Gugatan Mayo Clinic: AI Kesehatan dengan Tingkat Error 67 Persen

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi papan reklame Mayo Clinic yang menampilkan peringkat nomor satu di AS
  • Mantan direktur riset Mayo Clinic, Traci Tamiko Eto, menggugat institusi tersebut setelah menjadi whistleblower.
  • Eto mengungkap alat AI MAYA memiliki error rate hingga 67 persen yang sengaja disembunyikan.
  • Tim MAYA diduga menghapus hasil tes buruk dan melanggar regulasi federal.
  • Eto dikeluarkan dari rapat eksekutif dan diancam akan dihambat kariernya jika tidak mengundurkan diri.
  • Kasus ini menjadi referendum tentang keamanan dan tanggung jawab AI di industri kesehatan.

JBNews.id — Mayo Clinic, salah satu jaringan kesehatan terbesar yang mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam layanan medis, menghadapi gugatan perdata yang mengungkap dugaan malpraktik serius. Mantan direktur riset dan kepala kepatuhan AI Mayo Clinic, Traci Tamiko Eto, menuduh rumah sakit tersebut melakukan pembalasan setelah ia membocorkan implementasi alat AI yang disebutnya berbahaya bagi pasien.

Dalam gugatan yang dilansir Minnesota Public Radio, Eto bergabung dengan Mayo Clinic pada 2023. Ia mengaku langsung menemukan potensi masalah privasi yang terkait dengan Mayo Clinic Platform, sebuah sistem data terintegrasi AI. Ketika ia melaporkan temuan itu, atasannya justru mengabaikan kekhawatiran tersebut dan bersikeras bahwa perbaikan akan “membahayakan laju proyek riset yang sedang berjalan, yang pada gilirannya akan mengompromikan keunggulan kompetitif Mayo.”

Eto melanjutkan dengan melaporkan banyak kegagalan pihak manajemen Mayo Clinic dalam mengikuti regulasi federal terkait proses peninjauan teknologi baru. Salah satu yang paling menonjol adalah MAYA, asisten digital terintegrasi AI milik klinik tersebut. Menurut gugatan, tim yang mengerjakan MAYA dengan sengaja menghapus hasil pengujian yang tidak memuaskan, salah menggambarkan kemampuan alat tersebut, dan membuat keputusan yang membahayakan keamanan data.

Di dalam sepuluh pengaduan whistleblower yang diajukan Eto, terdapat satu tuduhan yang paling mencengangkan: tim MAYA mengetahui bahwa alat tersebut memiliki tingkat kesalahan (error rate) setinggi 67 persen. Alih-alih melaporkan angka yang mengerikan itu, Eto menuduh staf MAYA justru berusaha menyembunyikannya.

Ilustrasi foto grafis berwarna dengan papan reklame Mayo Clinic yang menampilkan peringkat nomor satu di AS menurut U.S. News & World Report

Akibat pengungkapan ini, Eto mulai dikeluarkan dari pertemuan eksekutif pada awal 2025, sebelum akhirnya diberi label sebagai “poor cultural fit” (ketidakcocokan budaya). Ia kemudian diberikan pilihan, demikian tuduhan dalam gugatan: mengundurkan diri, atau menghadapi perubahan pada file personalianya “yang akan membuatnya tidak dapat dipekerjakan di Mayo dan akan menghambat kariernya di luar institusi.”

Kasus hukum besar ini menyoroti ancaman nyata yang dihadapi para pelapor di era AI. “Ketika seseorang memutuskan untuk menggugat raksasa publik dalam isu-isu yang menjadi perhatian utama negara kita, ia benar-benar mempertaruhkan kariernya,” ujar Artur Davis, pengacara Eto, kepada MPR. “Ia mempertaruhkan serangan profesional, reputasinya. Bahwa ia melakukan ini menunjukkan seberapa yakin dirinya bahwa ia benar.”

Menanggapi gugatan tersebut, Mayo Clinic memberikan pernyataan singkat. “Riset dan inovasi klinis kami dilakukan sesuai dengan hukum dan regulasi yang berlaku, dan kami tetap teguh dalam menjaga kepercayaan yang diberikan pasien kepada kami serta menghormati privasi mereka,” kata direktur komunikasi organisasi itu kepada MPR. “Mayo Clinic tidak memberikan komentar mengenai litigasi yang sedang berlangsung.”

Meskipun gugatan ini berpusat pada pemecatan Eto yang disebut tidak sah, kasus ini merupakan referendum signifikan terhadap kondisi alat AI di dunia medis. Jika raksasa kesehatan seperti Mayo Clinic berbohong tentang efektivitas alat AI mereka, apa artinya bagi industri lainnya? “Jika orang peduli bahwa AI harus ditangani secara bertanggung jawab, dengan integritas, dan harus ada aturan serta pedoman, ini adalah kasus yang harus diperhatikan,” tegas Davis.

Kasus ini mengingatkan pada insiden serupa di industri teknologi, seperti AI Temukan Bug Linux yang Tak Terdeteksi Selama 15 Tahun, yang menunjukkan bagaimana AI bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, AI mampu mendeteksi masalah yang tak terlihat manusia. Di sisi lain, jika tidak diawasi dengan ketat, AI bisa menimbulkan kerusakan sistematis.

Lebih jauh lagi, fenomena ini berkaitan dengan Klaim Elon Musk Danai MBG, Komdigi Tegaskan Itu Hoaks, yang menunjukkan betapa rentannya publik terhadap informasi yang salah, termasuk soal keamanan teknologi. Di era di mana deepfake dan disinformasi marak, Raffi Ahmad Imbau Warga Waspada Deepfake, Kenalkan Metode SIFT menjadi pengingat pentingnya verifikasi informasi.

Implikasi dari gugatan ini sangat luas. Jika terbukti, kasus ini akan menjadi preseden hukum yang mengatur bagaimana perusahaan teknologi dan rumah sakit mengelola pengembangan AI. Regulasi federal tentang proses peninjauan teknologi baru harus dipatuhi secara ketat, dan pelanggaran seperti yang dituduhkan Eto bisa berakibat pada sanksi berat.

Bagi pasien, kasus ini adalah peringatan keras. Alat AI yang tidak diuji dengan benar bisa memberikan diagnosis yang salah, rekomendasi pengobatan yang keliru, atau bahkan membahayakan data pribadi mereka. Dengan tingkat kesalahan 67 persen, MAYA bukanlah asisten digital yang bisa diandalkan, melainkan ancaman serius bagi keselamatan pasien.

Dari sisi industri, kasus ini bisa memicu gelombang audit internal di rumah sakit lain yang menggunakan AI. Jika Mayo Clinic, yang merupakan salah satu institusi medis paling bergengsi di dunia, bisa terlibat dalam skandal seperti ini, maka institusi lain harus segera memeriksa ulang sistem AI mereka.

Traci Tamiko Eto, dengan risiko karier yang dihadapinya, telah menjadi simbol perlawanan terhadap praktik AI yang tidak bertanggung jawab. Pengacaranya, Artur Davis, menekankan bahwa keberanian Eto untuk berbicara harus menjadi pelajaran bagi semua pihak. “Ini adalah kasus yang harus diperhatikan oleh siapa pun yang peduli dengan masa depan AI,” pungkas Davis.

Kasus ini masih berlanjut di pengadilan. Namun, dampaknya sudah terasa: kepercayaan publik terhadap AI di bidang medis sedang diuji. Apakah AI akan menjadi alat penyelamat atau justru sumber malapetaka? Jawabannya mungkin akan ditentukan oleh hasil gugatan ini.