JBNews.id — CEO Ubisoft Yves Guillemot menyatakan dukungannya terhadap keputusan Sony untuk meninggalkan cakram fisik pada konsol PlayStation. Langkah itu dinilai dapat menyelamatkan industri game dalam jangka panjang.
Pernyataan Guillemot disampaikan dalam pertemuan triwulanan dengan para investor Ubisoft. Ketika ditanya apakah strategi baru Sony berpotensi menciptakan hambatan bagi industri, Guillemot justru memiliki pandangan berbeda.
Alih-alih menyatakan kekhawatiran, Guillemot merujuk pada pasar game PC sebagai contoh bagaimana ekosistem serba digital tetap bisa berkembang pesat. Menurutnya, transisi ke digital justru membawa dampak positif bagi pertumbuhan pasar.
“Apa yang kami lihat pada PC adalah bahwa hal itu membantu pertumbuhan pasar. Ada juga tekanan untuk masa depan terkait biaya mesin, dan kemampuan untuk sepenuhnya digital akan membantu membuat mesin lebih mudah diakses, menurut saya. Ada untung dan ruginya, tetapi kami pikir itu tidak akan terlalu mengganggu industri,” kata Guillemot, dilansir Dexerto, Selasa (28/7/2026).
Game PC sebagian besar telah beralih dari cakram fisik ke digital melalui platform seperti Steam, Epic Games Store, GOG, dan lainnya. Pergeseran itu diimbangi dengan pertumbuhan signifikan di pasar PC. Guillemot menilai masuk akal jika PlayStation akan mengalami efek serupa.
Data terbaru menunjukkan bahwa saat Xbox dan PlayStation sedang lesu, Steam justru berada di atas angin. Pada paruh pertama 2026, Steam mencatatkan hasil tertinggi sepanjang sejarah dengan pendapatan sebesar USD 1,1 miliar atau sekitar Rp 19,9 triliun.
Baca Juga:
Meski mendapat dukungan dari Ubisoft, keputusan PlayStation meninggalkan cakram pada 2028 tidak mendapat respons yang sepenuhnya positif. Pengumuman itu langsung menuai kritik dari para pemain yang khawatir kehilangan kemampuan untuk membeli, menjual, dan mengoleksi game fisik.
Sejumlah gamer mulai membuat petisi dan menyuarakan kekhawatiran terhadap masa depan industri ini. Mereka menilai bahwa hilangnya media fisik akan mengurangi kepemilikan dan kontrol konsumen atas produk game yang mereka beli.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah Sony ini sejalan dengan tren digitalisasi yang sudah terjadi di industri hiburan lainnya. Industri musik dan film telah lebih dulu beralih ke distribusi digital, meskipun tetap menyisakan segmen kolektor yang setia pada media fisik.
Ubisoft sendiri memiliki pengalaman panjang dalam industri game. Perusahaan yang didirikan oleh Co-founder Ubisoft ini telah menyaksikan berbagai perubahan model bisnis selama beberapa dekade terakhir.
Bagi para pengembang game, transisi ke digital juga membawa keuntungan dalam hal distribusi dan pembaruan konten. Game digital memungkinkan pengembang untuk merilis pembaruan, patch, dan konten tambahan secara lebih efisien tanpa harus melalui proses produksi cakram fisik.
Sony belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut mengenai timeline transisi ini. Namun, keputusan untuk meninggalkan cakram pada 2028 memberikan waktu bagi industri dan konsumen untuk beradaptasi dengan perubahan besar ini.
Dampak dari keputusan ini juga akan dirasakan oleh jaringan ritel yang selama ini mengandalkan penjualan game fisik. Toko-toko game mungkin perlu menyesuaikan model bisnis mereka untuk tetap relevan di era digital.
Meskipun demikian, Guillemot optimistis bahwa industri game akan mampu melewati masa transisi ini. Ia menekankan bahwa pertumbuhan pasar PC yang didorong oleh platform digital membuktikan bahwa model bisnis ini berkelanjutan.
Ubisoft sendiri tengah menghadapi tantangan internal. Perusahaan baru saja melakukan restrukturisasi dengan PHK massal yang mempengaruhi 380 karyawan dan penutupan dua studio. Keputusan Sony ini bisa menjadi angin segar bagi strategi digital Ubisoft ke depan.
Di sisi lain, para analis industri menilai bahwa langkah Sony ini merupakan respons terhadap perubahan perilaku konsumen. Semakin banyak gamer yang beralih ke pembelian digital karena kemudahan akses dan penyimpanan yang tidak memakan ruang fisik.
Namun, kekhawatiran tentang kepemilikan game digital tetap menjadi isu utama. Berbeda dengan game fisik yang bisa diperjualbelikan kembali, game digital umumnya terikat pada akun pengguna dan platform tertentu.
Pasar game Indonesia juga akan terkena dampak dari keputusan ini. Meskipun penetrasi game digital di Indonesia sudah cukup tinggi, masih ada segmen gamer yang mengandalkan media fisik karena keterbatasan infrastruktur internet.
Keputusan Sony untuk meninggalkan cakram pada 2028 memberi waktu bagi para pemangku kepentingan untuk mempersiapkan transisi. Ini termasuk pengembang game, penerbit, retailer, dan tentu saja para gamer itu sendiri.
Bagi Ubisoft, dukungan terhadap langkah Sony ini sejalan dengan strategi perusahaan yang semakin fokus pada distribusi digital. Perusahaan telah lama mengembangkan layanan Ubisoft Connect sebagai platform digital untuk game-game mereka.
Industri game global terus bergerak menuju digitalisasi penuh. Dengan dukungan dari pemain besar seperti Ubisoft, transisi PlayStation ke era tanpa cakram tampaknya akan mendapatkan momentum yang lebih kuat.




