Lonjakan Konsumsi Listrik Google Akibat AI Capai Rekor Baru

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi bangunan dengan logo Google dan latar belakang asap polusi udara
  • Konsumsi listrik Google naik 250% sejak 2019 akibat pengembangan AI
  • Permintaan listrik tahun-ke-tahun naik 37% antara 2024-2025
  • Emisi gas rumah kaca meningkat 18% karena manufaktur hardware AI
  • Google akui perluasan infrastruktur teknis sebagai penyebab utama
  • Perusahaan berkomitmen menjaga standar lingkungan meski AI berkembang
  • Tanpa regulasi komprehensif, dampak lingkungan AI terus meningkat

JBNews.id — Konsumsi listrik Google melonjak drastis sepanjang tahun lalu, didorong oleh pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang agresif. Hal ini diungkap dalam laporan dampak lingkungan terbaru perusahaan tersebut.

Laporan tersebut menyatakan bahwa perubahan terbesar pada dampak lingkungan Google adalah perluasan infrastruktur teknis dan energi yang dibutuhkan untuk mengoperasikannya. Sejak 2019, permintaan listrik Google telah meningkat hingga 250 persen, yang disebabkan oleh pertumbuhan produk dan layanan Google termasuk Cloud, Search, YouTube, dan kemampuan AI.

“Percepatan pertumbuhan permintaan energi ini adalah kenyataan yang harus kami kelola secara aktif,” demikian bunyi laporan tersebut. Google menegaskan komitmennya untuk memastikan bahwa pertumbuhan AI tidak menjadi alasan untuk menurunkan standar lingkungan mereka.

Antara 2024 dan 2025, permintaan listrik perusahaan mengalami lonjakan tahun-ke-tahun sebesar 37 persen. Angka ini sepuluh persen lebih tinggi dibandingkan kenaikan 27 persen dari tahun sebelumnya. Sementara itu, emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 18 persen, yang sebagian besar dikaitkan dengan manufaktur perangkat keras AI.

Laporan ini menjadi yang terbaru dalam serangkaian temuan yang menggarisbawahi tekanan yang diberikan AI terhadap infrastruktur energi yang ada dan iklim yang sudah terbebani. Saat perusahaan seperti Google mendorong pembangunan pusat data AI baru di seluruh Amerika Serikat, publik terus menentangnya. Penolakan publik yang intens ini menjadi salah satu alasan mengapa Google dan pesaing AI lainnya mengusulkan pembangunan pusat data di luar angkasa.

Dalam laporannya, Google meredam kenaikan dampak lingkungan yang mengkhawatirkan ini dengan bahasa tentang janji AI sebagai “alat yang kuat untuk aksi iklim global” dan klaim tentang bagaimana upaya AI mereka “membuka manfaat sosial dan ekonomi yang signifikan.” Laporan tersebut juga menunjuk pada upaya Google untuk membuat pusat datanya lebih hemat energi dan air.

Realitasnya, saat ini AI menjadi alasan bagi Google untuk menurunkan standar lingkungannya. Meskipun perusahaan telah berinvestasi signifikan dalam energi bersih, raksasa mesin pencari yang masih berusaha memenangkan perlombaan senjata AI ini melihat jejak lingkungannya yang meningkat pesat sebagai kejahatan yang diperlukan dalam jangka pendek. Tanpa regulasi AI yang komprehensif, itu sepenuhnya menjadi taruhan Google.

Dampak Infrastruktur AI terhadap Lingkungan

Laporan terbaru Google ini menjadi bukti nyata betapa besarnya konsumsi energi yang dibutuhkan oleh teknologi AI. Pertumbuhan permintaan listrik yang mencapai 250 persen sejak 2019 menunjukkan bahwa pengembangan AI tidak bisa lagi dipisahkan dari isu keberlanjutan lingkungan.

Kenaikan emisi gas rumah kaca sebesar 18 persen yang sebagian besar berasal dari manufaktur perangkat keras AI juga menjadi sorotan. Ini berarti bahwa dampak lingkungan tidak hanya berasal dari pengoperasian pusat data, tetapi juga dari proses produksi komponen-komponen yang mendukung teknologi tersebut.

Meskipun Google mengklaim bahwa AI adalah alat yang ampuh untuk aksi iklim global, data menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, prioritas perusahaan adalah memenangkan perlombaan AI. Pengaturan Google untuk efisiensi energi di pusat data memang telah dilakukan, namun belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada Google. Investasi Google di berbagai sektor, termasuk konten dan infrastruktur, menunjukkan bahwa perusahaan ini serius dalam pengembangan AI. Namun, konsekuensi lingkungan dari langkah tersebut mulai terlihat jelas.

Laporan PBB baru-baru ini bahkan memperkirakan bahwa AI akan mengkonsumsi air sebanyak satu miliar orang pada tahun 2030. Angka ini menunjukkan betapa besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan teknologi AI dalam skala global.

Google sendiri mengakui bahwa mereka harus mengelola permintaan energi yang melonjak ini secara aktif. Perusahaan berkomitmen untuk tidak menjadikan pertumbuhan AI sebagai alasan untuk menurunkan standar lingkungan. Namun, data menunjukkan bahwa realitas di lapangan berbeda.

Tanpa adanya regulasi yang jelas dan komprehensif mengenai AI, keputusan untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan teknologi dan keberlanjutan lingkungan sepenuhnya berada di tangan perusahaan teknologi. Ini menjadi kekhawatiran tersendiri mengingat dampak yang sudah mulai terlihat.

Bagi konsumen dan masyarakat umum, laporan ini menjadi pengingat bahwa setiap kemajuan teknologi memiliki konsekuensi. Penggunaan layanan berbasis AI seperti Search, Cloud, dan YouTube secara tidak langsung berkontribusi pada peningkatan konsumsi energi dan emisi karbon.

Ke depan, tantangan bagi Google dan perusahaan teknologi lainnya adalah bagaimana terus mengembangkan AI tanpa mengorbankan komitmen lingkungan. Investasi dalam energi bersih dan efisiensi energi di pusat data menjadi kunci, namun langkah-langkah tersebut harus dipercepat untuk mengimbangi pertumbuhan yang ada.

Laporan dampak lingkungan Google ini menjadi bukti bahwa transisi energi di sektor teknologi masih menghadapi jalan panjang. Meskipun ada kemajuan dalam efisiensi, pertumbuhan permintaan yang eksponensial dari AI membuat target iklim semakin sulit dicapai.

Implikasinya bagi pembaca adalah bahwa penggunaan teknologi AI, baik secara langsung maupun tidak langsung, memiliki dampak lingkungan yang nyata. Kesadaran akan hal ini penting agar konsumen dapat membuat pilihan yang lebih bijak dalam menggunakan layanan digital.

Google telah berinvestasi signifikan dalam energi bersih, namun laporan ini menunjukkan bahwa investasi tersebut belum cukup untuk mengimbangi pertumbuhan konsumsi energi dari AI. Ini menjadi pelajaran berharga bagi industri teknologi secara keseluruhan.

Dengan terus meningkatnya permintaan akan layanan AI, tekanan terhadap infrastruktur energi dan lingkungan diprediksi akan semakin besar. Regulasi yang komprehensif menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan bahwa pertumbuhan AI tidak merusak keseimbangan lingkungan.

Laporan ini juga menjadi pengingat bahwa inovasi teknologi harus diimbangi dengan tanggung jawab lingkungan. Tanpa keseimbangan tersebut, kemajuan yang dicapai justru dapat menimbulkan masalah baru yang lebih besar.