JBNews.id — Startup konstruksi TerraFirma, yang didirikan dua mantan insinyur SpaceX, mengumumkan pendanaan sebesar USD 115 juta untuk mengembangkan infrastruktur di Mars dan Bumi. Putaran investasi ini dipimpin oleh Kleiner Perkins dan Bain Capital Ventures, menandai langkah besar dalam ekonomi luar angkasa yang mulai bertumbuh.
TerraFirma, perusahaan yang berbasis di Austin, Texas, menggunakan kombinasi antarmuka termasuk controller Xbox untuk mengoperasikan alat berat konstruksi dari jarak jauh. Teknologi ini diklaim mampu memangkas biaya dan meningkatkan keselamatan pekerja di lokasi proyek yang ekstrem.
“Ada defisit orang-orang yang mau mengambil semua teknologi hebat yang telah ada dan dibangun selama beberapa dekade terakhir, untuk membawanya ke industri konstruksi,” ujar CEO dan salah satu pendiri TerraFirma, Noah Schochet, dikutip dari CNBC, Kamis (16/7/2026).
Baca Juga:
Pendanaan dan Ekspansi Besar-besaran
Dana segar sebesar USD 115 juta akan digunakan perusahaan untuk merekrut 300 karyawan dalam setahun ke depan. TerraFirma juga berencana membangun pabrik baru di Texas dan pusat kendali misi untuk mendukung operasional jarak jauh mereka.
Startup ini merupakan bagian dari jaringan perusahaan yang lahir dari ekosistem SpaceX. Mereka mencari peluang dari sektor ekonomi luar angkasa yang kini mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan. Startup terkenal lain yang didirikan mantan alumni SpaceX termasuk pembuat senjata hipersonik Castelion dan perusahaan roket Relativity Space.
IPO bersejarah SpaceX bulan lalu, ditambah dorongan NASA untuk mendirikan pangkalan di Bulan, memicu optimisme di sektor ini. Para analis melihat potensi pemindahan industri ke Mars atau Bulan untuk membangun infrastruktur seperti panel surya dan data center luar angkasa.
Dari Controller Xbox ke Mars
Schochet dan Noah McGuinness, para pendiri perusahaan, bertemu sekitar sedekade lalu pada hari pertama kelas teknik di Universitas Princeton. Setelah lulus, keduanya bekerja di SpaceX dengan latar belakang berbeda.
McGuinness bekerja pada program satelit pemerintah yang dikenal sebagai Starshield, sementara Schochet berkarier di Starlink sebelum beralih ke proyek Starship. Selama di SpaceX, tim berada di bawah tekanan konstan untuk membangun dan melakukan perluasan dengan cepat. Mereka terkadang harus bekerja dalam kondisi sulit dan menghadapi kendala infrastruktur dasar.
“Kami membangun roket seukuran gedung pencakar langit dengan kecepatan satu roket per bulan, dan dari semua proses otomasi manufaktur massal tersebut, tidak ada satupun yang muncul di konstruksi,” kata Schochet.
Pengalaman inilah yang memicu ide membawa kecepatan membangun ala SpaceX ke dalam industri konstruksi yang dinilai berjalan sangat lambat. Saat ini, sekitar separuh tim teknik TerraFirma merupakan mantan pekerja di SpaceX, Tesla, atau The Boring Company.
Untuk saat ini, TerraFirma berfokus pada pembuktian teknologinya di Bumi. Proyek komersial terbaru mereka mencakup pembangunan sebuah arena olahraga dan gerai Starbucks. Perusahaan tersebut berencana ikut serta dalam tender proyek-proyek di Bulan pada masa depan.
Dalam jangka panjang, ambisi TerraFirma tidak berhenti di Bumi. Mereka menargetkan pembangunan infrastruktur di Mars, sebuah visi yang sejalan dengan misi eksplorasi luar angkasa global. Teknologi pengoperasian alat berat dari jarak jauh yang mereka kembangkan kini menjadi fondasi untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Para pendiri TerraFirma melihat adanya celah besar antara inovasi teknologi di sektor kedirgantaraan dengan industri konstruksi tradisional. Dengan pengalaman mereka membangun roket dan satelit, Schochet dan McGuinness yakin dapat menjembatani kesenjangan tersebut.
Model bisnis TerraFirma mengandalkan efisiensi operasional dan otomatisasi. Penggunaan controller Xbox sebagai antarmuka pengoperasian alat berat menunjukkan pendekatan disruptif mereka terhadap industri konstruksi konvensional.
Seiring bertambahnya proyek luar angkasa baik dari sektor publik maupun swasta, permintaan akan infrastruktur di lingkungan ekstrem diprediksi akan meningkat. TerraFirma memposisikan diri sebagai penyedia solusi konstruksi untuk tantangan tersebut.
Ke depannya, para pengamat industri melihat potensi besar bagi startup semacam TerraFirma untuk menjadi pemain kunci dalam ekonomi luar angkasa. Dengan pendanaan yang solid dan tim berpengalaman, perusahaan ini berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan ambisinya.
Kisah TerraFirma juga menjadi contoh bagaimana pengalaman di perusahaan teknologi besar seperti SpaceX dapat melahirkan inovasi di sektor lain. Fenomena serupa juga terjadi di industri lain, seperti 7 Karyawan OpenAI Donasi ke PAC Pro-Regulasi AI yang menunjukkan bagaimana para profesional teknologi berkontribusi pada kebijakan publik.
Sementara itu, persaingan di industri konstruksi luar angkasa diprediksi akan semakin ketat. Beberapa perusahaan rintisan lain juga mulai melirik peluang serupa, meskipun belum ada yang memiliki pendanaan sebesar TerraFirma.
Bagi para investor, TerraFirma menawarkan peluang investasi di persimpangan antara teknologi konstruksi dan eksplorasi luar angkasa. Dengan valuasi yang terus meningkat, perusahaan ini menjadi salah satu startup yang paling menarik perhatian di Silicon Valley.
Meskipun ambisi jangka panjangnya adalah Mars, TerraFirma tetap fokus pada proyek-proyek komersial di Bumi untuk membuktikan kelayakan teknologinya. Strategi ini dianggap bijak oleh para analis karena memberikan pendapatan jangka pendek sambil mengembangkan kapabilitas untuk misi luar angkasa.
Proyek pembangunan arena olahraga dan gerai Starbucks menjadi bukti bahwa teknologi TerraFirma dapat diaplikasikan pada proyek konstruksi konvensional. Ke depannya, perusahaan berencana memperluas portofolio proyeknya ke sektor industri dan infrastruktur.
Kisah sukses TerraFirma juga menjadi inspirasi bagi para Mantan Bos PlayStation Kritik Keras Performa Steam Machine dan para profesional teknologi lainnya untuk merintis usaha sendiri di bidang yang mereka kuasai.
Dengan pendanaan yang melimpah dan visi yang jelas, TerraFirma siap menjadi pemain utama dalam revolusi konstruksi antarplanet. Perusahaan ini membuktikan bahwa mimpi membangun infrastruktur di Mars bukan lagi sekadar fiksi ilmiah.
Bagi industri konstruksi global, kehadiran TerraFirma menjadi alarm bahwa era digitalisasi dan otomatisasi telah tiba. Perusahaan konstruksi tradisional harus beradaptasi atau tertinggal dalam persaingan global.
Dalam jangka panjang, keberhasilan TerraFirma dapat membuka jalan bagi lebih banyak startup untuk memasuki sektor ekonomi luar angkasa. Ini akan menciptakan ekosistem baru yang menggabungkan teknologi canggih dengan kebutuhan infrastruktur di luar Bumi.




