Tesla Tabrak Kafe di California, Satu Tewas

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ornamen kap mesin Tesla dengan efek warna dramatis menggambarkan insiden kecelakaan
  • Tesla menabrak area patio restoran Urbane Cafe di Simi Valley, California
  • Satu wanita tewas, pengemudi dan lima lainnya luka-luka
  • Belum diketahui apakah fitur Autopilot atau FSD aktif saat kecelakaan
  • Ini adalah kecelakaan fatal kedua dalam sebulan yang melibatkan Tesla
  • Tesla sebelumnya digugat Rp3,9 triliun terkait kecelakaan FSD di Texas
  • Perusahaan juga diduga manipulasi data FSD untuk izin di Eropa
  • Investigasi masih berlangsung untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan

JBNews.id — Seorang wanita tewas setelah sebuah Tesla menabrak area teras luar ruangan sebuah restoran di Simi Valley, California. Insiden ini menambah deretan kecelakaan fatal yang melibatkan kendaraan listrik buatan Elon Musk tersebut.

Kecelakaan terjadi ketika Tesla yang dikemudikan oleh seorang wanita berusia 64 tahun melaju tak terkendali dan menerobos masuk ke area patio Urbane Cafe, sebuah restoran di pusat perbelanjaan setempat. Pengemudi tersebut dilarikan ke rumah sakit dengan luka ringan, demikian dilaporkan ABC News. Di dalam mobil, terdapat empat penumpang remaja, dan salah satunya juga harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Setidaknya lima orang lainnya dilaporkan terluka dalam insiden yang terjadi pada Senin (15/6/2026) waktu setempat ini.

“Kami masih berusaha menentukan apakah kecepatan menjadi faktor penyebab,” kata Sersan Polisi Simi Valley, Rick Morton, kepada ABC News. “Kami tahu bahwa Tesla melaju ke utara melalui tempat parkir. Mobil itu mencoba berbelok ke kanan menuju arah timur menuju Madera dan, sayangnya, tidak berhasil berbelok dan melewati trotoar saat menabrak korban wanita tersebut.”

Belum diketahui apakah fitur bantuan pengemudi milik Tesla, seperti Autopilot atau Full Self-Driving (FSD), sedang aktif pada saat kecelakaan. Namun, dugaan kuat mengarah pada keterlibatan sistem tersebut. Insiden ini hanya terjadi beberapa minggu setelah sebuah Tesla lainnya yang diduga menggunakan sistem autopilot menerobos pintu garasi di negara bagian Washington.

Dua Insiden Fatal dalam Sebulan

Kedua kecelakaan yang terjadi dalam rentang waktu kurang dari sebulan ini menyoroti aspek-aspek mengerikan dari fitur self-driving Tesla. Baik itu Autopilot level rendah maupun mode Full Self-Driving (FSD) yang kontroversial, fitur-fitur ini memiliki risiko yang sama. Dalam situasi normal sekalipun, fitur tersebut dapat membuat pengemudi lengah dan memberikan rasa aman yang palsu, sehingga mengurangi kewaspadaan di belakang kemudi.

Dalam skenario terburuk, fitur-fitur ini dapat mengubah Tesla menjadi mesin pembunuh. Beberapa insiden sebelumnya mencatat Tesla menabrak kereta api yang melaju, menerobos bus sekolah yang berhenti, dan bahkan menabrak dinding yang dicat menyerupai jalan seperti dalam kartun Wile E. Coyote. Kasus terbaru di California ini menjadi bukti nyata bahwa masalah keamanan sistem otonom Tesla masih jauh dari kata selesai.

Data menunjukkan bahwa kecelakaan fatal yang melibatkan Tesla bukanlah hal yang langka. Sebelumnya, kecelakaan fatal pertama yang melibatkan truk Tesla Semi menewaskan sepasang suami istri di Nevada. Insiden tersebut menambah panjang daftar tragedi yang mempertanyakan keselamatan kendaraan otonom Tesla.

Dampak Hukum dan Regulasi

Konsekuensi hukum dari kecelakaan beruntun ini semakin membebani Tesla. Perusahaan yang dipimpin Elon Musk itu sebelumnya telah digugat Rp3,9 triliun terkait kecelakaan fatal yang melibatkan FSD di Texas. Tuntutan hukum tersebut menjadi preseden yang mengkhawatirkan bagi masa depan teknologi otonom Tesla.

Selain tuntutan hukum, isu manipulasi data juga menghantui Tesla. Perusahaan tersebut diduga memanipulasi data FSD demi mendapatkan izin operasi di Eropa. Jika terbukti, hal ini akan semakin merusak kredibilitas Tesla di mata regulator global.

Dari sisi operasional, Tesla juga menghadapi masalah lain seperti gelombang pencurian kargo yang menyebabkan kerugian hingga Rp14 triliun per hari. Kombinasi antara masalah keamanan produk, gugatan hukum, dan tantangan logistik membuat posisi Tesla semakin tertekan.

Bagi konsumen, insiden ini menjadi pengingat keras bahwa teknologi otonom Tesla belum sepenuhnya dapat diandalkan. Fitur Full Self-Driving yang dipasarkan sebagai solusi masa depan justru menjadi ancaman nyata di jalan raya. Para ahli keselamatan mendesak regulator untuk segera menetapkan standar yang lebih ketat bagi kendaraan otonom sebelum lebih banyak korban berjatuhan.

Investigasi lebih lanjut oleh otoritas setempat masih berlangsung untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan di Simi Valley. Namun, satu hal yang jelas: teknologi self-driving Tesla kembali menelan korban jiwa, dan pertanyaan tentang keselamatannya belum terjawab.

Sebuah foto ornamen kap mesin logo Tesla dengan efek warna.