JBNews.id — Samsung Electronics resmi meluncurkan kacamata pintar pertamanya yang berbasis AI di ajang Samsung Unpacked 2026 di London, Inggris. Perangkat ini tidak dirancang untuk menggantikan smartphone, melainkan sebagai perpanjangan dari perangkat Galaxy yang sudah ada.
Jaein Choi, Executive Vice President Samsung Electronics sekaligus Head of XR R&D Team Mobile eXperience Business, menjelaskan bahwa kacamata ini menjadi titik masuk baru untuk AI mobile. “Jadi kami percaya kacamata AI sejati harus menjadi titik masuk baru untuk AI mobile. Bukan dengan mengganti telepon seluler, dengan menciptakan kecerdasan secara alami dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Choi di sela acara peluncuran.
Kacamata pintar ini dibekali kamera, mikrofon, dan speaker berkualitas tinggi. Perangkat ini mampu memahami dunia dari sudut pandang pengguna, mengabadikan momen, serta mendengar dan merasakan situasi di sekitar. Pengguna bahkan bisa mengambil foto tanpa memegang perangkat, sehingga kedua tangan tetap bebas bergerak.
Konsep Split Computing untuk Performa Maksimal
Samsung menerapkan konsep split computing pada kacamata pintar ini. Beban pemrosesan data yang berat tidak diselesaikan seluruhnya di bingkai kacamata, melainkan ‘dilempar’ ke smartphone Galaxy yang terhubung. Pendekatan ini memungkinkan kacamata memiliki tenaga komputasi yang lebih besar tanpa mengorbankan daya tahan baterai.
“Komputasi terbagi benar-benar penting. Kami telah mengembangkan ini dengan Google dan Qualcomm. Kami secara aktif memanfaatkan sumber daya di HP dengan kacamata ini. Kami memiliki lebih banyak tenaga, lebih banyak komputasi, dan lebih banyak memori melalui telepon. Ini juga terkait dengan penghematan daya,” jelas Choi.
Dengan konsep ini, kacamata pintar Samsung tidak perlu memiliki chipset bertenaga tinggi di dalamnya. Sebaliknya, perangkat ini bergantung pada kekuatan komputasi smartphone Galaxy untuk menjalankan tugas-tugas berat seperti pemrosesan AI dan rendering grafis.
Integrasi Mendalam dengan Ekosistem Galaxy
Kacamata AI ini tidak bekerja sendirian. Samsung mengintegrasikannya secara mendalam dengan ekosistem Galaxy lainnya, seperti Galaxy Watch dan earbuds (TWS). Interaksi pengguna dengan kacamata dirancang agar terasa intuitif bagi mereka yang sudah memiliki perangkat-perangkat tersebut.
“Anda dapat menggunakan panel sentuh (di smartwatch) untuk mengontrol kacamata. Dan Anda dapat menangkap momen dan menekan tombol untuk menangkap gambar. Dan bahkan gerakan-gerakan dengan jam tangan juga dapat digunakan untuk mengontrol kacamata,” papar Choi.
Perpindahan audio juga dirancang secara otomatis. Ketika pengguna memakai Galaxy Buds, audio akan langsung berpindah dari speaker kacamata ke earbuds. Sementara itu, panel sentuh pada kacamata tetap berfungsi penuh untuk mengontrol navigasi.
Integrasi ini menciptakan ekosistem yang seamless bagi pengguna Galaxy. Mereka yang sudah memiliki smartphone Galaxy, Galaxy Watch, dan Galaxy Buds akan merasakan manfaat maksimal dari kacamata pintar ini.
Posisi Strategis di Pasar Wearable
Peluncuran kacamata pintar ini menandai langkah besar Samsung di pasar wearable berbasis AI. Dengan pendekatan yang tidak menggantikan smartphone, Samsung membedakan diri dari kompetitor yang mencoba menciptakan perangkat mandiri sepenuhnya.
Choi menekankan bahwa penggunaan AI melalui ponsel kini berkembang pesat. Tujuan kacamata pintar ini adalah memperluas pengalaman AI secara alami ke kategori perangkat baru. Dengan kata lain, Samsung ingin pengguna tetap setia pada ekosistem Galaxy sambil menikmati pengalaman baru yang ditawarkan kacamata AI.
Pendekatan ini juga mengurangi hambatan adopsi. Pengguna tidak perlu belajar ulang cara berinteraksi dengan perangkat karena semuanya terintegrasi dengan perangkat Galaxy yang sudah mereka kenal.
Implikasi bagi Pengguna dan Industri
Peluncuran kacamata pintar pertama Samsung memiliki implikasi luas bagi industri wearable dan AI mobile. Bagi pengguna, perangkat ini menawarkan cara baru berinteraksi dengan AI tanpa harus terus-menerus melihat layar smartphone.
Bagi industri, langkah Samsung menekankan pentingnya kolaborasi lintas perusahaan. Kemitraan dengan Google dan Qualcomm dalam pengembangan split computing menunjukkan bahwa inovasi wearable masa depan akan bergantung pada ekosistem yang kuat, bukan hanya pada perangkat individual.
Dengan harga dan ketersediaan yang belum diumumkan, kacamata pintar Samsung diprediksi akan menjadi pesaing serius di pasar wearable AI. Keberhasilan perangkat ini akan sangat bergantung pada seberapa baik integrasinya dengan ekosistem Galaxy yang sudah mapan.
Bagi pengguna Galaxy yang sudah memiliki smartwatch dan earbuds, kacamata ini bisa menjadi pelengkap yang memperkaya pengalaman sehari-hari. Namun, bagi pengguna non-Galaxy, perangkat ini mungkin kurang menarik karena ketergantungannya pada smartphone Samsung.
Samsung tampaknya mengambil pendekatan hati-hati dengan tidak mencoba menggantikan smartphone. Sebaliknya, perusahaan fokus pada menciptakan perangkat yang melengkapi dan memperluas kemampuan perangkat yang sudah ada. Strategi ini bisa menjadi kunci sukses di pasar yang masih berkembang ini.




