JBNews.id — Situational Awareness, dana lindung nilai (hedge fund) kecerdasan buatan (AI) yang didirikan Leopold Aschenbrenner, anjlok 67 persen pada Juli 2026 di tengah aksi jual besar-besaran saham teknologi. Pendiri berusia 24 tahun itu kini berupaya keras mencari klien baru untuk membeli saham dan menutup kerugian dana tersebut.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa dana yang sempat menjadi primadona di industri AI ini mengalami penurunan drastis. Dalam surat kepada klien, manajemen Situational Awareness mengakui kinerja buruk bulan ini. “Kami mengecewakan Anda bulan ini,” demikian bunyi surat tersebut sebagaimana dikutip WSJ.
Aschenbrenner, mantan peneliti OpenAI tanpa pengalaman investasi sama sekali sebelum meluncurkan dana ini, sempat dijuluki “Nostradamus AI”. Namun, ia tampaknya tidak memprediksi pembalikan nasib yang begitu cepat. The Financial Times melaporkan dana ini mencetak return 439 persen sepanjang tahun hingga Juni, dan naik 1.551 persen sejak didirikan.
Kemudian datanglah Juli. Menurut CNBC, aset dana ini mencapai puncak US$45 miliar sebelum mulai merosot tajam pada bulan tersebut. Hampir semua posisi investasinya bergerak melawan arah yang diharapkan.
Posisi Investasi yang Merugikan
Komitmen dana ini terhadap infrastruktur AI jeblok ketika produsen semikonduktor seperti SK Hynix jatuh bebas. Di sisi lain, dana ini melakukan short selling terhadap perusahaan perangkat lunak seperti Adobe — yang sebelumnya dikhawatirkan investor akan tergantikan oleh laboratorium AI — justru terus merangkak naik.
Perusahaan lain yang menjadi portofolio investasinya, termasuk Sandisk, Micron, dan CoreWave, semuanya turun lebih dari 35 persen bulan ini, sebagaimana dicatat CNBC. Ketika domino mulai berjatuhan, Aschenbrenner mengirim surat kepada investor untuk meredam kekhawatiran mereka, menyoroti kinerja gemilang yang pernah diraih.
Ia bahkan dengan berani menyebut aksi jual massal saham teknologi sebagai “waktu yang sangat baik untuk menambah dana”, sebagaimana dilaporkan FT. Namun ketika aset terus merosot dan dana segar tidak kunjung masuk, Aschenbrenner mulai panik menghubungi investor untuk menjual aset atau menyuntikkan modal baru.

Situasi semakin memburuk ketika klien-kliennya tidak bisa menghubunginya. “Leopold tiba-tiba berhenti mengangkat telepon,” kata seorang investor kepada FT. Dengan tidak ada jalan keluar lain, Situational Awareness menjual mayoritas aset publiknya ke perusahaan investasi Citadel, meskipun tetap memegang sahamnya di Anthropic.
FT melaporkan bahwa pembelian saham Situational Awareness oleh Citadel “menandai salah satu transaksi saham terbesar dan paling mendadak dalam sejarah Wall Street”. Situational Awareness, meskipun mengelola aset miliaran dolar, hanya dioperasikan oleh empat profesional investasi dan total delapan karyawan, demikian temuan FT dalam dokumen regulasi.
Baca Juga:
Leverage Memperbesar Kerugian
Dana ini menggunakan uang pinjaman untuk membeli saham, yang membantu meningkatkan return di masa kejayaannya. Namun strategi leverage ini justru membuat kerugian jauh lebih parah ketika nilai aset menurun. Kombinasi antara posisi terkonsentrasi dan utang menjadi bumerang ketika pasar berbalik arah.
Kehancuran Situational Awareness menjadi pelajaran berharga tentang risiko investasi di sektor AI yang sedang panas. Fenomena serupa juga terjadi di pasar lain, seperti surplus energi surya Spanyol yang merugikan investor karena kelebihan pasokan. Pola yang sama terlihat ketika harga Bitcoin anjlok 45 persen dan investor mulai melakukan kapitalisasi kerugian.
Investor yang menaruh uang di berbagai aset AI juga mulai menunjukkan perilaku beragam. Sebagian justru memilih investasi ganda di OpenAI dan Anthropic sebagai strategi lindung nilai, sementara yang lain menarik diri sepenuhnya dari pasar yang volatil ini.
Saham AI kemungkinan akan mampu melewati badai ini. Namun sinyal peringatan yang sesungguhnya adalah bahwa investor begitu dibutakan oleh AI sehingga mereka mempercayakan miliaran dolar kepada seseorang yang tidak memiliki pengalaman dan pemahaman yang memadai tentang apa yang ia lakukan.
Kasus Situational Awareness menunjukkan bahwa euforia berlebihan terhadap AI dapat menciptakan gelembung investasi yang berbahaya. Ketika fundamental pasar tidak mendukung, dana dengan leverage tinggi seperti ini akan menjadi korban pertama. Bagi investor ritel maupun institusional, kehati-hatian dalam menilai kredibilitas pengelola dana menjadi semakin penting di tengah hiruk-pikuk narasi AI yang menggiurkan.




