JBNews.id — Para astronom untuk pertama kalinya mendeteksi molekul gula bernama erythrulose di sebuah awan molekuler raksasa yang berjarak 26.000 tahun cahaya dari Bumi. Penemuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy pekan ini ini membuka babak baru dalam upaya memahami bagaimana bahan-bahan kimia penyusun kehidupan pertama kali muncul di planet kita.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Izaskun Jiménez Serra menganalisis data dari teleskop radio di Spanyol untuk mengidentifikasi sidik jari molekul erythrulose melalui frekuensi gelombang mikro yang dihasilkannya saat berputar. Molekul berkarbon empat ini, yang di Bumi ditemukan secara alami pada beberapa buah dan juga digunakan dalam losion penyamak kulit, kini terkonfirmasi berada di lingkungan antarbintang yang ekstrem.
Molekul gula merupakan komponen esensial bagi kehidupan. Mereka memberi energi pada sel dan menjadi bagian integral dari RNA serta DNA. Namun, para ilmuwan masih belum mengetahui bagaimana molekul-molekul ini terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar di Bumi purba. Salah satu hipotesis yang kuat adalah bahwa sebagian molekul tersebut tidak berasal dari Bumi, melainkan mencapai planet kita melalui meteorit.
Laboratorium Kimia Raksasa di Pusat Galaksi
Untuk studi terbaru ini, para peneliti memfokuskan pengamatan pada awan molekuler G+0.693−0.027. Lokasi ini bukanlah pilihan acak. G+0.693−0.027 dikenal sebagai salah satu wilayah terkaya molekul di seluruh Bima Sakti. Terletak di dekat lubang hitam supermasif di pusat galaksi, tabrakan dengan awan lain tampaknya telah mengubah kawasan ini menjadi pabrik kimia yang sesungguhnya.
Sebelumnya, para peneliti telah mendeteksi keberadaan alkohol, aldehida, urea, etanolamina, hidroksilamina, dan puluhan molekul organik kompleks lainnya di wilayah yang sama. Kini, gula resmi bergabung dalam daftar panjang molekul prebiotik yang ditemukan di ruang angkasa.
Gagasan bahwa beberapa gula mungkin berasal dari luar angkasa mendapatkan momentum kuat pada Desember 2025. Saat itu, para ilmuwan mengkonfirmasi bahwa asteroid Bennu mengandung ribosa dan monosakarida lainnya. Ribosa adalah gula fundamental yang membentuk tulang punggung RNA. Studi baru ini mengungkap jenis gula antarbintang lainnya, kali ini dari keluarga ketosa. Di Bumi, erythrulose ditemukan dalam losion penyamak kulit dan buah raspberry.
Data yang digunakan berasal dari dua teleskop radio yang berlokasi di Spanyol. Satu berada di Observatorium Yebes, timur laut Madrid, sementara yang lainnya berada di Institut Radio Astronomi dalam Rentang Milimeter, yang terletak di dekat resor ski di pegunungan Sierra Nevada.
Baca Juga:
Monosakarida Antarbintang Pertama yang Terkonfirmasi
“Keberadaan berbagai molekul organik prebiotik di meteorit dan asteroid sudah diketahui dengan baik, termasuk beberapa monosakarida, tetapi asal-usulnya masih belum jelas,” ujar Jesús R. Flores, profesor di Universitas Vigo yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, kepada Science Media Center Spanyol. “Salah satu kemungkinan yang jelas adalah bahwa molekul-molekul itu terbentuk, pada awalnya, di apa yang disebut medium antarbintang. Namun, hingga saat ini, belum ada sakarida sejati yang terdeteksi di sana. Erythrulose, sebuah ketomonosakarida berkarbon empat, adalah yang pertama.”
Pernyataan Flores menegaskan signifikansi penemuan ini. Ini adalah lompatan besar dalam pemahaman tentang molekul-molekul di ruang angkasa. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa keberadaan gula di luar angkasa bukanlah bukti adanya kehidupan di luar Bumi, juga tidak secara langsung menjelaskan asal-usul kehidupan di planet kita atau asal-usul RNA.
Apa yang ditunjukkan oleh semakin banyak studi adalah bahwa blok bangunan kimia yang terkait dengan kimia prebiotik juga dapat ditemukan di ruang angkasa. Studi baru ini mendemonstrasikan, untuk pertama kalinya, bahwa monosakarida antarbintang dapat disintesis secara alami. Meskipun erythrulose sendiri bukanlah gula yang esensial bagi kehidupan, molekul ini dapat diubah menjadi blok bangunan yang mungkin esensial.
Penemuan ini membuka jalur penelitian baru tentang bagaimana molekul organik kompleks terbentuk di awan molekuler raksasa. Ke depannya, para astronom akan mencari molekul gula yang lebih kompleks dan langsung terkait dengan RNA dan DNA di wilayah yang sama. Temuan ini juga memperkuat teori bahwa bahan-bahan kimia dasar kehidupan mungkin lebih umum tersebar di alam semesta daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Implikasinya bagi masyarakat umum sangat mendasar: pemahaman kita tentang asal-usul kehidupan terus berkembang, dan bukti terbaru menunjukkan bahwa Bumi mungkin bukan satu-satunya tempat di mana molekul-molekul ini terbentuk. Penelitian seperti ini, yang menggabungkan astronomi dan biologi, perlahan-lahan merangkai teka-teki tentang bagaimana kehidupan bisa dimulai di planet kita.
Kisah ini pertama kali muncul di WIRED en Español dan telah diterjemahkan dari bahasa Spanyol.




