JBNews.id — Platform media sosial X resmi meluncurkan layanan perbankan bernama X Money untuk pengguna Premium dan Premium Plus, menawarkan fitur penyimpanan dana hingga penarikan tunai melalui kartu debit Visa, namun langkah ini langsung menuai skeptisisme dari berbagai pihak terkait rekam jejak keamanan platform.
Layanan yang baru saja diaktifkan ini memungkinkan pengguna yang sudah membayar hingga 40 dolar AS per bulan untuk mendapatkan fitur penyimpanan dana dalam rekening deposito. X Money juga menjanjikan cash-back sebesar tiga persen dan bunga tahunan (APY) mencapai enam persen—angka yang kompetitif di industri perbankan digital.
Namun, di balik insentif finansial tersebut, kekhawatiran serius muncul. Senator Amerika Serikat Elizabeth Warren (D-MA) telah mengirimkan surat langsung kepada Elon Musk awal tahun ini, menyoroti potensi risiko yang dibawa X Money terhadap konsumen, keamanan nasional, dan stabilitas sistem keuangan. “Kegagalan Anda mengoperasikan X dengan cara yang aman dan bertanggung jawab tidak menumbuhkan kepercayaan pada kemampuan Anda untuk berekspansi secara aman ke layanan keuangan konsumen,” tulis Warren dalam suratnya.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Platform X selama ini dikenal luas sebagai tempat penyebaran misinformasi, materi pelecehan seksual anak, dan ujaran kebencian—sekaligus menjadi ruang gema yang menyedihkan bagi CEO-nya yang kini banyak dibenci publik. Menitipkan tabungan hidup pada perusahaan dengan reputasi semacam ini jelas membuat banyak orang berpikir dua kali.
Ambisi Musk di sektor finansial sebenarnya sudah ada sejak lama. Pada 1999, ia mendirikan sistem pembayaran e-commerce X.com, yang kemudian bergabung dengan perusahaan lain pada 2000 hingga akhirnya membentuk PayPal. Namun, dewan direksi saat itu memecat Musk dan menggantinya dengan Peter Thiel akibat perbedaan pendapat besar—sebuah sumber frustrasi yang masih terasa hingga kini bagi CEO SpaceX tersebut.
Baca Juga:
X Money merupakan bagian dari visi besar Musk untuk mengubah X menjadi “aplikasi segalanya” (the everything app). Mantan CEO X Linda Yaccarino, yang dikenal sebagai juru bicara Musk, pernah menyatakan bahwa platform ini “dapat memberikan, yah… segalanya.” Ambisi ini mengingatkan pada aplikasi asal China, WeChat, yang memang telah berhasil mengintegrasikan berbagai layanan dalam satu platform.
Namun, tantangan terbesar Musk bukanlah teknologi, melainkan kepercayaan publik. Perilaku kontroversialnya dalam beberapa tahun terakhir telah mengubahnya menjadi salah satu figur paling dibenci di planet ini. Meyakinkan masyarakat untuk menaruh uang mereka di ekosistem X tampaknya akan jauh lebih sulit dari yang dibayangkan, terutama dalam urusan keuangan pribadi.
Bahkan untuk meluncurkan fitur ini saja, Musk mengalami kesulitan yang jauh lebih besar dari perkiraannya. Ia awalnya berjanji bahwa layanan perbankan akan diluncurkan pada akhir 2024. “Saya akan terkejut jika kami tidak meluncurkannya pada akhir tahun depan,” kata Musk kepada karyawan Twitter saat itu pada Oktober 2023. Kenyataannya, ia melewatkan tenggat waktu tersebut lebih dari dua setengah tahun—sebuah keterlambatan yang signifikan bahkan untuk standar industri teknologi.
Dari sisi teknis, X Money menawarkan kemudahan akses melalui kartu debit Visa fisik yang memungkinkan penarikan tunai di ATM. Namun, serangan bot transaksi digital yang semakin marak justru menjadi kekhawatiran tambahan bagi calon pengguna. Keamanan siber menjadi isu krusial ketika menyangkut uang sungguhan, dan reputasi X dalam menangani masalah keamanan masih jauh dari kata memuaskan.
Bagi pengguna Premium dan Premium Plus yang sudah terbiasa membayar puluhan dolar per bulan, tawaran cash-back tiga persen dan APY enam persen mungkin terdengar menggiurkan. Namun, pertanyaan mendasar tetap ada: apakah risiko menyimpan dana di platform yang dikenal bermasalah sebanding dengan imbal hasil yang ditawarkan?
Langkah Musk ini juga menarik diamati dalam konteks persaingan bisnisnya yang lain. Baru-baru ini, Elon Musk mengolok-olok Sam Altman setelah OpenAI digugat Apple, menunjukkan bahwa persaingan di dunia teknologi semakin memanas. Ekspansi X ke sektor finansial bisa menjadi batu loncatan atau justru batu sandungan bagi ambisi besar Musk.
Belum lagi, jika X Money mengalami kebocoran data atau penyalahgunaan, dampaknya bisa sangat luas. Senator Warren telah memperingatkan bahwa risiko ini tidak hanya menyangkut konsumen individu, tetapi juga keamanan nasional dan stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Peringatan ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja.
Dari sudut pandang bisnis, langkah X masuk ke layanan keuangan sebenarnya masuk akal. Platform ini membutuhkan sumber pendapatan baru di luar iklan dan langganan premium. Dengan basis pengguna yang masih cukup besar, meskipun terus menurun, layanan perbankan bisa menjadi sumber pendapatan yang stabil dan berulang.
Namun, eksekusi menjadi kunci. Musk dikenal sebagai sosok yang ambisius namun sering kali gagal dalam hal ketepatan waktu dan konsistensi. Keterlambatan lebih dari dua tahun dalam meluncurkan X Money menunjukkan bahwa timnya masih bergulat dengan berbagai tantangan teknis dan regulasi.
Bagi konsumen Indonesia, kehadiran X Money mungkin masih terasa jauh. Namun, tren global seperti ini sering kali menjadi indikator arah industri keuangan digital ke depannya. Jika X Money sukses, bukan tidak mungkin platform serupa akan muncul di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Yang jelas, langkah Musk ini akan menjadi ujian besar bagi kemampuannya dalam membangun kepercayaan publik. Dalam industri keuangan, kepercayaan adalah segalanya. Tanpa kepercayaan, tidak peduli seberapa canggih teknologi atau seberapa besar insentif yang ditawarkan, konsumen tidak akan mau menitipkan uang mereka.
Implikasinya jelas: X Money harus membuktikan bahwa platform ini aman, andal, dan dapat dipercaya—bukan sekadar proyek ambisius seorang miliarder kontroversial. Dan dengan rekam jejak Musk yang penuh kontroversi, jalan menuju kepercayaan publik tampaknya masih panjang dan berliku.




