JBNews.id — Fenomena viral smartwatch yang mampu mendeteksi heart rate atau detak jantung saat dipasangkan pada buah pisang ramai diperbincangkan. Pertanyaan utamanya, apakah buah tersebut benar-benar memiliki denyut nadi? Jawabannya, tidak. Fenomena ini murni akibat cara kerja teknologi sensor yang digunakan smartwatch.
Melansir IFLScience, Rabu (24/6/2026), smartwatch mendeteksi denyut nadi melalui teknik yang disebut photoplethysmography (PPG). Ini adalah metode non-invasif yang mengukur perubahan volume aliran darah dengan menyinari cahaya ke kulit, lalu memantau bagaimana cahaya tersebut diserap dan dipantulkan.
Saat jantung berdetak, volume darah di kapiler kecil tepat di bawah permukaan kulit meningkat secara singkat. Peningkatan aliran darah ini mengubah seberapa banyak cahaya yang diserap dan dipantulkan. Perubahan inilah yang dilacak oleh sensor untuk memberikan data denyut nadi.
Eksperimen pada Buah-Buahan
Fenomena ini tidak terbatas pada pisang. Editor Ruang Angkasa Dr Alfredo Carpineti dari IFLScience melakukan eksperimen dengan memasangkan smartwatch pada pisang dan mendapatkan pembacaan 85 denyut per menit. Sementara itu, Editor Kesehatan & Kedokteran Laura Simmons mendeteksi denyut nadi nektarin dan alpukat di kisaran 70-an, kiwi di angka 110, dan tomat yang denyut nadinya datar.
Ketika smartwatch dipasangkan pada buah, perangkat tetap mencoba mendeteksi denyut nadi melalui PPG. Fluktuasi acak dalam cara cahaya diserap dan dipantulkan—baik itu getaran atau gerakan—akan ditangkap oleh algoritma teknologi dan diterjemahkan menjadi denyut nadi.
Fenomena ini memang paling sering terlihat lucu ketika dilakukan pada buah-buahan. Namun, kemunculan heart rate pada smartwatch tidak mengartikan bahwa buah-buahan tersebut memiliki jantung yang berdetak sungguhan. Ini adalah hasil interpretasi algoritma terhadap sinyal optik yang tertangkap.
Penjelasan Teknis di Balik Fenomena
Teknologi PPG pada dasarnya dirancang untuk membaca perubahan volume darah di jaringan biologis. Ketika sensor dihadapkan pada objek non-biologis seperti buah, sensor tetap mengirimkan cahaya dan mencoba membaca pantulannya. Getaran sekecil apapun dari lingkungan—misalnya getaran meja atau sentuhan tangan—dapat ditangkap dan diinterpretasikan sebagai denyut nadi.
Hal ini menjelaskan mengapa pisang bisa menunjukkan angka denyut nadi tertentu, sementara tomat justru menunjukkan hasil datar. Perbedaan tekstur, kepadatan, dan kandungan air pada setiap buah mempengaruhi cara cahaya diserap dan dipantulkan, sehingga hasil pembacaan pun bervariasi.
Fenomena smartwatch deteksi heart rate pada benda mati ini sebenarnya sudah lama dikenal di kalangan penggemar teknologi. Namun, eksperimen dengan buah pisang kembali viral karena dianggap paling menghibur dan mudah ditiru oleh siapa saja.
Baca Juga:
Implikasi bagi Pengguna Smartwatch
Bagi pengguna awam, fenomena ini menjadi pengingat bahwa data kesehatan dari smartwatch tidak boleh dianggap mutlak akurat. Algoritma PPG memang canggih, tetapi tetap memiliki keterbatasan. Getaran, gerakan, atau bahkan kondisi kulit pengguna dapat mempengaruhi hasil pembacaan.
Meskipun demikian, teknologi ini tetap berguna untuk pemantauan kesehatan sehari-hari. Yang terpenting adalah memahami batasannya dan tidak menarik kesimpulan berlebihan dari data yang ditampilkan, apalagi jika data tersebut berasal dari objek non-biologis seperti buah-buahan.
Fenomena viral ini juga menunjukkan betapa populernya Fitur Terbaru smartwatch dalam hal pemantauan detak jantung. Banyak pengguna penasaran dan mencoba eksperimen serupa, yang kemudian menyebar luas di media sosial.
Selain itu, tren ini mengingatkan publik untuk selalu kritis terhadap informasi yang beredar. Seperti halnya Fakta Sebenarnya di balik berbagai informasi viral, penting untuk memahami mekanisme teknis sebelum mempercayai suatu fenomena.
Bagi para penggemar teknologi, eksperimen semacam ini justru menjadi cara menyenangkan untuk memahami cara kerja sensor. Namun, bagi yang serius memantau kesehatan, disarankan untuk tetap menggunakan smartwatch pada pergelangan tangan sesuai panduan pabrikan.
Fenomena smartwatch yang mendeteksi heart rate pada buah pisang pada akhirnya adalah ilustrasi sempurna tentang bagaimana teknologi bekerja—dan kadang-kadang ‘bekerja terlalu keras’—dalam membaca sinyal dari lingkungan sekitarnya.




