Tianwen-2 Berhasil Abadikan Gambar Perdana Asteroid Kamo’oalewa

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Wahana antariksa Tianwen-2 milik China mengabadikan gambar perdana asteroid Kamo'oalewa dari jarak 20 kilometer pada Juli 2026.
  • Misi Tianwen-2 berhasil mengabadikan gambar perdana asteroid Kamo'oalewa dari jarak 20 km pada 2 Juli 2026
  • Asteroid terdeteksi pada 6 Juni 2026 setelah perjalanan 400 hari sejauh 1 miliar km
  • Kamo'oalewa berdiameter 41 meter dengan rotasi cepat, menjadi tantangan pendaratan
  • Kapsul sampel akan dilepaskan saat terbang melintasi Bumi pada November 2027
  • Teori baru meragukan Kamo'oalewa sebagai pecahan Bulan, diduga dari keluarga Flora di sabuk asteroid
  • Misi ini mengikuti jejak Hayabusa, Hayabusa2, dan OSIRIS-REx

JBNews.id — Misi antariksa China, Tianwen-2, berhasil mencatatkan sejarah baru dengan mengabadikan gambar perdana asteroid Kamo’oalewa dari jarak sekitar 20 kilometer pada 2 Juli 2026. Pencapaian ini menandai langkah krusial dalam misi pengambilan sampel asteroid yang telah menempuh perjalanan selama 400 hari dengan jarak tempuh sekitar 1 miliar kilometer.

Asteroid Kamo’oalewa pertama kali terdeteksi oleh wahana Tianwen-2 pada 6 Juni 2026, setelah melalui serangkaian penyesuaian orbit di luar angkasa. Kamo’oalewa dikenal sebagai kuasi-satelit Bumi yang paling stabil, mengorbit Matahari dalam gerakan yang hampir sinkron dengan Bumi. Karakteristik ini menjadikannya objek luar angkasa yang relatif mudah diakses dibandingkan asteroid lainnya.

Meski demikian, proses pendaratan dan pengambilan sampel di asteroid ini tetap menjadi tantangan besar. Kamo’oalewa memiliki diameter rata-rata hanya sekitar 41 meter dan berotasi dengan kecepatan tinggi. Kondisi ini mengharuskan wahana antariksa untuk mencapai kontak yang stabil dan mengumpulkan sampel dalam waktu yang sangat terbatas. Jika misi pengambilan sampel berhasil, kapsul berisi material asteroid akan dilepaskan saat terbang melintasi Bumi pada November 2027.

Teknologi Canggih Wahana Tianwen-2

Tianwen-2 dilengkapi dengan berbagai kamera dengan panjang fokus yang berbeda. Wahana ini mampu beralih antara kamera sudut pandang sempit dan kamera sudut pandang lebar sesuai kebutuhan. Selain itu, terdapat kamera yang dapat dilepas yang akan digunakan selama proses pengambilan sampel. Karena orientasi wahana harus disesuaikan secara presisi saat mengambil gambar, memanfaatkan jendela kesempatan yang terbatas merupakan tugas yang sangat sulit.

Keberhasilan misi Tianwen-2 akan menambah daftar pencapaian dalam pengembalian sampel asteroid, mengikuti jejak misi Hayabusa dan Hayabusa2 milik Jepang—yang pertama kali berhasil mengembalikan sampel asteroid ke Bumi—serta misi OSIRIS-REx milik NASA. Material dari benda langit kecil yang mengorbit dekat Bumi dapat menjadi salah satu petunjuk penting untuk memahami pembentukan tata surya, termasuk asal-usul Kamo’oalewa.

“Kemungkinan besar mengandung informasi primordial dari masa awal pembentukan tata surya, dan memiliki nilai ilmiah yang besar untuk mempelajari komposisi material awal, proses pembentukan, dan sejarah evolusi,” jelas Han Siyuan, wakil direktur Pusat Teknik Eksplorasi Luar Angkasa dan Bulan serta juru bicara misi Tianwen-2.

Prestasi China dalam eksplorasi antariksa terus menunjukkan kemajuan pesat. Sebelumnya, China juga berhasil merebut pencapaian roket yang dapat digunakan kembali, menantang dominasi SpaceX di industri antariksa global.

Perdebatan Asal-Usul Kamo’oalewa

Para peneliti sebelumnya berteori bahwa Kamo’oalewa adalah pecahan Bulan yang terlempar akibat tumbukan asteroid jutaan tahun yang lalu. Teori ini telah diterima secara luas hingga baru-baru ini. Alasannya, spektrum cahaya yang dipantulkan sangat mirip dengan mineral silikat yang ditemukan di permukaan Bulan. Simulasi komputer juga mendukung teori tersebut.

Namun, pada Mei 2026, tim peneliti internasional—termasuk Akademi Ilmu Pengetahuan China—menerbitkan makalah yang meragukan hipotesis utama ini. Analisis ulang data yang tersedia menemukan bahwa panjang gelombang pusat pita serapan—titik di mana cahaya melemah pada panjang gelombang tertentu—cocok dengan karakteristik LL chondrites, yaitu jenis meteorit dengan kandungan besi dan logam yang rendah.

Tim peneliti melakukan eksperimen di mana mereka menyinari bubuk meteorit LL chondrite dengan laser untuk mensimulasikan pelapukan luar angkasa yang disebabkan oleh angin matahari dan mikrometeorit. Hasilnya sangat cocok dengan data observasi Kamo’oalewa. Para peneliti berpendapat bahwa Kamo’oalewa kemungkinan besar bermigrasi ke dekat Bumi dari keluarga Flora, sekelompok benda langit di sabuk asteroid.

Jika Tianwen-2 berhasil menyelesaikan misinya untuk mengambil sampel dan kembali ke Bumi, kemungkinan besar akan membantu menjawab pertanyaan tentang asal-usul Kamo’oalewa. Namun, tantangan pertama yang harus diatasi adalah mencapai permukaan asteroid tersebut.

Persaingan eksplorasi asteroid antara China dan Jepang semakin memanas. Kedua negara berlomba-lomba untuk mengungkap misteri tata surya melalui misi pengambilan sampel asteroid. Sementara itu, kemampuan China di bidang kecerdasan buatan juga telah menyamai AS, membuat perusahaan-perusahaan Amerika mulai panik menghadapi persaingan teknologi yang semakin ketat.

Implikasi dan Harapan Misi Tianwen-2

Keberhasilan Tianwen-2 dalam mengabadikan gambar perdana Kamo’oalewa membuka jalan bagi tahap selanjutnya yang lebih kritis: pendaratan dan pengambilan sampel. Wahana ini direncanakan akan melakukan observasi ilmiah yang lebih detail terhadap bentuk, komposisi material, dan struktur internal asteroid tersebut.

Bagi dunia sains, misi ini memiliki arti penting karena material dari benda langit kecil yang mengorbit dekat Bumi dapat memberikan petunjuk langka tentang pembentukan tata surya. Jika Tianwen-2 berhasil membawa pulang sampel, para ilmuwan akan memiliki kesempatan untuk mempelajari material purba yang mungkin belum berubah sejak miliaran tahun lalu.

Misi ini juga menunjukkan ambisi China untuk menjadi pemain utama dalam eksplorasi antariksa global. Dengan teknologi yang terus berkembang, China semakin percaya diri untuk menjalankan misi-misi kompleks yang sebelumnya hanya mampu dilakukan oleh AS dan Jepang.

Langkah selanjutnya adalah menunggu apakah Tianwen-2 dapat mendarat dengan aman di permukaan Kamo’oalewa yang kecil dan berotasi cepat. Jika berhasil, pelepasan kapsul sampel saat terbang melintasi Bumi pada November 2027 akan menjadi puncak dari misi bersejarah ini. Dunia akan menyaksikan apakah China dapat menambah babak baru dalam sejarah eksplorasi antariksa manusia.