Laboratorium Luar Angkasa Startup Inggris Uji Riset Penyakit

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Pod laboratorium luar angkasa Mass Balance di orbit Bumi
  • Mass Balance luncurkan laboratorium otonom ke orbit via SpaceX untuk uji coba riset protein
  • Perangkat sebesar jeruk bali akan orbit Bumi beberapa bulan, kirim data sel hidup
  • Fokus pada studi protein tidak terstruktur penyebab Alzheimer, Parkinson, dan kanker
  • Data mikrogravitasi akan latih model AI untuk prediksi perilaku protein
  • Model bisnis: jual lisensi data dan akses model AI ke perusahaan farmasi
  • Berbeda kompetitor, Mass Balance tidak bawa pulang perangkat, hemat biaya

JBNews.id — Startup asal Inggris, Mass Balance, berhasil meluncurkan laboratorium otonom berukuran kecil ke orbit pada Selasa pagi (9/6/2026) melalui misi SpaceX. Tujuan utamanya adalah menguji apakah sistem tersebut dapat berfungsi di luar angkasa untuk mempelajari protein penyebab penyakit yang sulit diteliti di Bumi akibat gravitasi.

Percobaan ini menggunakan alat sebesar jeruk bali yang berisi bahan kimia, sensor, dan elemen kontrol. Perangkat tersebut dipasang di dalam pod berukuran 10 sentimeter (4 inci) buatan perusahaan Austria, Tumbleweed. Selama beberapa bulan ke depan, eksperimen ini akan mengorbit Bumi secara otomatis, mengukur, dan mengirimkan data tentang bagaimana sel hidup tumbuh, bereaksi, dan berfungsi di bawah gravitasi lemah.

Ini adalah uji coba pertama dari sistem yang diharapkan perusahaan dapat menghasilkan data berkualitas tinggi yang tidak bisa diperoleh di Bumi. Di planet kita, gravitasi yang lebih kuat menimbulkan efek seperti konveksi (aliran panas) dan sedimentasi (pengendapan senyawa berat), yang mengaburkan pengumpulan data.

“Ketika gravitasi dihilangkan, banyak hal aneh dan menakjubkan terjadi, beberapa di antaranya akan sangat berharga bagi ilmu hayati dan farmasi,” kata Toby Call, salah satu pendiri sekaligus CEO Mass Balance, dalam sebuah wawancara. “Kedengarannya liar hari ini, tetapi tujuannya adalah membuat luar angkasa menjadi membosankan, andal, dan hanya sekadar lingkungan riset lain.”

Potensi Besar untuk Riset Penyakit Degeneratif

Lingkungan riset ini bisa menjadi krusial untuk pencitraan protein tidak terstruktur (disordered proteins), menurut Call. Protein-protein ini bertanggung jawab atas penyakit terkait usia seperti Alzheimer, Parkinson, dan beberapa jenis kanker. Di Bumi, protein ini terus berubah bentuk, sehingga sulit untuk dijadikan gambar.

Kondisi tersebut menciptakan celah dalam data pelatihan untuk model ilmu hayati seperti AlphaFold milik Google. Model-model itu tidak dapat memprediksi bagaimana protein tidak terstruktur akan berperilaku dan merespons obat-obatan. Namun, para ilmuwan percaya bahwa di luar angkasa, beberapa protein penyebab penyakit ini mungkin lebih mudah dipelajari dan dianalisis.

Call berencana menghasilkan data dengan menjalankan tes pada protein tidak terstruktur dalam kondisi mikrogravitasi. Data itu akan digunakan untuk melatih adaptor model kecerdasan buatan (AI) yang mengisi celah informasi tersebut. Model, lisensi data, dan akses data akan menjadi sumber pendapatan utama perusahaannya.

Uji Coba Sistem dan Persaingan Industri

Saat ini, Mass Balance masih dalam tahap menguji sistem operasi dan penangkapan data. Misi Selasa lalu akan membawa biokatalis industri ke luar angkasa, yang akan memecah senyawa kimia lain. Platform tersebut akan memantau proses menggunakan cahaya untuk memastikan reaksi kimia berjalan sesuai rencana.

Beberapa startup bioteknologi lain juga berupaya mengembangkan laboratorium orbit. Pada Mei lalu, perusahaan Inggris BioOrbit meluncurkan unit uji untuk menumbuhkan kristal ultra-murni dan stabil yang dapat diubah menjadi obat kanker suntik. Sementara itu, Varda Space Industries asal Amerika juga mengerjakan pemrosesan obat-obatan dalam kondisi mikrogravitasi.

Berbeda dengan dua perusahaan tersebut, Mass Balance tidak berusaha membawa sistemnya kembali ke Bumi dalam keadaan utuh. Keputusan ini akan menghemat sebagian dari tantangan teknik yang lebih besar, seperti memastikan perangkat dapat menahan panas ekstrem dan tekanan yang dialami satelit saat kembali melalui atmosfer Bumi.

“Mikrogravitasi adalah alat baru yang kurang dimanfaatkan,” kata Call. Pandangan ini sejalan dengan upaya eksplorasi ilmiah lainnya, termasuk penemuan fosil yang mengungkap sejarah planet kita.

Implikasi bagi Dunia Farmasi dan Riset

Keberhasilan uji coba Mass Balance dapat membuka jalan bagi metode baru dalam pengembangan obat. Jika data dari luar angkasa mampu mengisi celah pemahaman tentang protein tidak terstruktur, maka penemuan obat untuk penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson bisa dipercepat.

Model bisnis yang diusung Call—menjual akses data dan lisensi model AI—menunjukkan bahwa nilai komersial riset luar angkasa tidak lagi terbatas pada peluncuran satelit atau pariwisata. Data ilmiah berkualitas tinggi dari orbit bisa menjadi komoditas bernilai tinggi bagi perusahaan farmasi global.

Namun, perjalanan masih panjang. Uji coba saat ini baru sebatas memastikan reaksi kimia dasar dapat terjadi secara otomatis di luar angkasa. Jika berhasil, langkah berikutnya adalah membawa sampel protein tidak terstruktur ke orbit untuk pengujian yang lebih kompleks.

Bagi industri, perkembangan ini menandai babak baru dalam pemanfaatan luar angkasa. Bukan lagi sekadar eksplorasi, tetapi sebagai perpanjangan laboratorium riset di Bumi. Inovasi serupa juga terlihat dalam berbagai bidang, seperti analisis ilmiah yang diterapkan pada fenomena sehari-hari.

Dengan pendekatan yang lebih pragmatis—tidak perlu membawa pulang perangkat—Mass Balance berpotensi menekan biaya dan kompleksitas misi. Hal ini bisa membuat riset luar angkasa lebih terjangkau bagi lebih banyak institusi akademik dan perusahaan rintisan di masa depan.