Roket SpaceX Falcon 9 Tabrak Bulan Hari Ini, Ini Dampaknya

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi roket Falcon 9 SpaceX menabrak permukaan Bulan dekat Kawah Einstein
  • Roket Falcon 9 SpaceX tabrak Bulan 5 Agustus 2026 pukul 06.34 UTC
  • Roket seberat 4 metrik ton, kecepatan 5.400 mph (7x kecepatan suara)
  • Ledakan setara 3 metrik ton TNT, kawah hingga 27 meter diameter
  • Tabrakan terjadi dekat Kawah Einstein, terlihat dari Amerika dengan teleskop
  • Bukan pertama kali: Long March 3C China juga tabrak Bulan Maret 2022
  • Bill Gray (Project Pluto) pertama hitung lintasan tabrakan
  • Studi pracetak: peluang uji deteksi seismik dan bahaya puing antariksa
  • Benjamin Fernando (Los Alamos) serukan pemahaman risiko infrastruktur bulan
  • Misi NASA Artemis dan pangkalan China berpotensi terdampak puing

JBNews.id — Tahap atas roket Falcon 9 milik SpaceX diperkirakan menabrak permukaan Bulan pada Rabu (5/8/2026) sekitar pukul 06.34 UTC. Roket seberat 4 metrik ton ini akan menghantam Bulan dengan kecepatan sekitar 5.400 mph, atau tujuh kali kecepatan suara, meninggalkan kawah berdiameter hingga 27 meter dan kedalaman 5 meter.

Roket tersebut merupakan tahap atas Falcon 9 yang sebelumnya mengangkut sepasang pendarat bulan. Meski pendarat berhasil mencapai permukaan, roket ini terlantar di luar angkasa karena tidak memiliki cukup bahan bakar untuk kembali ke Bumi atau memasuki orbit yang stabil. Tanpa atmosfer yang memperlambat proyektil, dampak tabrakan diperkirakan menghasilkan ledakan setara 3 metrik ton TNT.

Tabrakan ini diprediksi terjadi di dekat Kawah Einstein di tepi barat sisi dekat Bulan. Wilayah Amerika akan memiliki pandangan terbaik terhadap dampak tabrakan ini. Meski tidak terlihat dengan mata telanjang, pengamat dapat melihat gumpalan puing melalui teleskop berkualitas selama beberapa menit.

Risiko Misi Bulan Mendatang

Peristiwa kecelakaan luar angkasa ini memunculkan kekhawatiran tentang masa depan Bulan. Beberapa negara sedang merencanakan misi bulan tanpa awak, yang berpotensi memenuhi area sekitar Bulan dengan puing-puing antariksa. Ini bukan pertama kalinya roket secara tidak sengaja menabrak Bulan—pada Maret 2022, roket Long March 3C milik China juga menabrak permukaan Bulan dan meninggalkan kawah selebar 29 meter.

Bill Gray, pencipta inisiatif Project Pluto yang mengembangkan perangkat lunak dan alat untuk melacak orbit asteroid, komet, dan satelit buatan, adalah orang pertama yang menghitung lintasan tabrakan Falcon 9 ini. Ia juga menjadi bagian dari tim yang mengerjakan studi pracetak yang dirilis bulan lalu mengenai tabrakan tersebut.

Studi tersebut menyatakan bahwa pendaratan kecelakaan ini merupakan “kesempatan untuk menguji jalur pengukuran sifat kilatan untuk menemukan peristiwa dampak secara seismik, dan untuk lebih memahami bahaya multi-modal yang ditimbulkan terhadap infrastruktur bulan masa depan dan astronot dari puing-puing antariksa yang menghantam Bulan.”

China dan Amerika Serikat juga mendorong pembangunan pangkalan di permukaan Bulan dalam beberapa dekade mendatang. Meski membangun pusat penelitian bulan yang mampu mendukung kehadiran manusia secara berkelanjutan akan memakan waktu setidaknya satu dekade, misi NASA untuk membangun fasilitas pertama diharapkan diluncurkan dalam beberapa tahun mendatang sebagai bagian dari program Artemis.

Bahaya Puing Antariksa

Benjamin Fernando, peneliti di Los Alamos National Laboratory di New Mexico dan rekan penulis studi pracetak tersebut, mengatakan kepada ABC News: “Hal-hal semacam ini akan terjadi semakin sering. Dan karena kita memiliki lebih banyak astronot di permukaan bulan, lebih banyak infrastruktur bulan seperti habitat, kita perlu memahami seberapa besar risiko yang ditimbulkan oleh peristiwa dampak ini.”

Risiko yang ditimbulkan oleh puing-puing antariksa adalah bagian dari daftar bahaya yang semakin bertambah yang meragukan keamanan proyek jangka panjang di Bulan. Selain potensi sampah antariksa yang merusak permukaan bulan, peristiwa alam seperti hantaman meteorit juga mengancam aktivitas masa depan.

“Ini adalah cara yang ideal untuk mempelajari risiko langsung, risiko tertabrak puing atau dibutakan oleh kilatan cahaya, tetapi juga risiko tidak langsung, risiko tertabrak awan material yang terlempar dan menyebabkan gangguan atau mengganggu fungsi pesawat ruang angkasa di orbit bulan,” kata Fernando.

Meski demikian, dengan potensi pangkalan bulan yang masih berjarak satu dekade atau lebih, para peneliti memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari bahaya ini dan merencanakan antisipasinya. Kapitalisasi pasar dan operasional SpaceX tetap menjadi sorotan publik, terutama setelah kerja sama strategis perusahaan dengan Pentagon. Sementara itu, uji terbang Starship yang gagal sebelumnya juga memengaruhi sentimen investor terhadap perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut.

Tabrakan ini menjadi pengingat bahwa eksplorasi luar angkasa membawa risiko signifikan yang perlu dikelola dengan hati-hati. Data dari peristiwa ini akan menjadi bahan berharga bagi para ilmuwan untuk memahami dampak puing antariksa terhadap infrastruktur bulan di masa depan.