Saat ISS Pensiun, Tiangong China Kuasai Orbit Bumi

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi stasiun luar angkasa China Tiangong di orbit Bumi dengan latar planet biru
  • ISS ditargetkan pensiun pada 2030, membuka peluang Tiangong China jadi satu-satunya stasiun berawak
  • Wolf Amendment 2011 memicu China membangun stasiun antariksa sendiri secara mandiri
  • Tiangong berukuran sepertiga ISS, dioperasikan oleh China Manned Space Agency (CMSA)
  • Stasiun komersial AS masih dalam tahap pembangunan, berpotensi mengalami keterlambatan
  • Tiangong terbuka bagi riset internasional melalui UNOOSA, sudah melibatkan belasan negara
  • Pergeseran kekuatan antariksa dari AS-Rusia ke China sebagai pemain utama

JBNews.id β€” Jika International Space Station (ISS) benar-benar dipensiunkan pada 2030 dan stasiun luar angkasa komersial belum siap beroperasi, stasiun antariksa Tiangong milik China berpotensi menjadi satu-satunya laboratorium berawak permanen di orbit Bumi. Skenario ini mengubah peta kekuatan eksplorasi antariksa global.

Situasi ini bukan terjadi secara kebetulan. Semuanya berawal lebih dari satu dekade lalu, ketika Amerika Serikat mengesahkan Wolf Amendment pada 2011. Aturan tersebut membatasi kerja sama bilateral antara NASA dan pemerintah China, sehingga praktis menutup peluang China untuk bergabung dalam program ISS.

Akibatnya, China memilih mengembangkan jalannya sendiri. Alih-alih bergabung dengan ISS, Negeri Tirai Bambu membangun program antariksa berawak secara mandiri yang berpuncak pada peluncuran stasiun antariksa Tiangong. Stasiun modular itu mulai beroperasi pada 2021 dan kini menjadi salah satu dari hanya dua stasiun luar angkasa yang dihuni manusia secara permanen.

China memang bukan mitra ISS sejak awal, bahkan sebelum Wolf Amendment diberlakukan. Namun, undang-undang tersebut membuat kerja sama langsung antara NASA dan badan antariksa China menjadi jauh lebih sulit secara hukum maupun politik.

β€œChina tidak pernah menjadi mitra ISS, dan keberatan Amerika Serikat terhadap keterlibatan China sudah muncul sebelum 2011. Namun Wolf Amendment memperkeras pemisahan yang sebelumnya memang sudah mulai terbentuk,” demikian menurut laporan yang dikutip dari SpaceDaily.

Baca Juga:

Dengan kata lain, Wolf Amendment bukan satu-satunya alasan lahirnya Tiangong, tetapi menjadi faktor penting yang mempercepat keputusan China membangun stasiun antariksa sendiri.

Saat ini, ISS masih jauh lebih besar dibanding Tiangong dan melibatkan lima badan antariksa utama, yakni NASA, Roscosmos, ESA, JAXA, dan Canadian Space Agency. Sebaliknya, Tiangong dioperasikan oleh China Manned Space Agency (CMSA) dan memiliki ukuran sekitar sepertiga ISS.

Namun, garis waktu kedua program mulai bersinggungan. NASA menargetkan ISS pensiun sekitar 2030. Di sisi lain, beberapa perusahaan swasta di Amerika Serikat memang tengah mengembangkan stasiun luar angkasa komersial sebagai penerus ISS, tetapi sebagian besar masih berada dalam tahap pembangunan. Jika proyek-proyek tersebut mengalami keterlambatan, Tiangong berpotensi menjadi satu-satunya stasiun antariksa yang dihuni manusia untuk sementara waktu.

Meski begitu, para analis menekankan bahwa skenario ini belum tentu terjadi, melainkan bergantung pada kesiapan stasiun komersial pengganti ISS.

Meski dibangun dan dikelola China, Tiangong tidak sepenuhnya tertutup bagi dunia internasional. Menurut United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA), stasiun ini telah membuka peluang bagi eksperimen ilmiah dari berbagai negara. Hingga kini, penelitian dari lebih dari belasan negara telah dipilih untuk dilakukan di Tiangong, termasuk dari Eropa, Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa persaingan antariksa kini memasuki babak baru. Jika pada era Perang Dingin kompetisi didominasi Amerika Serikat dan Uni Soviet, kini peta kekuatan mulai bergeser dengan munculnya China sebagai pemain utama.

Warga Eropa dan berbagai negara lain kini menyaksikan perubahan lanskap geopolitik di luar angkasa. Apabila ISS benar-benar dipensiunkan sesuai jadwal dan stasiun komersial belum siap mengambil alih, Tiangong bukan hanya akan menjadi laboratorium antariksa terbesar yang masih aktif, tetapi juga simbol perubahan keseimbangan kekuatan dalam eksplorasi luar angkasa.

Implikasinya bagi dunia: ketergantungan pada satu negara untuk akses orbit Bumi berawak dapat mengubah dinamika riset ilmiah dan kerja sama internasional. Prancis Terbelah dalam menyikapi isu lingkungan, namun di luar angkasa, persaingan teknologi semakin nyata.

Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Akses ke riset antariksa mungkin akan bergantung pada diplomasi dan kerja sama bilateral dengan China jika Tiangong menjadi satu-satunya stasiun berawak yang beroperasi.