JBNews.id — Musisi 1010Benja membuktikan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak selalu menghasilkan musik yang membosankan. Lewat lagu “Semiramis’ Dream” dari EP terbarunya Time Has Nothing To Do With What You Choose…, ia berhasil menciptakan trek yang dinilai infeksius dan layak didengar, meskipun menggunakan Suno sebagai alat bantu produksi.
Lagu pembuka EP tersebut langsung meledak dengan irama jungle dan vokal manusia yang jelas terdengar di bagian depan. Pendengar mungkin tidak akan langsung menyadari bahwa lagu ini merupakan produk dari Suno karena minimnya ciri khas AI yang biasanya mudah dikenali. Bagian yang paling terasa buatan—paduan suara vokal latar—berhasil disamarkan di tengah potongan hiperpop yang cepat dan agresif.
Dalam wawancara dengan Hearing Things, Benja mengungkapkan proses kreatifnya secara terbuka. “Teman saya Patrick Holder mengerjakan irama. Saya merekam vokal. Kemudian kami memasukkan elemen-elemen itu ke Suno, memilih sesuatu, mengeluarkannya, mengeditnya di Ableton, lalu memasukkannya kembali ke Suno,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa proses tersebut diulang hingga ratusan kali untuk satu lagu.
Benja memperkirakan ia melakukan siklus edit-masuk-kembali itu sebanyak beberapa ratus kali untuk “Semiramis’ Dream.” Hasilnya, lagu tersebut tidak memiliki banyak tanda-tanda umum hasil AI, seperti suara robotik atau ketidakkonsistenan ritme yang mencolok. Vokal yang diproses berat dan terdengar artifisial justru menjadi kekuatan, bukan kelemahan, karena genre pop modern memang sering menggunakan efek serupa.
Etika dan Realitas Finansial
Meskipun menggunakan AI secara terbuka, Benja tidak menutup mata terhadap konsekuensi etis yang menyertainya. Ia mengakui kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh teknologi ini, namun dengan nada nihilistik ia mengatakan bahwa perusahaan serakah tidak bisa dihentikan. “Pria baik tidak menang dalam kasus ini,” katanya.
Alasan utama Benja menggunakan AI adalah keterbatasan finansial. “Satu-satunya alasan saya menggunakan gen AI sama sekali adalah karena visi saya saat ini jauh melampaui kemampuan saya,” ungkapnya. Ia mencontohkan bahwa orang bertanya apakah ia menggunakan AI untuk EP ini, dan ia menjawab sarkastis, “Tidak, saya menyewa paduan suara anak-anak profesional.”
Realitasnya, Benja adalah seniman yang berjuang dan pernah mengalami periode tunawisma meskipun karyanya Ten Total mendapatkan predikat Best New Music dari Pitchfork. Kondisi ini membuat banyak pihak bersimpati terhadap pilihannya menggunakan AI sebagai alat untuk mewujudkan visi artistik yang tidak bisa ia capai dengan cara konvensional karena keterbatasan biaya.
Penggunaan AI oleh 1010Benja menunjukkan bahwa teknologi ini bisa menjadi solusi bagi musisi independen yang ingin mengeksplorasi suara baru tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Namun, hal ini juga memunculkan pertanyaan tentang batasan etis dan dampak jangka panjang terhadap industri musik.
Baca Juga:
Proses Kreatif Berlapis
Yang membedakan Benja dari sebagian besar pengguna Suno lainnya adalah pendekatan kreatifnya yang berlapis. Ia menulis lirik, menyanyikan vokal, dan bekerja sama dengan kolaborator untuk memainkan musik. Kemudian, semua elemen itu dimasukkan ke Suno, hasilnya diedit di Ableton, ditambahkan lapisan baru, dan dimasukkan kembali ke Suno—diulang terus-menerus.
Proses ini menghasilkan suara yang jauh lebih organik dibandingkan dengan lagu-lagu AI lain yang hanya mengandalkan input teks sederhana. Benja tidak hanya menekan tombol dan menerima apa pun yang dihasilkan AI; ia secara aktif membentuk dan menyempurnakan output hingga mencapai hasil yang diinginkan.
Meskipun demikian, perlu diakui bahwa secara sonik, banyak elemen dalam “Semiramis’ Dream” sebenarnya bisa dicapai tanpa AI. Efek paduan suara anak-anak yang dihasilkan AI tidak terlalu meyakinkan, dan efek serupa bisa didapatkan dengan rekaman berlapis dan pemrosesan vokal yang cerdas. Namun, bagi Benja yang memiliki keterbatasan sumber daya, AI menawarkan jalan pintas yang efisien.
Kisah 1010Benja menjadi contoh menarik tentang bagaimana AI dapat digunakan secara bertanggung jawab dalam seni, terutama oleh mereka yang memiliki visi besar namun sumber daya terbatas. Ini juga menjadi pengingat bahwa teknologi hanyalah alat; hasil akhirnya tetap tergantung pada kreativitas dan ketelitian penggunanya.
Bagi industri musik Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pelajaran berharga. Musisi lokal yang ingin bereksperimen dengan suara baru namun terkendala biaya bisa melihat pendekatan Benja sebagai alternatif. Namun, penting untuk tetap kritis terhadap dampak lingkungan dan etika yang menyertainya.
Untuk memahami lebih dalam tentang dampak AI di berbagai sektor, Anda bisa membaca artikel tentang xAI Gugat Pengguna yang membahas sisi gelap teknologi ini. Sementara itu, berita tentang Grok Elon Musk menunjukkan pentingnya regulasi dalam penggunaan AI.
Pada akhirnya, 1010Benja mungkin belum mengubah pandangan skeptis terhadap AI art. Namun, ia telah membuktikan bahwa di tangan yang tepat, Suno tidak harus menjadi mesin penghasil sampah. Dengan pendekatan kreatif yang tepat, AI bisa menjadi alat yang memperkaya, bukan menggantikan, kreativitas manusia.




