JBNews.id, JAKARTA – CEO Meta, Mark Zuckerberg, mengakui bahwa perkembangan agen kecerdasan buatan (AI) di perusahaannya tidak berjalan secepat yang diperkirakan. Pengakuan ini disampaikan dalam sebuah town hall pekan lalu, menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi raksasa teknologi tersebut di tengah persaingan AI global yang semakin ketat.
Menurut laporan Reuters yang mengutip rekaman acara tersebut, Zuckerberg menyatakan bahwa “trajectory of the agentic development over at least the last four months hasn’t really accelerated in the way that we expected.” Pernyataan ini menjadi pengakuan mengejutkan setelah Meta melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang menghilangkan ribuan posisi di perusahaan.
Lebih lanjut, Zuckerberg juga mengakui bahwa waktu pelaksanaan restrukturisasi tidak tepat dan proses PHK tidak berjalan “bersih” (clean). Ia menambahkan bahwa rencana tersebut belum “terealisasi” (come to fruition). Situasi ini merupakan indikasi terbaru dari kekacauan di balik layar yang dialami Meta saat berusaha tetap relevan dalam perlombaan AI yang dimenangkan oleh para pesaingnya.
Investasi Raksasa, Hasil Minim
Pengakuan ini sangat kontras dengan besarnya investasi yang digelontorkan Meta. Perusahaan yang bermarkas di Menlo Park, California itu berkomitmen untuk menghabiskan dana sebesar $145 miliar untuk infrastruktur AI tahun ini saja. Jumlah tersebut merupakan rekor baru dan bisa digunakan untuk membayar gaji dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya.
Ironisnya, di tengah upaya yang fluktuatif ini, Meta justru sangat bergantung pada model AI milik pesaing untuk membangun alat internalnya sendiri. Situasi ini menunjukkan betapa beratnya persaingan yang harus dihadapi Meta, bahkan setelah mengeluarkan dana sebesar itu. Anda dapat membaca lebih lanjut mengenai investasi AI Meta yang belum membuahkan hasil maksimal.
Tren ini juga menyoroti kenyataan pahit yang mulai disadari banyak perusahaan teknologi: menggantikan pekerja manusia dengan AI ternyata jauh lebih sulit dari perkiraan. Beberapa perusahaan bahkan terpaksa mempekerjakan kembali karyawan yang sebelumnya di-PHK. Hal serupa juga dirasakan oleh karyawan Meta yang moralnya terus menurun, bahkan mereka menolak hackathon yang digagas Zuckerberg.
Masalah Baru: Program Pelacakan Karyawan
Selain masalah AI, para pemimpin Meta juga harus menghadapi isu sensitif lainnya dalam town hall pekan lalu. Bulan lalu, Meta terpaksa menghentikan program pelacakan karyawan yang kontroversial. Program ini dirancang untuk merekam semua aktivitas pekerja di komputer kerja mereka guna mengumpulkan data untuk AI. Penghentian dilakukan setelah informasi sensitif karyawan bocor secara internal.
CTO Meta, Andrew Bosworth, berjanji bahwa program tersebut akan bersifat “sukarela” (opt-in) jika diaktifkan kembali. “Bagi orang yang merasa nyaman, itu bagus, mereka dapat berkontribusi pada survei manusia yang hebat ini,” ujar Bosworth dalam town hall tersebut. “Bagi orang yang tidak nyaman, itu bukan masalah.”
Meskipun dihadapkan pada berbagai tanda bahaya, Zuckerberg tetap optimis. Menurut sang CEO, Meta bisa melihat manfaat besar dari investasi AI-nya dalam waktu tiga hingga enam bulan ke depan. Namun, mengingat perjalanan yang telah dilalui, banyak pihak yang meragukan optimisme ini.
Baca Juga:
Implikasinya bagi industri teknologi dan investor sangat jelas. Meskipun Meta telah menggelontorkan dana fantastis, hasil nyata dari investasi AI tersebut masih jauh dari harapan. Hal ini menjadi pelajaran berharga bahwa modal besar tidak selalu menjamin kesuksesan dalam perlombaan teknologi yang sangat kompetitif. Bagi para pengamat dan pelaku industri, pernyataan Zuckerberg ini menjadi sinyal bahwa bahkan perusahaan sekelas Meta pun bisa tersandung dalam upayanya menguasai teknologi masa depan.
Ke depan, fokus akan tertuju pada apakah Meta dapat membalikkan keadaan dalam tiga hingga enam bulan ke depan, atau justru akan semakin tertinggal dari para pesaingnya yang sudah lebih dulu melesat.
Untuk memahami lebih dalam tentang dinamika internal Meta, Anda bisa membaca artikel terkait tentang penolakan karyawan terhadap hackathon yang menjadi salah satu indikator rendahnya moral di perusahaan.




