Telkomsat Jajaki Direct-to-Device, Ponsel Bisa Langsung ke Satelit

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) jajaki kerja sama Direct-to-Device dengan UNIVITY
  • Telkomsat jajaki Direct-to-Device bersama UNIVITY untuk konektivitas satelit generasi baru.
  • Teknologi VLEO dan Direct-to-Device memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit tanpa BTS.
  • Kerja sama ditandai dengan penandatanganan MoU antara kedua perusahaan.
  • Pengembangan jaringan hybrid multi-orbit menggabungkan satelit GEO dan konstelasi VLEO.
  • Solusi ini ditargetkan untuk wilayah terpencil dan memperkuat kedaulatan konektivitas nasional.
  • UNIVITY tengah mengembangkan konstelasi VLEO dengan spektrum 5G untuk konektivitas berkecepatan tinggi.

JBNews.id — PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) resmi menjalin kerja sama strategis dengan UNIVITY untuk menjajaki teknologi Very Low Earth Orbit (VLEO) dan layanan Direct-to-Device (D2D) di Indonesia, sebuah langkah yang memungkinkan ponsel terhubung langsung ke satelit tanpa menara BTS konvensional.

Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang menjadi landasan kedua perusahaan mengeksplorasi solusi konektivitas berbasis satelit guna memperkuat ekosistem telekomunikasi nasional. Langkah ini diambil di tengah kebutuhan konektivitas yang terus berkembang, terutama untuk wilayah terpencil yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan terestrial.

Direktur Pengembangan Telkomsat Anggoro K Widiawan mengatakan kebutuhan konektivitas di Indonesia terus berkembang, terutama untuk wilayah terpencil yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan terestrial.

“Konektivitas satelit terus memainkan peran penting dalam mendukung ekosistem digital Indonesia, khususnya di wilayah terpencil dan tersebar secara geografis. Melalui MoU bersama UNIVITY ini, kami berharap dapat mengeksplorasi bagaimana arsitektur satelit yang berkembang dan kapabilitas jaringan nonterestrial pada masa mendatang dapat berkontribusi dalam menjawab kebutuhan konektivitas yang terus berkembang di seluruh Indonesia,” ujar Anggoro dikutip dari siaran pers, Senin (13/7/2026).

Melalui kerja sama ini, Telkomsat dan UNIVITY akan mengkaji pemanfaatan arsitektur satelit VLEO yang beroperasi pada orbit sangat rendah, sekaligus mengevaluasi peluang menghadirkan layanan Direct-to-Device, yaitu teknologi yang memungkinkan perangkat seluler terhubung langsung ke satelit tanpa bergantung pada menara BTS konvensional.

Baca Juga:

Selain itu, kedua perusahaan juga akan mengeksplorasi pengembangan jaringan hybrid multi-orbit dengan mengombinasikan satelit geostasioner (GEO) milik Telkomsat dan konstelasi VLEO yang tengah dikembangkan UNIVITY. Model jaringan tersebut diharapkan mampu menghadirkan layanan yang lebih tangguh, adaptif, serta memiliki latensi lebih rendah dibandingkan arsitektur satelit konvensional.

Solusi ini juga diproyeksikan dapat mendukung berbagai kebutuhan strategis nasional, mulai dari layanan publik hingga aplikasi yang berkaitan dengan keamanan negara. Tak hanya itu, Telkomsat dan UNIVITY juga akan mengkaji pemanfaatan infrastruktur stasiun bumi yang berada di Indonesia sebagai bagian dari integrasi dengan konstelasi VLEO pada masa depan.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kedaulatan konektivitas nasional di tengah pesatnya perkembangan teknologi satelit global. Sebagai operator satelit nasional, Telkomsat saat ini memiliki aset satelit, infrastruktur stasiun bumi, serta kapabilitas integrasi jaringan satelit dan terestrial.

Sementara itu, UNIVITY tengah mengembangkan konstelasi satelit VLEO yang memanfaatkan spektrum 5G milik operator telekomunikasi untuk menghadirkan konektivitas berkecepatan tinggi dan berlatensi rendah. Founder dan CEO UNIVITY Charles Delfieux menilai Indonesia menjadi salah satu pasar konektivitas paling potensial di dunia karena memiliki tantangan geografis yang unik sekaligus peluang besar bagi integrasi jaringan terestrial dan berbasis antariksa.

“Indonesia merupakan salah satu pasar konektivitas paling dinamis di dunia, dengan peluang bagi konvergensi jaringan terestrial dan jaringan berbasis antariksa. Melalui MoU bersama Telkomsat ini, kami berharap dapat menjajaki bagaimana solusi konektivitas satelit masa depan dapat melengkapi infrastruktur yang telah tersedia serta mendukung berbagai penerapan baru seiring waktu,” kata Charles.

Teknologi Direct-to-Device yang dijajaki dalam kerja sama ini memiliki implikasi luas bagi masyarakat Indonesia. Dengan kemampuan ponsel terhubung langsung ke satelit, akses internet dapat menjangkau daerah-daerah terpencil yang selama ini sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi konvensional. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempercepat transformasi digital nasional dan mengurangi kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

Pengembangan jaringan hybrid multi-orbit juga menjadi sorotan utama dalam kolaborasi ini. Dengan mengombinasikan satelit geostasioner (GEO) milik Telkomsat dan konstelasi VLEO dari UNIVITY, diharapkan tercipta layanan yang lebih tangguh dan adaptif. Latensi yang lebih rendah dibandingkan arsitektur satelit konvensional menjadi nilai tambah yang signifikan, terutama untuk aplikasi-aplikasi yang membutuhkan respons real-time seperti telemedicine, pendidikan jarak jauh, dan layanan darurat.

Langkah Telkomsat ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam peta persaingan teknologi satelit global. Dengan memanfaatkan infrastruktur stasiun bumi yang berada di Indonesia, kedaulatan konektivitas nasional dapat lebih terjaga di tengah gempuran penyedia layanan satelit asing. Hal ini penting mengingat Telkomsat terus berinovasi dalam menghadirkan solusi konektivitas yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

Bagi masyarakat umum, implikasi dari kerja sama ini sangat jelas: dalam waktu dekat, ponsel yang Anda gunakan sehari-hari mungkin bisa terhubung langsung ke satelit tanpa perlu mencari sinyal menara BTS. Ini berarti akses internet akan tersedia di mana saja, bahkan di tengah laut, di pegunungan, atau di pedalaman hutan. Bagi pelaku bisnis dan profesional, teknologi ini membuka peluang baru dalam operasional jarak jauh, monitoring aset, dan komunikasi tanpa batas geografis.

Dari sisi regulasi, kerja sama ini juga menunjukkan keseriusan Telkomsat dalam menjajaki teknologi masa depan. Sebagai anak usaha Telkom Group, langkah ini sejalan dengan upaya Telkom dalam memperkuat kepatuhan hukum dan mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Dengan fondasi yang kuat, eksplorasi teknologi Direct-to-Device diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

Ke depannya, keberhasilan implementasi teknologi ini akan sangat bergantung pada uji coba dan evaluasi yang akan dilakukan oleh Telkomsat dan UNIVITY. Jika berhasil, Indonesia bisa menjadi salah satu negara pertama di Asia Tenggara yang mengadopsi layanan Direct-to-Device secara komersial. Ini akan menjadi lompatan besar dalam upaya menghubungkan seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dengan konektivitas internet yang andal dan terjangkau.

Dengan berbagai potensi yang dimiliki, kerja sama antara Telkomsat dan UNIVITY menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju era konektivitas satelit generasi baru di Indonesia. Teknologi Direct-to-Device bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah konkret yang mulai diwujudkan. Bagi Anda yang tinggal di daerah terpencil atau sering bepergian ke lokasi tanpa sinyal, masa depan konektivitas tanpa batas semakin dekat.