JBNews.id — Sam Altman, CEO OpenAI, menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) telah mencapai titik singularitas. Pernyataan ini disampaikan dalam podcast Relentless baru-baru ini, memicu perdebatan di kalangan pakar teknologi.
Altman mengaku telah menunggu momen ini sepanjang hidupnya. Ia menilai singularitas akan berdampak sangat positif dan mengagumkan bagi dunia. Namun, pernyataan ini kontras dengan kekhawatiran sejumlah pihak yang menilai AI sudah terlalu sulit dikendalikan.
Singularitas merujuk pada titik hipotesis di masa depan ketika AI melampaui kecerdasan manusia dan mampu meningkatkan diri secara otonom. Konsep ini sebelumnya hanya muncul dalam film fiksi ilmiah seperti Transcendence (2014) dan Ex Machina (2015).
Produk andalan OpenAI, ChatGPT, kini memiliki lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan dan mendominasi pasar AI konsumen. Tahun lalu, Altman memprediksi AI akan melampaui kecerdasan manusia pada 2030. Kini, ia mengklaim waktu itu telah tiba lebih cepat.
Altman juga mengkritik para pemimpin AI lain yang memperingatkan potensi bahaya dari teknologi ini. “Saya akan memastikan hal itu dilawan dan tidak menjadi kenyataan,” tegasnya.
Bulan lalu, Anthropic—perusahaan di balik chatbot Claude—menyerukan penghentian sementara pengembangan sistem AI tingkat lanjut secara terkoordinasi. Mereka memperingatkan risiko manusia kehilangan kendali atas teknologi yang berkembang begitu cepat.
Pada 23 Juli, dua anggota Kongres Amerika Serikat memperkenalkan UU AI Kill Switch Act. RUU bipartisan ini mewajibkan pengembang AI di AS membangun ‘tombol pematian’ pada program mereka untuk memperlambat, menangguhkan, atau mematikan AI jika menimbulkan risiko.
Baca Juga:
Sean O hEigeartaigh, direktur eksekutif Cambridge University’s Centre for the Study of Existential Risk, tidak setuju dengan pernyataan Altman. “Berdasarkan definisi yang saya pahami, singularitas adalah titik hipotesis di mana AI begitu mumpuni dan maju sangat cepat sehingga mengubah peradaban dengan cara yang tidak dapat kita kendalikan atau prediksi. Kita belum sampai di sana,” jelasnya kepada Al Jazeera.
Pada Mei 2026, ilmuwan komputer Demis Hassabis menyatakan bahwa kita berada di ‘kaki bukit’ singularitas. hEigeartaigh lebih setuju dengan pandangan Hassabis. “Kita tentu mulai melihat terobosan mengesankan dalam matematika dan ilmu pengetahuan lain yang digerakkan AI, tugas seperti pemrograman mulai digerakkan AI dan kita melihat ancaman skala besar di bidang seperti keamanan siber,” katanya.
Pernyataan Altman ini memicu pertanyaan besar: apakah kita benar-benar telah memasuki era singularitas, atau ini sekadar klaim berlebihan dari seorang CEO perusahaan AI terdepan? Yang jelas, dampaknya terhadap industri dan regulasi AI global patut dicermati.
Untuk memahami lebih dalam soal klaim ini, baca analisis lengkapnya. Sementara itu, kontroversi seputar Altman dan OpenAI juga terus berlanjut, termasuk gugatan dari negara bagian Florida terkait keamanan ChatGPT.
Implikasinya bagi pembaca: pernyataan Altman menandakan bahwa perlombaan AI semakin intensif. Regulasi seperti UU AI Kill Switch Act menunjukkan bahwa pemerintah mulai mengambil langkah konkret. Bagi pengguna teknologi, ini saatnya untuk lebih kritis terhadap klaim-klaim besar dari perusahaan AI dan memahami risiko yang mungkin timbul.




