JBNews.id — Harga saham SpaceX mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin (22/6/2026), anjlok lebih dari 13 persen ke level USD 158 per saham. Ini merupakan kerugian satu hari terbesar sejak perusahaan milik Elon Musk melantai di bursa efek Amerika Serikat awal bulan ini.
Penurunan tersebut membawa valuasi SpaceX mendekati titik terendah sejak debutnya. Dari harga tertinggi sepanjang masa di USD 225 pada 16 Juni, saham kini hanya berjarak tipis dari harga pembukaan IPO di USD 150. Dengan valuasi perusahaan yang mencapai triliunan dolar, kerugian ini setara dengan hilangnya lebih dari USD 200 miliar kapitalisasi pasar—atau sekitar Rp3.200 triliun dalam sepekan.
Angka tersebut melampaui kerugian yang tercatat saat saham SpaceX anjlok pada pekan sebelumnya, menunjukkan tekanan jual yang semakin intensif di kalangan investor ritel.
Baca Juga:
Kesepakatan AI Senilai USD 6,3 Miliar Tak Cukup
Kabar positif dari lini bisnis baru pun tak mampu membendung aksi jual. SpaceX baru saja mengumumkan kerja sama dengan startup AI open-source, Reflection, yang diperkirakan bernilai sekitar USD 6,3 miliar. Namun, kesepakatan tersebut gagal menjaga antusiasme investor yang mulai mempertanyakan model bisnis raksasa antariksa dan kecerdasan buatan ini.
Para pembeli saham ritel mulai mengajukan pertanyaan sulit mengenai prospek jangka panjang perusahaan, terutama setelah lonjakan harga yang spektakuler pasca-IPO. IPO SpaceX mencetak triliuner baru dan sejumlah miliarder di jajarannya, namun volatilitas harga kini menjadi kekhawatiran utama.
Faktor Fundamental yang Membayangi
Dalam dokumen yang diajukan ke Securities and Exchange Commission (SEC) menjelang IPO, SpaceX telah memperingatkan investor mengenai sejumlah risiko yang dapat menyebabkan volatilitas harga saham. Pertama, perusahaan masih membakar miliaran dolar kas setiap kuartal, sementara jalur menuju profitabilitas masih belum jelas.
Kedua, rekam jejak Elon Musk dalam memenuhi janji-janjinya dinilai tidak konsisten. Hal ini menjadi risiko serius mengingat rencana ambisius Musk untuk membangun konstelasi pusat data raksasa di luar angkasa. Para ahli telah mempertanyakan kelayakan finansial dan fisik dari proyek tersebut.
“Membeli saham SpaceX adalah bentuk kepercayaan pada Elon Musk, bukan keputusan berdasarkan fundamental bisnis,” demikian analisis yang muncul di kalangan investor. Persepsi pasar terhadap Musk yang fluktuatif menjadi faktor utama di balik pergerakan harga saham yang liar.

Modal Besar Jadi Bantalan
Meskipun harga saham tertekan, SpaceX diperkirakan tidak akan menghadapi krisis jangka pendek. Perusahaan mengungkapkan bahwa mereka masih memiliki kas lebih dari USD 100 miliar, memberikan ruang gerak yang cukup untuk membayar utang jangka pendek dan menjalankan operasional.
Dengan cadangan kas yang besar itu, SpaceX masih memiliki fleksibilitas untuk menavigasi periode volatilitas tanpa harus melakukan aksi korporasi yang mendesak. Namun, kepercayaan investor jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan Musk untuk membuktikan bahwa valuasi triliunan dolar tersebut dapat dipertahankan dengan kinerja bisnis yang nyata.
Bagi investor ritel yang membeli di harga puncak, penurunan ini menjadi pengingat keras bahwa saham dengan valuasi astronomis membawa risiko yang sebanding. Pertanyaan besarnya kini: akankah SpaceX mampu membalikkan sentimen pasar, atau tren penurunan ini akan berlanjut?




