JBNews.id — Partner Andreessen Horowitz, Justine Moore, memicu kontroversi setelah memuji kemampuan alat AI generatif Flux 3 dari Black Forest Labs dalam menciptakan rekaman sejarah palsu yang meyakinkan. Dalam unggahan di platform X pada 28 Juli 2026, Moore membagikan klip berdurasi 20 detik yang menampilkan “siswa sekolah dasar era 90-an memprediksi cara kita menggunakan komputer” — sebuah konten yang sepenuhnya dibuat oleh kecerdasan buatan.
Klip tersebut, yang diproduksi menggunakan model Flux 3 yang diluncurkan pada akhir Juli, menampilkan anak-anak fiktif yang dengan lugu meramalkan kemajuan teknologi. “Mereka mungkin akan mengerjakan PR kita,” ujar salah satu anak dalam video. “Mungkin mereka akan membuat film untuk kita,” tambah anak fiktif lainnya — sebuah pernyataan yang secara ironis mencerminkan ambisi eksekutif Hollywood untuk mengubah industri hiburan menjadi pabrik konten.
Moore menyebut alat tersebut “luar biasa dalam menghasilkan rekaman historis” dan menambahkan komentar pribadinya: “(gadis terakhir adalah favoritku!)” Unggahan ini mendapat beragam reaksi, mulai dari pujian dari kalangan venture capital hingga kecaman keras dari warganet yang khawatir akan dampak teknologi ini terhadap integritas informasi sejarah.
Kekhawatiran Distorsi Sejarah dan Disinformasi
Meskipun klip tersebut bukanlah penyimpangan besar dari prediksi aktual yang berasal dari tahun 1980-an, seperti yang dicatat Gizmodo, antusiasme Moore menyoroti pengabaian berbahaya terhadap proliferasi catatan sejarah palsu yang tampak meyakinkan. Fenomena ini disebut-sebut sebagai versi teknologi yang lebih canggih dari cara otoritas dalam novel George Orwell “1984” terus-menerus mengubah koran dan catatan masa lalu demi kepentingan penguasa.

Di balik komentar-komentar pujian dari akun-akun yang terafiliasi venture capital, banyak netizen menyuarakan keprihatinan mereka. “Ini jahat,” tulis salah satu akun. “AI akan mendistorsi sejarah dan realitas melampaui pemahaman.” “Ini mimpi buruk, risiko besar misinformasi dan kontrol narasi,” tambah akun lain. “Bertepuk tangan seperti anjing laut sementara teknologi yang jelas akan digunakan untuk menipu publik diluncurkan,” tulis netizen lainnya.
Para ahli telah lama memperingatkan bahwa AI memenuhi internet dengan propaganda yang mudah dihasilkan. Rezim otoriter sudah menggunakan teknologi ini untuk menyebarkan disinformasi dan mengonsolidasikan kekuasaan. Pada 2024, OpenAI mengakui bahwa pihaknya harus melakukan intervensi setelah menemukan kampanye disinformasi yang menggunakan teknologinya dan berasal dari Rusia, China, Israel, dan Iran.
Baca Juga:
Pembelaan Moore atas Kemampuan AI
Meskipun ada risiko nyata dalam memfasilitasi pembuatan propaganda berbahaya, Moore justru menggandakan pendiriannya. “Ini adalah model yang sangat menyenangkan dan kreatif yang dapat melakukan berbagai hal yang sangat mengesankan,” katanya dalam unggahan tindak lanjut. Bersamaan dengan pengumuman rilis Flux 3, ia membagikan klip bergaya 90-an yang menampilkan dua pembawa acara CNN fiktif yang menginformasikan publik tentang berita.
“Hari ini para peneliti mendemonstrasikan AI yang dapat menghasilkan video meyakinkan dari teks,” kata salah satu pembawa acara dalam video tersebut. “Siapa yang akan percaya itu?” jawab rekan pembawa acaranya — sebuah ironi yang gamblang mengingat konteks penyebaran konten sintetis yang semakin masif.
Perkembangan ini menambah deretan kekhawatiran yang lebih luas tentang arah industri AI. Sebelumnya, resistensi data center AI yang menguat juga menjadi sorotan, seiring meningkatnya kekhawatiran publik tentang dampak infrastruktur AI terhadap lingkungan dan masyarakat. Sementara itu, AI China yang menyamai AS juga mulai memicu kepanikan di kalangan perusahaan Amerika, menunjukkan betapa cepatnya lanskap kompetitif teknologi ini berubah.
Ketegangan antara inovasi dan etika ini bukanlah hal baru dalam ekosistem AI. Karyawan OpenAI yang berdonasi ke PAC pro-regulasi mencerminkan adanya kesadaran internal di perusahaan-perusahaan AI terbesar tentang perlunya pengawasan. Namun, insiden yang melibatkan Moore menunjukkan bahwa sebagian pemangku kepentingan industri masih memprioritaskan kemampuan teknis di atas pertimbangan dampak sosial.
Fenomena ini juga berpotensi memengaruhi dinamika investasi di sektor teknologi. Kekhawatiran investor soal gelombang jual saham SpaceX menunjukkan bahwa pasar mulai lebih kritis terhadap narasi optimistis yang berlebihan dari para pemimpin industri teknologi.
Implikasinya jelas: ketika alat seperti Flux 3 membuat produksi rekaman sejarah palsu semudah mengetik teks, batas antara fakta dan fiksi menjadi semakin kabur. Bagi publik, ini berarti kewaspadaan yang lebih tinggi diperlukan saat mengonsumsi konten visual di media sosial. Bagi pembuat kebijakan, ini menegaskan urgensi regulasi yang lebih ketat terhadap teknologi AI generatif.
Seperti yang ditunjukkan oleh reaksi netizen terhadap unggahan Moore, kesadaran publik tentang bahaya AI generatif semakin meningkat. Pertanyaannya sekarang adalah apakah para pemimpin industri akan mendengarkan kekhawatiran tersebut sebelum teknologi ini digunakan untuk tujuan yang jauh lebih merusak daripada sekadar membuat video nostalgia palsu.




