluang ekonomi antariksa yang terus berkembang. Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah yang telah menyepakati agenda besar untuk memacu transformasi digital nasional.

Sebagai organisasi yang mewadahi pelaku industri satelit, ASSI menyatakan siap menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun ekosistem satelit nasional. Risdianto mengatakan ASSI mendorong lahirnya peta biru persatelitan nasional sebagai acuan pengembangan industri satelit Indonesia dalam jangka panjang. Selain memperkuat industri dalam negeri, organisasi tersebut juga ingin mendorong lahirnya lebih banyak talenta muda yang mampu bersaing di sektor antariksa.

“Harapan kami, Indonesia dapat tumbuh menjadi pemain kunci yang mandiri dengan ekosistem industri satelit nasional yang matang dari hulu hingga hilir,” kata Risdianto.

Momentum peringatan 50 tahun Satelit Indonesia, menurutnya, tidak seharusnya hanya menjadi ajang mengenang keberhasilan Satelit Palapa. Lebih dari itu, peringatan tersebut perlu menjadi pengingat bahwa industri satelit dunia sedang berubah cepat dan Indonesia memiliki kesempatan untuk mengambil peran yang lebih besar melalui kolaborasi, inovasi, serta penguatan industri dalam negeri. Kehadiran pemain global seperti Amazon yang siap menantang Starlink menunjukkan betapa kompetitifnya sektor ini, dan Indonesia harus siap bersaing.

Dengan pasar yang besar dan kebutuhan konektivitas yang tinggi, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat. Namun, tanpa kebijakan yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, peluang itu bisa hilang. ASSI mendorong agar peta biru persatelitan nasional segera direalisasikan sebagai panduan bagi seluruh pemangku kepentingan.

Implikasinya bagi masyarakat luas, penguatan industri satelit nasional akan mempercepat pemerataan akses internet di seluruh Indonesia, termasuk di daerah terpencil. Hal ini pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekonomi digital, meningkatkan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, serta memperkuat ketahanan nasional. Bagi pelaku industri, ini adalah peluang untuk berinvestasi dan berinovasi di sektor yang menjanjikan.