Waze dan Kontroversi Keterkaitan dengan Israel

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Aplikasi Waze di ponsel dengan latar belakang peta navigasi
  • Pengguna Waze curigai keterkaitan aplikasi dengan Israel setelah klausul hukum merujuk ke pengadilan Tel Aviv
  • Waze didirikan oleh mantan insinyur Unit 8200 militer Israel pada 2006
  • Google akuisisi Waze 2013 seharga USD 1 miliar
  • Google bantah tuduhan pembobolan privasi data pengguna
  • Insiden 2025: Waze diduga biayai pelantikan Presiden AS Donald Trump
  • Insiden 2016: Tentara Israel pakai Waze serbu kamp pengungsi Palestina
  • Pengguna disarankan waspada terhadap keamanan data aplikasi navigasi

JBNews.id — Pengguna aplikasi navigasi Waze mulai mempertanyakan keterkaitan aplikasi tersebut dengan pemerintah Israel setelah ditemukan klausul penggunaan yang merujuk pada hukum Israel. Kekhawatiran ini muncul di media sosial sejak awal Juli 2026 dan memicu perdebatan mengenai keamanan data pengguna.

Berdasarkan laporan Yahoo!Tech pada Rabu (22/7/2026), banyak pengguna Waze menyadari adanya temuan mencurigakan yang sebelumnya luput dari perhatian. Klausul penggunaan Waze secara eksplisit menyebutkan bahwa masalah hukum akan merujuk kepada aturan hukum Israel dan pengadilan di Tel Aviv. Informasi ini tercantum di halaman bantuan Waze pada bagian Governing Law and Jurisdiction.

Sejarah Waze dan Kaitan dengan Israel

Untuk memahami kekhawatiran ini, perlu menelusuri sejarah berdirinya Waze. Pada tahun 2006, lahirlah aplikasi bernama FreeMap Israel yang dibuat oleh Uri Levine, Ehud Shabtai, dan Amir Shinar. Ketiganya diketahui sebelumnya aktif dalam militer Israel. CNN melaporkan bahwa mereka adalah mantan insinyur dari Unit 8200, unit intelijen militer Israel yang terkenal.

Pada tahun 2009, aplikasi ini berganti nama menjadi Waze. Google kemudian mengakuisisi Waze pada tahun 2013 dengan nilai transaksi mencapai USD 1 miliar. Meskipun telah diakuisisi oleh perusahaan Amerika Serikat, akar sejarah Waze tetap terkait erat dengan Israel.

Kecurigaan Pengguna dan Klarifikasi Google

Suara kecurigaan pengguna Waze menguat sejak awal Juli 2026. Mereka mempertanyakan apakah pemerintah Israel membobol privasi pengguna Waze dan apakah aplikasi ini memata-matai penggunanya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.

Menanggapi hal ini, juru bicara Google memberikan klarifikasi kepada Snopes, kontributor Yahoo!Tech. Google membantah tegas kecurigaan dan tuduhan tersebut. “Kami beroperasi dengan aturan ketat dan melindungi data pengguna. Sudah menjadi standar bahwa masalah hukum selalu ditangani pengadilan di negara tempat kantor pusat developer app,” jelas Google.

Klarifikasi ini menekankan bahwa klausul yurisdiksi hukum merupakan praktik standar dalam industri teknologi, bukan indikasi adanya pengawasan khusus oleh pemerintah Israel. Namun, kekhawatiran publik tetap ada mengingat rekam jejak Waze sebelumnya.

Kejadian serupa bukan pertama kali terjadi. Pada tahun 2025, Waze dicurigai membiayai pelantikan Presiden AS Donald Trump. Meskipun aturan pilpres AS mengizinkan dana sponsor kampanye dari swasta, publik menilai pendanaan dari perusahaan Israel untuk capres Amerika Serikat sebagai hal yang tidak patut.

Insiden Masa Lalu yang Memicu Kecurigaan

Pada tahun 2016, BBC memberitakan bahwa tentara Israel menggunakan Waze untuk menggeruduk kamp pengungsi Palestina. Terhadap kejadian tersebut, pihak Waze berkilah bahwa para tentara tidak menggunakan fitur keamanan untuk menghindari area berbahaya. Insiden ini menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan Waze dan Israel.

Kekhawatiran privasi pengguna aplikasi navigasi bukanlah isu baru. Beberapa kasus kejahatan siber juga melibatkan modus pencurian data melalui aplikasi populer. Pengguna Waze di Indonesia pun mulai waspada terhadap potensi risiko ini.

Implikasi bagi Pengguna Waze di Indonesia

Bagi pengguna Waze di Indonesia, temuan ini menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan data pribadi. Waze mengumpulkan data lokasi real-time, rute perjalanan, dan preferensi pengguna. Jika data ini jatuh ke tangan yang salah, potensi penyalahgunaan sangat besar.

Google sebagai induk perusahaan telah memberikan jaminan keamanan data. Namun, pengguna tetap disarankan untuk memahami kebijakan privasi aplikasi yang digunakan. Kesadaran akan risiko keamanan digital menjadi semakin penting di era teknologi saat ini.

Beberapa pengguna mulai mencari alternatif aplikasi navigasi lain sebagai langkah antisipasi. Perbandingan antara Google Maps dan Waze pun kembali menjadi topik diskusi di kalangan pengguna teknologi.

Kontroversi ini menunjukkan bahwa pengguna semakin kritis terhadap aplikasi yang mereka gunakan sehari-hari. Kesadaran akan asal-usul perusahaan dan kebijakan data menjadi pertimbangan penting dalam memilih layanan teknologi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari pihak Waze maupun Google Indonesia terkait kekhawatiran pengguna di Tanah Air. Pengguna diimbau untuk tetap waspada dan memantau perkembangan informasi dari sumber terpercaya.