JBNews.id — Sony akan menghapus akses streaming terhadap sejumlah film StudioCanal dari perpustakaan digital pengguna PlayStation di Inggris mulai September 2026. Keputusan ini diambil karena perjanjian lisensi konten antara kedua perusahaan tidak diperpanjang.
Dalam pemberitahuan hukum yang pertama kali ditemukan oleh media PlayStation LifeStyle, Sony menyatakan bahwa pelanggan yang terdampak akan kehilangan kemampuan untuk melakukan streaming judul-judul seperti Outrage: Way of the Yakuza, Paddington, Paddington 2, Pan’s Labyrinth, Rambo 3, Terminator 2: Judgment Day, dan The Boy in the Striped Pajamas. Alasan yang dikemukakan adalah “karena perjanjian lisensi konten kami.”
Mulai September 2026, Sony akan menghapus judul-judul yang terdampak yang telah dibeli pengguna UK dari perpustakaan PlayStation mereka. Pengumuman ini memicu kekhawatiran di kalangan pemilik konsol tentang kepemilikan konten digital yang sebenarnya.
Preseden Lisensi di Masa Lalu
Kasus serupa pernah terjadi sebelumnya. Pada tahun 2023, Sony mengumumkan akan menarik 1.318 musim acara Discovery dari perpustakaan pelanggan. Namun, beberapa minggu setelah pengumuman tersebut, Sony menyatakan tidak akan menarik konten itu karena telah memperbarui pengaturan lisensi dengan Discovery.
Kemungkinan Sony masih bisa membuat kesepakatan dengan StudioCanal sebelum 1 September 2026, atau bahkan setelahnya, yang memungkinkan pengguna tetap menonton konten yang telah mereka beli. Namun, pelanggan yang terdampak disarankan untuk tidak terlalu berharap tinggi.
Sony sebelumnya telah menarik 314 judul StudioCanal dari perpustakaan di Jerman dan Austria pada tahun 2022. Tindakan ini menunjukkan pola yang konsisten dalam pengelolaan lisensi konten digital perusahaan.
Kebijakan ini sejalan dengan langkah Sony yang secara bertahap mengurangi fokus pada konten digital. Pada Agustus 2021, Sony berhenti menjual rental dan pembelian film serta acara TV di toko digitalnya. Perusahaan juga menghapus perpustakaan digital Funimation setelah memutuskan untuk menggabungkan layanan streaming anime tersebut dengan Crunchyroll.
Baca Juga:
Implikasi bagi Pemilik Konten Digital
Insiden ini menjadi pengingat bahwa kita tidak benar-benar memiliki barang yang kita beli secara digital. Sebaliknya, pembelian dan rental digital hanyalah lisensi jangka panjang yang hanya berlaku selama layanan streaming memiliki hak untuk mendistribusikan konten tersebut. Seringkali, itu adalah jumlah waktu yang terbatas.
Bahkan jika StudioCanal bersedia membuat kesepakatan dengan Sony, ada kemungkinan Sony memiliki minat yang lebih kecil untuk mempertahankan judul digital dibandingkan sebelumnya. Langkah ini mencerminkan perubahan strategi bisnis perusahaan yang semakin fokus pada layanan berlangganan dan konten eksklusif.
Pengumuman Sony ini telah membuat frustrasi sebagian pengguna, termasuk mereka yang percaya bahwa Sony harus menawarkan pengembalian dana atau yang berpikir bahwa toko digital harus berhenti menggunakan istilah seperti “pembelian” untuk sewa jangka panjang. Kekecewaan ini muncul karena banyak pengguna menganggap mereka memiliki konten tersebut secara permanen setelah membayar.
Langkah Sony ini juga menjadi perhatian bagi pengguna yang telah menginvestasikan banyak uang untuk membangun perpustakaan digital mereka. Dengan kebijakan ini, nilai investasi tersebut menjadi tidak pasti dan bergantung pada kesepakatan lisensi yang terus berubah.
Untuk pengguna PlayStation di Indonesia, meskipun belum ada pengumuman serupa, kebijakan ini bisa menjadi preseden yang mengkhawatirkan. Jika Sony menerapkan kebijakan serupa di pasar Asia, pengguna di Indonesia juga berpotensi kehilangan akses ke konten yang telah mereka beli.
Perubahan strategi Sony dalam pengelolaan konten digital juga terlihat dari langkah perusahaan yang secara bertahap mengurangi produksi media fisik. Beberapa laporan menunjukkan bahwa Sony hentikan produksi disk game PlayStation mulai 2028, yang menandai pergeseran besar menuju distribusi digital sepenuhnya.
Di sisi lain, Sony terus mengembangkan ekosistem konsolnya. Perusahaan baru-baru ini mengklaim bahwa PS5 adalah konsol terbaik untuk memainkan GTA 6, yang menunjukkan komitmen mereka pada platform game. Namun, kebijakan penghapusan konten digital ini bisa merusak kepercayaan konsumen.
Bagi para kolektor dan pengguna setia PlayStation, situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kepemilikan konten digital. Apakah konsumen harus kembali ke media fisik untuk memastikan mereka benar-benar memiliki konten yang mereka beli?
Keputusan Sony untuk menghapus film-film StudioCanal ini juga berdampak pada persepsi merek. Perusahaan yang selama ini dikenal dengan kualitas hardware dan konten eksklusifnya kini menghadapi kritik karena dianggap tidak menghargai loyalitas pelanggan yang telah berinvestasi dalam ekosistem digital mereka.
Dengan semakin banyaknya konten yang beralih ke digital, isu kepemilikan dan lisensi ini diperkirakan akan terus menjadi topik hangat di industri hiburan. Konsumen diharapkan lebih cermat dalam membaca syarat dan ketentuan sebelum melakukan pembelian digital.
Kasus ini juga menjadi pelajaran bagi industri secara keseluruhan tentang pentingnya transparansi dalam praktik bisnis digital. Jika konsumen merasa hak mereka tidak dilindungi, kepercayaan terhadap platform digital bisa terkikis secara signifikan.
Sementara itu, Sony belum memberikan pernyataan resmi mengenai kemungkinan kompensasi bagi pengguna yang terdampak. Pengguna yang memiliki judul-judul StudioCanal di perpustakaan PlayStation mereka disarankan untuk segera mengunduh atau menonton konten tersebut sebelum tenggat waktu September 2026.
Bagi industri game dan hiburan digital, insiden ini menjadi studi kasus tentang bagaimana kebijakan lisensi dapat mempengaruhi pengalaman pengguna secara langsung. Keputusan sepihak dari penyedia platform untuk menghapus konten yang telah “dibeli” pengguna dapat menimbulkan ketidakpastian hukum dan etika.
Ke depannya, mungkin diperlukan regulasi yang lebih jelas tentang hak konsumen dalam kepemilikan konten digital. Beberapa yurisdiksi di Eropa mulai mempertimbangkan undang-undang yang melindungi konsumen dari penghapusan konten digital secara sepihak.
Insiden ini juga menyoroti perbedaan mendasar antara kepemilikan fisik dan digital. Dengan media fisik, konsumen memiliki kontrol penuh atas konten yang mereka beli. Sebaliknya, dengan konten digital, akses konsumen sepenuhnya bergantung pada keputusan penyedia platform dan perjanjian lisensi yang mungkin berubah sewaktu-waktu.
Keputusan Sony ini, meskipun kontroversial, mungkin merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk menyederhanakan portofolio konten digital mereka dan fokus pada layanan yang lebih menguntungkan seperti PlayStation Plus.
Bagi pengguna yang ingin memastikan akses jangka panjang ke konten favorit mereka, mungkin perlu mempertimbangkan untuk membeli media fisik atau mencari platform alternatif yang menawarkan jaminan kepemilikan yang lebih kuat.
Kasus ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi digital menawarkan kemudahan dan fleksibilitas, ada risiko yang melekat yang perlu dipertimbangkan oleh konsumen sebelum berinvestasi besar-besaran dalam perpustakaan digital.




