JBNews.id, Jakarta — Para peneliti dari KAIST Korea Selatan dan Universitas Stanford berhasil menciptakan pakaian robotik yang dapat terpasang secara otomatis ke tubuh pemakainya, mirip dengan kostum Iron Man milik Tony Stark. Proses pemakaiannya diklaim hanya memakan waktu 10 detik tanpa bantuan tangan.
Temuan ini dipublikasikan di IEEE Robotics and Automation Letters dan telah memenangkan Penghargaan IEEE KAIST 2024. Inovasi ini menjawab tantangan lama dalam dunia robotika wearable, terutama pada efisiensi waktu pemakaian.
Teknologi ini menggunakan sistem bertenaga udara yang ditanamkan langsung ke dalam pakaian. Saat diaktifkan, pakaian akan terdorong dari bawah ke atas dengan membalikkan bagian dalam ke luar, menyesuaikan bentuk tubuh pemakainya secara otomatis.
Cara kerja pakaian ini terinspirasi dari tanaman rambat. Para ilmuwan menempatkan dua tabung di bagian ujung dekat kaki untuk mendorong pakaian secara stabil, bahkan saat melewati permukaan melengkung. Prinsip ini memungkinkan pakaian robotik beradaptasi dengan berbagai bentuk tubuh pengguna.
“Tumbuhan ini dapat melewati celah sempit, tumbuh sambil beradaptasi dengan bentuk lingkungan sekitarnya, dan bergerak tanpa mempedulikan apakah permukaannya licin, lengket, atau miring,” ujar profesor teknik sipil dan lingkungan di KAIST, Ryu Jee-Hwan.

Peneliti pascadoktoral KAIST, Kim Nam-gyun, mengaku mendapatkan ide tersebut saat bersepeda di tengah hujan. “Saat saya sedang bersepeda, hujan mulai turun… dan saya berpikir akan sangat membantu jika jas hujan bisa dipasang secara otomatis (saat saya bersepeda),” kata Nam-gyun.
Para peneliti melihat potensi besar penggunaan pakaian robotik ini di ruang bersih semikonduktor. Saat ini, mengenakan pakaian pelindung di lingkungan tersebut dapat memakan waktu 15 hingga 30 menit. Dengan teknologi baru ini, waktu pemakaian dapat dipangkas secara signifikan menjadi hanya 10 detik.
Baca Juga:
Namun, perlu diketahui bahwa teknologi ini masih berupa prototipe eksperimental. Hingga saat ini, belum ada tanggal pasti mengenai perilisan komersial pakaian robotik tersebut.
Korea Selatan belakangan ini memang berada di garis depan dalam bidang robotika. Awal 2026, negara tersebut meluncurkan robot biksu humanoid pertamanya, yang secara resmi diinisiasi dalam sebuah upacara di Kuil Jogye, Seoul. Inovasi seperti Fitur Terbaru dalam teknologi wearable ini semakin memperkuat posisi Korea Selatan sebagai pemimpin global di sektor robotika.
Dengan kemampuan terpasang otomatis dalam 10 detik, pakaian robotik ini berpotensi merevolusi berbagai industri, mulai dari manufaktur semikonduktor hingga aplikasi militer dan penyelamatan. Efisiensi waktu yang ditawarkan sangat signifikan dibandingkan metode konvensional yang membutuhkan waktu hingga 30 menit.
Penelitian ini juga membuka jalan bagi pengembangan teknologi wearable yang lebih canggih di masa depan. Inspirasi dari alam, seperti tanaman rambat, menunjukkan bahwa solusi inovatif sering kali berasal dari observasi sederhana terhadap lingkungan sekitar.
Bagi para Penggemar Teknologi, perkembangan ini menjadi bukti bahwa fiksi ilmiah semakin mendekati kenyataan. Kostum Iron Man yang selama ini hanya ada di film, kini memiliki versi nyata yang dikembangkan oleh para ilmuwan terkemuka dunia.
Para peneliti terus melakukan penyempurnaan pada prototipe ini. Mereka optimistis bahwa pakaian robotik ini dapat segera diadopsi secara luas, terutama di sektor-sektor yang membutuhkan prosedur pemakaian pakaian pelindung yang cepat dan efisien.
Dengan segala potensi yang dimilikinya, pakaian robotik ini menjadi salah satu inovasi paling menarik di tahun 2026. Dunia menantikan langkah selanjutnya dari para peneliti KAIST dan Stanford dalam mewujudkan teknologi ini menjadi produk yang siap pakai.
Implikasinya bagi industri sangat jelas: penghematan waktu yang dramatis dalam proses pemakaian pakaian pelindung dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan. Jika teknologi ini berhasil dikomersialkan, perusahaan-perusahaan di sektor semikonduktor dan manufaktur berteknologi tinggi akan menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Selain itu, pakaian robotik ini juga membuka peluang baru dalam bidang kesehatan dan rehabilitasi. Kemampuannya untuk menyesuaikan bentuk tubuh secara otomatis dapat dimanfaatkan untuk pasien dengan keterbatasan gerak atau mereka yang membutuhkan bantuan dalam mengenakan pakaian medis khusus.
Dari sisi keamanan, teknologi ini juga berpotensi digunakan oleh tim penyelamat dalam situasi darurat. Proses pemakaian yang cepat dan tanpa bantuan tangan sangat ideal untuk kondisi di mana setiap detik sangat berharga.
Penelitian ini merupakan contoh sempurna bagaimana kolaborasi internasional antara institusi terkemuka seperti KAIST dan Universitas Stanford dapat menghasilkan terobosan ilmiah yang berdampak luas. Dukungan dari IEEE, organisasi profesional teknik terbesar di dunia, juga menambah kredibilitas temuan ini.
Dengan segala keunggulan yang ditawarkan, pakaian robotik ini diprediksi akan menjadi salah satu topik hangat di dunia teknologi dalam beberapa bulan ke depan. Para pengamat industri dan calon pengguna tentu menantikan kabar selanjutnya mengenai perkembangan prototipe ini.




