Kontroversi AI: Lagu “Rubberz” Fenix Flexin Terdeteksi Buatan Mesin

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Fenix Flexin rapper yang lagunya Rubberz terdeteksi dibuat dengan AI Treblo
  • Lagu "Rubberz" Fenix Flexin dirilis 5 Juni, posisi 58 Billboard, 7 juta views
  • Produser Medasin membongkar dugaan penggunaan aplikasi Treblo (sebelumnya Sonauto)
  • Treblo merilis detektor yang menandai "Rubberz" sebagai "Very likely Treblo"
  • Tyga juga terdeteksi menggunakan Treblo untuk proyek $TARFACE
  • Fenix membantah tuduhan, sempat unggah file proyek tapi dihapus tanpa klarifikasi
  • Treblo klaim false positive di bawah 1:10.000, kode sumber open source
  • Muncul tren platform deteksi AI: LinkedIn, Substack, Tidal, dan RUU AI Labeling Act

JBNews.id — Lagu “Rubberz” milik Fenix Flexin resmi dirilis pada 5 Juni 2026 dan langsung menempati posisi No. 58 di Billboard Hot 100 dengan video musik yang telah ditonton 7 juta kali. Namun, di balik kesuksesan tersebut, lagu bergenre synth-pop bernuansa era 80-an ini menjadi pusat kontroversi besar: dituduh sepenuhnya atau sebagian dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Tuduhan tersebut akhirnya mendapat “jawaban” setelah pengembang aplikasi AI musik Treblo merilis detektor bawaan yang menandai lagu tersebut sebagai “Very likely Treblo”.

Kontroversi ini bermula dari kecurigaan para penggemar sejak awal perilisan. “Rubberz” bukan hanya perpindahan genre yang tidak biasa bagi Fenix Flexin, yang dikenal sebagai anggota grup Shoreline Mafia dengan ciri khas suara sengau dan hidung tersumbat, tetapi juga vokal dalam lagu tersebut terdengar sangat berbeda. Suaranya lebih terang, lebih jernih, dan aksennya lebih mirip Morrissey yang ceria. Fenix dan produser yang dikreditkan, Purps on the Beat, berulang kali membantah menggunakan AI. Fenix bahkan mengklaim liriknya di-“freestyle” dan menyebut perbedaannya hanya karena auto-tune, reverb, dan aksen Inggris palsu.

Produser Musik Medasin Membongkar Dugaan Penggunaan Treblo

Perdebatan yang sempat mereda ini kembali memanas pada Kamis pekan lalu. Seorang produser musik bernama Medasin mengunggah video yang mengklaim telah menemukan bagaimana Fenix menggunakan AI. Berbeda dengan dugaan banyak orang yang mengarah ke Suno atau Udio, Medasin menyebut Fenix menggunakan aplikasi bernama Treblo, yang sebelumnya dikenal sebagai Sonauto hingga dua hari sebelum “Rubberz” dirilis. Medasin menunjukkan bukti berupa tangkapan layar Instagram Story lama Fenix yang memperlihatkan nama file dengan akhiran “Sonauto.mp3”.

Argumen Medasin semakin kuat ketika ia mendemonstrasikan bagaimana Treblo dapat menghasilkan lagu yang sangat mirip. Dengan menggunakan tag seperti “80s synthwave” dan prompt lirik tentang “gaya hidup rapper”, Medasin mendapatkan hasil yang memiliki kemiripan lirik yang mencolok. Contohnya, prompt tersebut menghasilkan lirik “Diamond chains hanging heavy”, sementara “Rubberz” memiliki “Now I bought a heavy diamond chain”. Kedua lagu juga sama-sama menyebut “pockets thick” dan “plastic smiles”. “Terlalu banyak kebetulan. Mustahil secara matematis dia tidak menggunakan Treblo,” ujar Medasin dalam wawancara dengan WIRED.

Percobaan yang dilakukan WIRED juga menghasilkan temuan serupa. Dengan menggabungkan tag “80s synthwave” dan prompt lirik rap, WIRED menghasilkan lagu dengan lirik “Rings on every finger / Leather seats and cedar scent linger” yang hampir merupakan cerminan dari baris “Rubberz”: “Gold rings on my fingers / Still your perfume lingers”. Mesin Treblo tampaknya terobsesi dengan pasangan rima “finger/linger”, topik cincin, gelas, dan saku, serta konstruksi lagu dengan transisi tematik dari malam ke siang.

Menanggapi tuduhan tersebut, Fenix sempat mengunggah video di Instagram yang diklaim sebagai file proyek asli “Rubberz”. Namun, para produser musik langsung meragukan keasliannya, menuding file tersebut hanya hasil “stem separator” yang mengekstrak lagu utuh menjadi komponen dasar seperti bass dan drum. Beberapa jam kemudian, Fenix menghapus unggahan tersebut tanpa memberikan klarifikasi. Baik Fenix maupun Purps on the Beat tidak menanggapi permintaan komentar dari WIRED.

Tyga Juga Terdeteksi Menggunakan Treblo

Dua hari kemudian, pada Sabtu, Medasin kembali merilis video yang menuduh Tyga, rekan satu label Fenix, juga menggunakan Treblo untuk proyek terbarunya $TARFACE. Medasin menunjukkan koneksi antara Tyga dan Fenix, serta menjalankan lagu Tyga melalui detektor AI yang sedang dikembangkan temannya, yang menandainya sebagai AI. Konfirmasi paling kuat datang langsung dari Treblo. “Seseorang tampaknya menggunakan model kami untuk menemukan suara yang terhubung dengan jutaan orang, dan itu menarik,” ujar salah satu pendiri Treblo, Ryan Tremblay. Perusahaan mengaku tidak menyadari keberadaan “Rubberz” hingga lagu tersebut masuk Hot 100.

Puncaknya terjadi pada Minggu malam, ketika Treblo menerbitkan halaman berjudul “Was This Made With Treblo?”—sebuah detektor musik yang diklaim “disetel untuk mendeteksi lagu yang dibuat dengan Treblo dengan sedikit atau tanpa modifikasi”. Hasilnya, “Rubberz” terdeteksi sebagai “Very likely Treblo”, sementara lagu Tyga yang dirilis awal Juli terdeteksi “Likely Treblo”. Treblo mengklaim tingkat false positive di bawah 1 banding 10.000, dan telah merilis kode sumbernya secara open source untuk audit independen.

Lanskap AI dan Musik di Tengah Regulasi Global

Kontroversi ini terjadi di tengah tren platform digital yang mulai memberikan perhatian pada konten AI. LinkedIn meluncurkan fitur tombol “seems like AI”, Substack merilis fitur deteksi newsletter AI, Tidal memblokir monetisasi musik AI, dan Spotify memiliki pelacak crowdsourced untuk konten AI. Di Amerika Serikat, RUU AI Labeling Act diusulkan di Senat untuk mewajibkan platform memberi label pada konten buatan AI. Fenomena ini juga sejalan dengan dinamika industri musik digital, termasuk perubahan harga layanan streaming seperti yang terjadi pada Apple Music yang menaikkan harga dan langkah Winamp yang kembali bersaing di pasar streaming.

Medasin, yang mengaku menyukai lagu tersebut dan sempat terngiang-ngiang selama sebulan, menegaskan motivasinya bukan kebencian pada AI. “Ini adalah momen kritis dalam sejarah musik,” ujarnya. “Saya memiliki rasa hormat yang sangat dalam terhadap perjalanan musisi dan pengalaman manusia yang dirayakan dalam musik.” Ia mengecam mereka yang menipu pendengar demi keuntungan, menyebutnya tidak etis secara spiritual. Namun, ia juga mengakui bahwa AI bisa punya tempat di industri musik, asalkan para artis jujur agar pendengar bisa memutuskan sendiri.

Komentar di video Medasin menunjukkan banyak pendengar yang tetap menyukai “Rubberz” dan tidak peduli bahwa lagu tersebut dibuat AI. Sebagian bahkan menganggap AI adalah masa depan dan menuduh Medasin iri. Pertanyaan yang kini menggantung bukan lagi apakah lagu tersebut dibuat AI, melainkan seberapa besar hal itu penting bagi para penggemar. Sementara itu, perkembangan teknologi AI di industri kreatif terus berlanjut, seiring dengan pembaruan sistem operasi dan aplikasi digital yang juga merambah berbagai aspek kehidupan, termasuk rombakan aplikasi Apple di iOS 27 dan strategi bundling YouTube Premium.

Implikasinya bagi industri musik sangat luas. Jika dugaan ini benar, maka artis besar sekalipun dapat menggunakan AI untuk menghasilkan lagu hit tanpa mengungkapkannya kepada publik. Hal ini menuntut transparansi yang lebih besar dan alat deteksi yang lebih baik. Treblo telah mengambil langkah awal dengan merilis detektornya secara open source, namun efektivitasnya masih menunggu kajian independen. Bagi pendengar, keputusan akhir tetap ada di tangan mereka: apakah musik yang baik tetap baik meskipun dibuat oleh mesin?