JBNews.id β Mayoritas pekerja kantoran mengaku merindukan kehidupan kerja sebelum teknologi AI diperkenalkan, menurut survei terbaru dari perusahaan jasa profesional Adaptavist. Hampir dua pertiga responden menyatakan secara rutin merindukan masa kerja pra-AI, sementara lebih dari sepertiga responden akan menghapus seluruh alat generative AI dari kehidupan mereka jika diberi pilihan.
Survei yang menyasar pekerja kantoran ini mengungkapkan tingkat frustrasi yang mendalam terhadap adopsi AI di tempat kerja. Sebanyak 36 persen responden bahkan mengaku tidak memahami mengapa AI dipaksakan kepada mereka sejak awal. Angka ini menjadi indikasi kuat bahwa janji peningkatan produktivitas berkat AI belum juga terwujud di lapangan.
Hasil survei tersebut sejalan dengan kritik yang sebelumnya dilontarkan oleh karyawan di perusahaan teknologi besar. Sebelumnya, Karyawan Google Kecam AI Internal dengan menyebut teknologi itu justru membuat pekerjaan semakin berat, bukan lebih ringan.
Adaptavist mencatat bahwa kehadiran AI telah memicu frustrasi luas dan stres tambahan bagi para pekerja yang kini harus memeriksa secara cermat keluaran model AI yang kerap berhalusinasi. Para pekerja juga harus terlibat dalam prompt engineering yang sebelumnya bukan bagian dari deskripsi pekerjaan mereka.
Produktivitas Menurun, Beban Kerja Bertambah
Data survei menunjukkan dampak negatif AI terhadap efisiensi kerja sangat nyata. Sebanyak 42 persen responden mengaku menghabiskan lebih banyak waktu untuk memverifikasi keluaran AI dibandingkan waktu yang mereka hemat saat menggunakannya. Sementara itu, 49 persen responden melaporkan bahwa keluaran AI berkualitas buruk justru memperlambat jalannya proyek.
Kondisi ini menciptakan paradoks yang membingungkan: teknologi yang seharusnya mempercepat pekerjaan justru menjadi penghambat. Alih-alih membebaskan pekerja untuk mengejar kehidupan yang lebih santai sebagaimana dijanjikan para pemimpin teknologi, AI malah memperburuk keseimbangan kehidupan dan pekerjaan.
Hampir separuh responden survei Adaptavist mengatakan bahwa konten generik yang dihasilkan AI membuat pekerjaan mereka terasa lebih repetitif dan kurang bermakna. Tugas-tugas yang sebelumnya membutuhkan sentuhan kreativitas kini berubah menjadi pekerjaan administratif yang membosankan, yaitu mengoreksi dan memperbaiki keluaran AI.

Kekhawatiran terbesar para pekerja adalah ancaman kehilangan pekerjaan. Lebih dari setengah responden, tepatnya 54 persen, mengaku takut kehilangan pekerjaan dalam lima tahun ke depan akibat adopsi AI. Ketakutan ini muncul di tengah dorongan agresif para pemimpin perusahaan untuk mengadopsi AI dengan segala cara, bahkan jika itu berarti penurunan produktivitas.
βTanpa panduan yang jelas, akuntabilitas, dan penyelarasan, janji efisiensi AI berisiko dikalahkan oleh beban yang semakin berat pada orang-orang yang justru seharusnya didukung oleh teknologi ini,β tulis Adaptavist dalam laporannya.
Baca Juga:
Perlawanan Generasi Baru
Nostalgia terhadap dunia pra-AI bukan tanpa alasan. Sementara para eksekutif teknologi memperkaya diri, para pekerja dipaksa mengadopsi AI dengan segala konsekuensinya. Realitas baru yang membingungkan dan tidak koheren ini disebut Adaptavist telah mengalienasi seluruh generasi pekerja.
Menariknya, Generasi Z yang menghadapi pasar kerja pasca-kelulusan yang suram akibat AI justru memilih untuk melawan. Gerakan perlawanan ini menyasar pusat data yang mencemari lingkungan dan chatbot yang dinilai mengikis kemampuan berpikir kritis manusia.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi tanpa mempertimbangkan dampak pada manusia dapat menimbulkan resistensi yang signifikan. Survei Adaptavist menunjukkan bahwa pekerja bukan menolak kemajuan teknologi, tetapi menolak cara teknologi itu diterapkan tanpa memperhatikan kesejahteraan mereka.
Para pengamat menilai temuan ini memiliki implikasi luas bagi perusahaan yang berencana mempercepat adopsi AI. Kegagalan dalam mengelola transisi dapat berujung pada penurunan moral karyawan, produktivitas yang justru menurun, dan meningkatnya keinginan pekerja untuk kembali ke cara kerja lama.
Bagi pekerja Indonesia, temuan ini relevan dengan kekhawatiran serupa di pasar tenaga kerja domestik. Adopsi AI yang masif di berbagai sektor memunculkan pertanyaan tentang masa depan pekerjaan dan bagaimana teknologi seharusnya diintegrasikan tanpa mengorbankan kesejahteraan pekerja.
Adaptavist sendiri menekankan perlunya panduan yang jelas, akuntabilitas, dan penyelarasan antara tujuan bisnis dan kebutuhan pekerja. Tanpa ketiga elemen tersebut, janji efisiensi AI akan terus menjadi wacana kosong yang justru membebani mereka yang seharusnya diuntungkan.
Survei ini menjadi peringatan dini bagi perusahaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, bahwa penerapan AI harus dilakukan dengan pendekatan yang manusiawi. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan beban tambahan yang membuat pekerja merindukan masa lalu.




