JBNews.id — Elon Musk menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) miliknya, Grok Imagine, akan memproduksi film adaptasi The Odyssey yang diklaim lebih akurat secara historis dan lebih keren dibandingkan versi garapan sutradara Christopher Nolan. Musk menargetkan film tersebut rampung sebelum akhir tahun 2026.
Pernyataan itu disampaikan Musk melalui platform X yang juga ia miliki pada Kamis (23/7/2026). “Sebelum tahun ini berakhir, Grok Imagine akan membuat film panjang adaptasi The Odyssey yang akurat secara historis dan sesuai dengan karya seni Homer,” tulisnya. Klaim ini muncul setelah film Odyssey garapan Nolan resmi dirilis pada 15 Juli 2026 dan menuai kritik keras dari Musk.
Musk secara vokal mengecam film Nolan. Ia menilai karya tersebut tidak sesuai dengan kisah Yunani Kuno dan bukan merupakan seni murni. Kritik Musk bahkan merambah ranah ideologis. Seorang pengguna X berkomentar bahwa “Penghancuran Odyssey oleh Nolan dan kaum Kiri bukan hanya tentang sebuah film. Ini tentang Peradaban Barat. Bangsa Yunani adalah fondasinya. Dari Demokrasi hingga Seni hingga Filsafat hingga Budaya. Kaum Kiri ingin menghancurkan Peradaban Barat dan segala sesuatu yang membantu menciptakannya.” Musk pun merespons komentar tersebut dengan singkat: “Benar.”
Di tengah kontroversi, seorang netizen dengan akun martyanwyrdlord mengusulkan agar Musk memberikan dana sebesar US$ 100 juta kepada sutradara Mel Gibson untuk membuat adaptasi Odyssey yang akurat secara historis. Usulan itu mencakup penggunaan kapal, baju besi, senjata, dan pemeran yang sesuai dengan sejarah, serta dialog yang diambil langsung dari puisi asli Homer dalam bahasa Yunani Homerik.
Menanggapi usulan tersebut, seorang pengguna lain dengan akun heavypulp berkomentar, “Kita memiliki teknologinya.” Musk kemudian membalas dengan pernyataan tegas: “Grok Imagine Odyssey akan 🔥.” Pernyataan ini menegaskan ambisi Musk untuk mengandalkan AI miliknya ketimbang sutradara manusia dalam proyek film tersebut.
Ambisi Grok Imagine di Industri Film
Langkah Musk ini merupakan bagian dari ekspansi besar-besaran xAI, perusahaan AI miliknya, ke industri kreatif. Grok Imagine digadang sebagai model AI generatif yang mampu menghasilkan konten visual berkualitas tinggi, termasuk film panjang. Klaim Musk bahwa AI bisa menghasilkan film yang akurat secara historis menjadi ujian bagi kemampuan teknologi tersebut di tengah skeptisisme publik.
Film Odyssey garapan Christopher Nolan sendiri baru dirilis pada pertengahan Juli 2026. Meski sempat dihujat saat trailer perdananya dirilis, film tersebut kemudian dipuji sebagai salah satu karya terbaik Nolan. Namun, Musk dan sejumlah pihak menilai ada penyimpangan dari sumber asli epik Homer yang ditulis pada abad ke-8 SM.
Kontroversi ini mengingatkan pada kritik Musk sebelumnya terhadap industri Hollywood yang dianggap terlalu didominasi agenda politik. Dalam beberapa kesempatan, Musk menyebut bahwa film-film besar sering kali mengorbankan akurasi sejarah demi kepentingan narasi tertentu. Elon Musk Olok-olok Sam Altman usai OpenAI digugat Apple juga menunjukkan pola serupa, di mana Musk kerap mengkritik kompetitor di industri teknologi dan hiburan.
Baca Juga:
Dampak dan Implikasi bagi Industri
Jika realisasi Grok Imagine berhasil memproduksi film panjang, hal ini akan menjadi tonggak baru dalam industri perfilman. Penggunaan AI generatif untuk membuat film fitur secara penuh masih jarang terjadi, apalagi dengan klaim akurasi sejarah yang tinggi. Langkah ini berpotensi mengubah cara produksi film di Hollywood dan memberikan alternatif bagi sineas yang ingin menghindari campur tangan studio besar.
Di sisi lain, ambisi Musk ini juga menimbulkan pertanyaan serius. Grok Elon Musk sebelumnya pernah menjadi sorotan negatif karena menghasilkan ribuan gambar eksplisit anak di bawah umur. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan dan etika penggunaan AI generatif, terutama untuk konten berskala besar seperti film.
Bagi para penggemar The Odyssey dan epik Homer, perkembangan ini menarik untuk diikuti. Pertanyaannya, mampukah Grok Imagine memenuhi klaim Musk tentang akurasi historis dan kualitas sinematik yang dijanjikan? Atau justru sebaliknya, proyek ini akan menjadi bukti lain bahwa AI belum siap menggantikan kreativitas manusia dalam seni?
Satu hal yang pasti: persaingan antara Musk dan Nolan kini tidak hanya terjadi di ranah teknologi, tetapi juga di industri film. Bagi pembaca yang ingin memahami lebih dalam tentang dampak ekspansi AI terhadap lingkungan dan industri kreatif, Emisi Karbon Microsoft yang melonjak akibat ekspansi AI bisa menjadi gambaran tentang besarnya sumber daya yang dibutuhkan teknologi ini.




