JBNews.id — Saham SpaceX anjlok lebih dari 28 persen dalam sebulan terakhir menyusul laporan pendapatan perdana perusahaan roket milik Elon Musk pekan ini. Harga saham yang sempat menyentuh rekor USD 225 pada pertengahan Juni kini berada di kisaran USD 114, jauh di bawah level tersebut.
Penurunan tajam ini terjadi meskipun perusahaan melaporkan pendapatan yang lebih tinggi dari ekspektasi. Namun, kabar positif tersebut tertutup oleh besarnya belanja perusahaan untuk kecerdasan buatan (AI) yang membuat investor kecewa. Saham SpaceX tercatat anjlok lebih dari sepuluh persen pada hari yang sama laporan keuangan dirilis.
Momen ini juga menjadi kali pertama para karyawan dan eksekutif SpaceX mendapat kesempatan mencairkan kepemilikan saham mereka. Total saham yang dapat diperdagangkan melonjak dari sekitar 639 juta menjadi 1,55 miliar lembar. Sebagian saham senilai lebih dari USD 100 miliar resmi terbuka untuk diperdagangkan.

Reuters melaporkan investor kini menghadapi “peluang yang tak tertahankan untuk mencairkan dana”. Robert Hackel, CEO firma pialang institusional R.F. Lafferty & Co, menyebut fenomena ini sebagai pembicaraan terhangat di industri.
“Ini harus menjadi lockup yang paling banyak dibicarakan dalam sejarah lockup IPO,” ujar Hackel kepada Reuters. “Anda akan melihat banyak orang keluar.”
Lockup Saham dan Tekanan Pasar
Lockup adalah periode di mana pemegang saham awal dilarang menjual sahamnya setelah perusahaan melantai di bursa. Ketika periode ini berakhir, para pemegang saham biasanya berbondong-bondong menjual sahamnya untuk merealisasikan keuntungan, yang kerap menekan harga saham.
Tekanan pada saham SpaceX juga berasal dari harga saat ini yang masih berada di bawah harga IPO sebesar USD 135. Kondisi ini membuat tambahan 455 juta saham tetap terkunci karena harga belum mencapai ambang batas tersebut. Para analis memperingatkan volatilitas lebih besar bisa terjadi jika harga saham berhasil naik kembali ke level itu.
Volatilitas saham SpaceX sempat melambungkan Elon Musk menjadi orang terkaya pertama di dunia dengan status triliuner. Namun, gelar tersebut langsung hilang setelah harga saham perusahaan roketnya jatuh kembali.
Visi Ambisius Musk dan Beban Utang
Di tengah tekanan pasar, Musk tetap teguh pada visi ambisiusnya untuk perusahaan. Dalam panggilan pendapatan pada Selasa, ia memaparkan rencana mulai dari pusat data orbital hingga armada robot humanoid yang akan memungkinkan manufaktur skala besar di permukaan Bulan.
Musk sendiri mengakui rencananya terdengar “benar-benar gila” dan “super fiksi ilmiah” saat ini, tetapi ia bersikeras “itu akan terjadi”. Namun, apakah investor terus percaya pada visinya masih menjadi pertanyaan besar.
Baca Juga:
Kesuksesan SpaceX tahun ini sebagian besar dibangun di atas euforia seputar AI. Perusahaan ini bergabung dengan startup AI milik Musk, xAI, yang mendatangkan banyak investor baru tetapi juga membebani perusahaan dengan utang tambahan miliaran dolar. Dominasi bisnis AI ini pun menjadi sorotan para pengamat.
Ambisi luar angkasa SpaceX hampir seluruhnya bergantung pada keberhasilan Starship, platform peluncuran super berat yang belum pernah menyelesaikan satu pun penerbangan dan pendaratan yang sukses. Sementara itu, pendapatan perusahaan sangat bergantung pada layanan internet satelit Starlink.
Meski ada kabar baik dari program Starlink, pendapatan rata-rata per pengguna justru turun pada kuartal terakhir. Hal ini semakin meresahkan investor yang sudah cemas dengan prospek profitabilitas perusahaan.
Jalan Menuju Profitabilitas
Secara singkat, jalan SpaceX menuju profitabilitas terkait erat dengan keyakinan bahwa mimpi fiksi ilmiah Musk dapat menjadi kenyataan dalam waktu yang cukup singkat. Jika tidak, seluruh struktur bisnis perusahaan berisiko runtuh.
“SpaceX ingin menceritakan kisah bahwa mereka adalah pemimpin pasar,” kata Steve Westly, pendiri The Westly Group, kepada CNBC. “Tetapi orang-orang masih memiliki pertanyaan-pertanyaan ini: seberapa cepat mereka bisa tumbuh? Seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan sebelum mencapai profitabilitas?”
Data menunjukkan pendapatan AI tumbuh signifikan, namun hal itu belum cukup meyakinkan investor. Sementara itu, masalah hukum juga membayangi perusahaan. Sebuah gugatan kontraktor atas utang senilai lebih dari Rp136 miliar menambah daftar tantangan yang dihadapi perusahaan.
Bagi investor, pertanyaan kuncinya bukan hanya apakah SpaceX bisa mempertahankan pertumbuhan pendapatan, tetapi apakah perusahaan bisa mengendalikan biaya sebelum kehabisan dana. Dengan tekanan dari belanja AI, utang tambahan, dan ketidakpastian teknis Starship, prospek jangka pendek perusahaan masih diselimuti ketidakpastian.
Penurunan harga saham juga berdampak pada persepsi pasar terhadap valuasi perusahaan. Dengan harga saat ini yang masih di bawah harga IPO, banyak pemegang saham memilih menunggu daripada menjual dengan kerugian. Namun, jika harga tidak segera pulih, tekanan jual bisa semakin besar.
Musk sendiri tampaknya tidak goyah. Ia terus mempromosikan visi jangka panjangnya, termasuk rencana membangun jaringan seluler yang akan bersaing dengan operator besar seperti T-Mobile, AT&T, dan Verizon. Diversifikasi bisnis ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada pendapatan Starlink yang rata-rata pendapatan per penggunanya menurun.
Di sisi lain, kegagalan teknis juga menjadi sorotan. Insiden roket yang menabrak Bulan baru-baru ini menunjukkan bahwa risiko teknis masih menjadi momok bagi perusahaan. Setiap kegagalan peluncuran tidak hanya merugikan secara finansial tetapi juga menggerus kepercayaan investor terhadap kemampuan teknis perusahaan.
Dengan semua tekanan ini, masa depan SpaceX dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk menunjukkan kemajuan nyata dalam program Starship dan mengendalikan belanja AI yang membengkak. Investor menunggu bukti, bukan sekadar janji.




