Spacex Jual Daya Komputasi ke Pentagon untuk AI Militer

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi kolase foto berwarna menampilkan Elon Musk dengan latar belakang roket dan pusat data
  • SpaceX tengah bernegosiasi dengan Pentagon untuk menjual kapasitas pusat data bagi kebutuhan AI militer.
  • Kesepakatan ini bisa bernilai miliaran dolar dan mempererat hubungan bisnis Elon Musk dengan militer AS.
  • SpaceX memiliki kelebihan kapasitas komputasi karena xAI hanya menggunakan 11 persen dari total daya.
  • Perusahaan merugi US$5 miliar tahun lalu, sehingga penjualan ini menjadi sumber pendapatan krusial.
  • Langkah ini kontroversial karena bertentangan dengan pernyataan Musk sebelumnya yang menolak terlibat dalam eskalasi konflik di Ukraina.
  • Sebelumnya, SpaceX telah memenangkan kontrak militer besar senilai total US$6,45 miliar untuk jaringan satelit dan sistem pelacak rudal.

JBNews.id — SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, tengah menjajaki kesepakatan senilai miliaran dolar dengan Departemen Pertahanan AS (Pentagon) untuk menyediakan kapasitas pusat data bagi kebutuhan kecerdasan buatan (AI) militer. Negosiasi ini, jika terwujud, akan mempererat hubungan bisnis Musk dengan mesin perang Amerika Serikat.

Menurut laporan Wall Street Journal pada Jumat lalu, orang-orang yang mengetahui masalah ini mengungkapkan bahwa kesepakatan tersebut bisa menghabiskan biaya hingga miliaran dolar bagi Pentagon. Namun, mereka menekankan bahwa pembicaraan masih berlangsung dan bisa gagal kapan saja. Langkah ini terjadi di tengah booming AI yang membuat daya komputasi menjadi komoditas yang sangat berharga.

SpaceX memiliki kapasitas komputasi yang melimpah. Elon Musk dengan cepat membangun pusat data di Memphis, Tennessee, dan sebagian besar kapasitas itu belum dimanfaatkan. Bloomberg melaporkan bahwa startup AI milik Musk, xAI, hanya menggunakan 11 persen dari total daya komputasinya. Menjual kelebihan komputasi ini akan membantu perusahaan menghasilkan pendapatan yang sangat dibutuhkan, meskipun secara langsung menguntungkan pihak lain.

SpaceX sendiri telah berjuang untuk mencapai profitabilitas. Perusahaan kehilangan US$5 miliar pada tahun lalu. Sementara itu, xAI, yang digabungkan ke dalam SpaceX sebelum IPO bulan lalu, membakar US$6,4 miliar selama periode yang sama. Di tengah kondisi ini, Musk juga kesulitan menjual chatbot Grok-nya ke bisnis karena kemampuannya tertinggal dari pemimpin pasar seperti Anthropic dan ChatGPT.

Hubungan antara kerajaan bisnis Musk dengan Pentagon sebenarnya sudah berlangsung lama. SpaceX sebelumnya telah bekerja sama dengan militer untuk menyebarkan jaringan satelit mata-mata rahasia, dan juga memiliki kontrak kecil untuk bereksperimen membangun roket yang dapat mengirimkan kargo militer ke seluruh dunia.

Kolaborasi tersebut semakin besar dalam setahun terakhir. Pada bulan Mei, SpaceX memenangkan kontrak Space Force senilai US$2,29 miliar untuk membangun jaringan satelit yang berfungsi sebagai layanan internet militer, menghubungkan sistem senjata di seluruh dunia. Pada bulan yang sama, perusahaan dianugerahi kontrak yang lebih besar lagi, senilai US$4,16 miliar, untuk menyediakan teknologi membangun sistem yang dapat melacak rudal dan pesawat dari orbit.

Meskipun terlihat menguntungkan, langkah ini dinilai kontroversial mengingat pernyataan Musk sebelumnya. Pada tahun 2023, ia memutuskan akses satelit Starlink untuk pasukan Ukraina dengan alasan tidak ingin SpaceX menjadi “terlibat secara eksplisit dalam tindakan perang besar dan eskalasi konflik.”

Ironisnya, pada Juni lalu, seorang pejabat Pentagon membanggakan bahwa militer menggunakan Grok untuk menembakkan 2.000 rudal ke Iran selama Operasi Epic Fury, yang memicu perang dan menewaskan ribuan warga sipil di negara tersebut. Hal ini menunjukkan perubahan drastis dalam posisi Musk.

Tentu saja, Musk bukan satu-satunya pemimpin teknologi yang menjalin hubungan erat dengan Pentagon. Amazon, Google, Microsoft, dan Oracle semuanya memiliki kesepakatan serupa untuk menyediakan kapasitas komputasi awan bagi militer, demikian juga dengan model AI mereka, sebagaimana dicatat oleh WSJ.

Bagi SpaceX, kesepakatan ini menjadi bantalan finansial yang krusial. Data dari laporan keuangan menunjukkan bahwa perusahaan merugi besar tahun lalu. Penjualan daya komputasi yang menganggur bisa menjadi sumber pendapatan baru yang signifikan. Di sisi lain, bagi Pentagon, akses ke pusat data SpaceX menawarkan kapasitas komputasi yang sangat besar dan mungkin lebih aman dibandingkan penyedia komersial biasa.

Namun, risiko reputasi bagi Musk dan perusahaannya sangat besar. Setelah secara terbuka menolak terlibat dalam eskalasi konflik di Ukraina, kini perusahaannya justru memasok teknologi yang digunakan untuk operasi militer ofensif. Ini adalah kontradiksi yang sulit dijelaskan kepada publik.

Dari sudut pandang bisnis, langkah ini masuk akal. Dalam ekonomi AI saat ini, daya komputasi adalah emas. Perusahaan yang memilikinya dalam jumlah besar, seperti SpaceX, memiliki posisi tawar yang kuat. Dengan xAI yang hanya menggunakan sebagian kecil dari kapasitasnya, menjual sisanya ke pihak yang membutuhkan adalah keputusan bisnis yang logis.

Implikasinya bagi industri pertahanan global sangat jelas. Perusahaan teknologi swasta kini menjadi pemasok utama infrastruktur militer. Hubungan antara Silicon Valley dan Pentagon semakin erat, mengaburkan batas antara inovasi komersial dan kebutuhan perang. Bagi Musk, ini adalah lompatan besar dari posisi awalnya sebagai pengusaha yang enggan terlibat dalam konflik militer.

Kesepakatan ini juga menunjukkan bagaimana kebutuhan pendanaan dapat mengubah prinsip. SpaceX membutuhkan uang, dan Pentagon memiliki uang dalam jumlah besar. Ini adalah pernikahan kepentingan yang, meskipun kontroversial, sangat menguntungkan kedua belah pihak.

Bagi para pengamat industri, perkembangan ini harus dicermati. Jika kesepakatan berhasil, model bisnis SpaceX akan berubah drastis. Perusahaan tidak lagi hanya menjadi penyedia layanan peluncuran roket, tetapi juga menjadi penyedia infrastruktur AI bagi salah satu militer terkuat di dunia.

Kontrak-kontrak sebelumnya, seperti saham SpaceX yang anjlok akibat kegagalan uji terbang, menunjukkan volatilitas bisnis antariksa. Kini, dengan masuknya pendapatan dari kontrak militer, stabilitas keuangan SpaceX bisa meningkat secara signifikan.

Keputusan Musk untuk menjual kapasitas komputasi ke Pentagon juga akan menjadi preseden bagi perusahaan teknologi lainnya. Jika SpaceX, dengan sejarah pernyataan anti-perangnya, bisa melakukannya, maka perusahaan lain mungkin akan lebih terbuka dalam menjalin kemitraan serupa.

Pada akhirnya, kesepakatan ini, jika terwujud, akan menjadi tonggak penting dalam hubungan antara industri teknologi swasta dan militer AS. SpaceX tidak lagi hanya menjadi kontraktor antariksa, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam ekosistem AI pertahanan.